Cerita dari Klaten: Bagaimana Setiap Tetes Air yang Kita Konsumsi, Menjaga Harapan bagi Masa Depan
Klaten, Jawa Tengah, Senin, 04 Mei 2026. Udara segar menyambut rombongan saat tiba di kawasan pelestarian air, Sungai Pusur, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Memiliki panjang sekitar 36 kilometer, Sungai Pusur berperan penting sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat di Kabupaten Boyolali dan Klaten.
Hulu Sungai Pusur terletak di lereng Merapi, Boyolali, yang menjadi kawasan konservasi dan tangkapan air. Sementara, hilirnya berada di Klaten, dimana banyak wisata river tubing, salah satunya, New Rivermoon.
Selama tiga hari, dari tanggal 4 hingga 6 Mei 2026, sebuah perjalanan edukatif mengungkap apa yang terjadi di balik setiap tetes air yang kita konsumsi. Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah pembuktian tentang bagaimana industri dan alam bisa berjalan beriringan.
Harmoni dengan Alam Lokal
Kegiatan Media Trip ini untuk melihat langsung bagaimana sebuah komitmen pelestarian lingkungan di wilayah Klaten dilakukan. Kami diajak menelusuri area tangkapan air dan melihat bagaimana vegetasi (kumpulan berbagai jenis komunitas tumbuhan yang hidup bersama dan menutupi suatu wilayah atau ekosistem tertentu) yang terjaga dengan baik, menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas serta kuantitas air tanah. Tidak hanya soal teknologi, tetapi juga tentang bagaimana kearifan lokal tetap dijunjung tinggi dalam setiap prosesnya.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkoenagoro X (Kanjeng Gusti Bhre) hadir meninjau langsung geliat ekonomi kreatif program binaan AQUA berbasis lingkungan di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Pusur, New Rivermoon, Klaten, Jawa Tengah pada Senin, 4 Mei 2026. Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana aktivitas wisata susur sungai (river tubing) di aliran Sungai Pusur berkembang sebagai sumber penghidupan masyarakat, sekaligus mendorong upaya menjaga kebersihan dan kelestarian sungai.
Kanjeng Gusti Bhre menyampaikan bahwa kunjungannya menunjukkan contoh baik bagaimana kolaborasi antara korporasi, komunitas lokal, dan pelaku usaha dapat membangun ekosistem yang bermanfaat.
“Air adalah sumber kehidupan yang sangat penting, dan di sini kita dapat melihat bagaimana konservasi air dan lingkungan dijalankan berdampingan dengan aktivitas masyarakat. Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama, karena setiap tindakan yang kita lakukan menjadi wujud nyata bagaimana kita hidup berdampingan dengan manusia dan alam, dimana semuanya akan berdampak pada lingkungan. Semoga ekosistem ini dapat terus bertumbuh, berkelanjutan, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi banyak orang,” ujar Kanjeng Gusti Bhre.
Jeffri Ricardo, Senior Manager Public Affairs & Sustainability AQUA, menjelaskan bahwa upaya menjaga sungai merupakan bagian dari pendekatan yang lebih luas dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air. “Ekosistem sungai yang terjaga, berperan penting dalam mendukung kesehatan lingkungan secara keseluruhan, termasuk sumber air tanah dalam yang menjadi sumber air kami. Karena itu, kolaborasi dengan komunitas menjadi kunci untuk memastikan lingkungan tetap terjaga dan kualitas air dapat dipertahankan,” jelas Jeffri.
Salah satu momen paling menarik adalah saat berinteraksi dengan komunitas lokal, Pusur Institute (Komunitas Peduli Sungai/KPS berprestasi di Klaten, Jawa Tengah, yang fokus pada konservasi, pengelolaan sampah, edukasi, dan pemberdayaan Sungai Pusur dari hulu hingga hilir). Di sini, program pemberdayaan masyarakat menunjukkan hasil nyata:
- Pertanian Organik: Melihat bagaimana petani lokal beralih ke metode yang lebih ramah lingkungan untuk menjaga lapisan tanah.
- Ekowisata: Bagaimana sumber mata air yang jernih dikelola bersama masyarakat menjadi destinasi yang asri dan tetap terjaga kebersihannya.
- Edukasi Bijak Berplastik: Inisiatif pengumpulan dan pengelolaan sampah yang melibatkan warga sekitar untuk memastikan lingkungan tetap bebas limbah.
Lintang Eka Prakusya, Sekretaris Pusur Institute dan Perwakilan Penggiat Lingkungan Muda DAS Pusur menyampaikan bahwa keberlanjutan usaha mereka sangat bergantung pada kondisi sungai. “Kalau sungainya bersih, orang mau datang, kegiatan bisa berjalan, dan masyarakat banyak, juga akan merasakan manfaatnya. Karena itu, menjaga sungai bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal keberlangsungan hidup kami,” ujarnya.
Kunjungan ini menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan yang dilakukan secara konsisten dapat menciptakan dampak yang lebih luas, tidak hanya bagi kelestarian alam tetapi juga bagi kesejahteraan masyarakat. Melalui kemitraan dengan komunitas, AQUA terus mendukung upaya menjaga lingkungan secara berkelanjutan, karena dari konservasi inilah sumber air tetap terjaga, kandungan mineral alaminya tetap seimbang, sehingga kualitas airnya tetap terlindungi, dan alam tetap dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Pada akhirnya, dari proses panjang inilah, hadir pengalaman Adem yang nyata bagi konsumen.
“Dalam semangat Kaum Adem, kita diingatkan untuk ikut berkontribusi menjaga lingkungan dan alam di sekitar kita, bukan hanya untuk kepentingan segelintir orang tapi untuk kepentingan bersama. Sama halnya dengan apa yang sudah dilakukan teman-teman di DAS Pusur, senantiasa menjaga sungai karena lingkungan yang terjaga, lahir dari konsistensi dan kepedulian bersama,” pungkas Jeffri.