Bukan untuk Ditakuti, Tapi Dipahami: Lebih Kenal dengan Dunia Autisme di Festival Peduli Autisme 2026
Moms and Dads, sadar nggak sih, kalau belakangan ini kita makin sering mendengar tentang autisme? Data WHO (World Health Organization) ternyata menunjukkan kalau 1 dari 127 orang di dunia, berada dalam spektrum autisme.
Tapi sayangnya, di Indonesia sendiri tantangan terbesarnya bukan cuma soal diagnosis, melainkan lingkungan kita yang terkadang belum siap dan minim info yang benar. Akhirnya, banyak orangtua dengan anak autistik yang merasa "berjuang sendirian" karena takut akan stigma masyarakat.
Nah, berangkat dari kegelisahan itu, Peduli ASD (Autisme atau Autism Spectrum Disorder) baru saja mengadakan Festival Peduli Autisme 2026 di Pesona Square, Depok pada Sabtu, 04 April 2026. Bertepatan dengan World Autism Awareness Day yang jatuh pada tanggal 2 April. Mengusung tema “Bangga Membersamai Autistik: Dari Rumah, ke Sekolah, hingga Masyarakat,” festival ini menjadi ruang edukasi publik berbasis sains yang mendorong kolaborasi lintas sektor untuk membangun pemahaman yang lebih utuh sekaligus menciptakan ekosistem yang lebih inklusif di Indonesia. Intinya, kita diajak untuk belajar dari sisi sains tapi dengan cara yang tetap menyentuh hati.
Tidak harus berjuang sendiri lagi, Founder Peduli ASD, Dr. Isti Anindya, S.Si., M.Sc., bercerita kalau banyak sekali keluarga yang merasa bersalah atau bingung mencari info yang valid. "Lewat festival ini, kita mau buka ruang belajar agar masyarakat paham kalau autisme itu bukan sesuatu yang harus ditakuti, tapi dipahami," tuturnya. "Karena kalau rumah, sekolah, dan lingkungan kita sudah kompak, anak-anak autistik pasti bisa tumbuh dengan jauh lebih optimal," tandas Dr. Isti.
Pentingnya Support System dan Paham Sains
Mungkin Moms and Dads belum tahu, hampir 40% individu dengan autisme itu susah punya teman dekat karena cara mereka memproses komunikasi memang berbeda. dr. Arifianto, Sp.A(K), Ketua IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) Jakarta Timur, juga mengingatkan pentingnya intervensi dini. dr. Arifianto mengatakan, jika lingkungan paham cara menghadapi anak-anak autis, potensi anak-anak ini justru bisa keluar maksimal.
“Tantangan terbesar bukan hanya pada anak, tetapi pada bagaimana lingkungan memahami mereka. Intervensi yang dilakukan sejak dini dapat memberikan dampak signifikan terhadap kualitas hidup individu autistik. Dengan pemahaman medis yang tepat, kita tidak hanya berfokus pada keterbatasan, tetapi juga dapat mengoptimalkan potensi individu autistik melalui pendekatan yang terstruktur dan berkelanjutan. Maka dari itu, ruang berbagi seperti ini penting agar orangtua tidak merasa sendiri dan mendapatkan pemahaman yang tepat dalam mendampingi anak,” ujar dr. Arifianto pada saat sesi talkshow bertema “Ruang Cerita dan Realita Autisme”.
Nah, bicara soal sains, Science Communicator dan Molecular Biologist, Riza Arief Putranto, PhD, DEA, yang hadir sebagai pembicara talkshow membahas “Autisme dan Sains”, menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains dalam memahami autisme secara lebih utuh.
“Autisme bukan sekadar diagnosis, melainkan variasi dalam cara otak bekerja terutama secara biologis. Ketika kita memahami bagaimana individu autistik memproses informasi, maka cara kita berinteraksi pun akan berubah menjadi lebih tepat, lebih empatik, dan lebih inklusif. Pemahaman yang tepat penting untuk bisa membangun interaksi yang lebih relevan dan mendukung kualitas hidup individu autistik,” jelasnya.
Riza menjelaskan kalau autisme itu sebenarnya variasi cara otak bekerja secara biologis. Jadi, kalau kita paham "cara kerja" mereka, kita bakal lebih empati dan nggak gampang menghakimi.
Pengalaman Seru di Festival Peduli Autisme 2026
Di acara Festival Peduli Autisme 2026 ini tidak hanya diskusi serius saja, tapi juga ada Sensory Space (ruang khusus untuk membantu si Kecil, ruang multisensori yang dirancang untuk membantu individu autistik mengelola stimulasi sensorik di ruang publik), layanan skrining, konsultasi, sampai booth edukasi. Festival ini sebenarnya puncak dari kampanye literasi yang sudah berjalan sejak tahun lalu.
Festival Peduli Autisme 2026 dirancang sebagai integrated inclusive experience di ruang publik. Tidak hanya menghadirkan talkshow, festival ini juga membuka ruang interaksi langsung antara masyarakat dengan individu autistik, keluarga, tenaga kesehatan, dan pendidik.
Rangkaian kegiatan meliputi diskusi mengenai realita keluarga, forum pendidikan inklusif, hingga sesi Autisme dan Sains yang mengulas autisme dari perspektif ilmiah.
Peduli ASD sendiri adalah platform edukasi autisme pertama di Indonesia yang menggabungkan sains dan teknologi. Jadi, untuk Moms and Dads yang mau cari info valid tanpa drama, platform ini tempatnya.
Yuk, Moms and Dads, kita jadi bagian dari masyarakat yang lebih peduli dan nggak lagi menutup mata. Karena setiap anak, apa pun kondisinya, berhak merasa diterima dan dicintai.