Dari Dunia Maya Menjadi Aksi Nyata, Kisah Tiga Kreator Muda Menggerakkan Lingkungan, Budaya, dan Ekonomi
Kemerdekaan tidak selalu harus dimaknai melalui upacara, bendera, atau perayaan. Di era digital, semangat untuk berkontribusi bagi Indonesia juga dapat hadir melalui kreativitas, kepedulian, dan keberanian mengubah ide menjadi aksi nyata.
Semangat itulah yang terlihat dari perjalanan tiga kreator muda Indonesia yaitu; Jerhemy Owen, Elsa Novia, dan Hendri Alejandro. Ketiganya memanfaatkan platform bukan sekadar sebagai ruang untuk membuat konten, tetapi sebagai sarana edukasi, membangun komunitas, sekaligus menciptakan dampak nyata bagi masyarakat.
Dalam Media Gathering bertajuk #Serunya17an – Karya Positif untuk Indonesia: Cara Kreator Muda Manfaatkan TikTok untuk Menggerakkan Perubahan Nyata di Jakarta, Selasa (18/8), ketiganya berbagi cerita tentang bagaimana kreativitas digital dapat berkembang menjadi gerakan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari lingkungan, budaya, hingga ekonomi.
Jerhemy Owen: Ketika Konten Lingkungan Berubah Menjadi Gerakan
Bagi Jerhemy Owen, kepedulian terhadap lingkungan bermula dari pengalaman pribadi. Saat menempuh pendidikan Ilmu Lingkungan di Belanda, ia pertama kali berkenalan secara mendalam dengan istilah seperti carbon emission dan carbon footprint.
Alih-alih menganggap istilah tersebut sebagai sesuatu yang mudah dipahami semua orang, Owen justru menyadari adanya jarak antara bahasa ilmiah dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dari situlah muncul gagasan sederhana: isu lingkungan harus disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Menurut Owen, membicarakan lingkungan di media sosial tidak cukup hanya dengan menyampaikan informasi. Konten juga harus relevan dengan persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat, seperti sampah, banjir, dan polusi udara. Bahkan tren olahraga dan gaya hidup dapat menjadi pintu masuk untuk menyampaikan pesan-pesan mengenai lingkungan.
“Kalau langsung ngomongin lingkungan, mungkin orang juga akan nge-scroll,” kata Owen. Karena itu, ia berusaha membuat isu lingkungan terasa dekat, menarik, sekaligus relevan.
Sejak mulai berkarya di TikTok pada 2020, Owen kemudian mengembangkan berbagai inisiatif. Salah satunya adalah gerakan Wenanam, yang mengajak masyarakat berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan dengan cara sederhana. Setiap 15 kali video dibagikan, kontribusi tersebut dikonversikan menjadi satu pohon yang ditanam.
Gerakan itu berkembang menjadi aksi nyata. Lebih dari 10.000 bibit pohon berhasil dikumpulkan dan ditanam di Kampung Cibulao, kawasan hulu Sungai Ciliwung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Aksi tersebut juga mendukung pemulihan lebih dari 24 hektare kawasan hutan.
Pada 2026, gerakan tersebut berlanjut melalui kampanye #PohonUntukAceh. Hingga Juli 2026, sebanyak 250.000 bibit pohon telah dikumpulkan dan mulai ditanam di kawasan Hutan Lindung Tenggulun, Aceh Tamiang, sebagai bagian dari upaya pemulihan kawasan terdampak bencana.
Namun, bagi Owen, dampak terbesar tidak selalu dapat diukur dari jumlah pohon yang ditanam. Salah satu pengalaman paling berkesan justru datang ketika ia bertemu mahasiswa yang mengaku memilih jurusan lingkungan setelah terinspirasi oleh konten-kontennya.
Bagi Owen, momen tersebut menjadi bukti bahwa sebuah konten sederhana dapat memengaruhi pilihan dan masa depan seseorang.
Elsa Novia: Menghidupkan Kembali Cerita Sejarah dan Budaya
Jika Owen menggunakan platform untuk menggerakkan kepedulian terhadap lingkungan, Elsa Novia memilih jalur berbeda: membawa sejarah dan budaya Tionghoa-Indonesia lebih dekat kepada generasi muda.
Perjalanan Elsa sebagai kreator sebenarnya tidak langsung dimulai dari sejarah dan budaya. Ia sempat membuat konten makanan rumahan, kesehatan, hingga berbagai konten lainnya. Namun, sebuah peristiwa dalam keluarganya justru membuka jalan menuju tema yang kemudian menjadi ciri khasnya.
Ketika sang nenek meninggal, Elsa membuat konten mengenai tradisi peringatan satu tahun wafat dalam budaya Tionghoa. Video tersebut mendapat perhatian besar dan ditonton lebih dari satu juta kali.
Dari pengalaman tersebut, Elsa menyadari bahwa banyak orang ternyata memiliki ketertarikan terhadap sejarah dan budaya yang selama ini mungkin belum banyak dibicarakan.
Pada November 2022, ia mulai secara lebih serius mengangkat sejarah dan budaya Cina Benteng serta komunitas Tionghoa-Indonesia. Latar belakangnya sebagai lulusan Ilmu Gizi dan pengalaman mengikuti pertukaran pelajar di Taiwan, turut memperkaya perspektifnya dalam memahami budaya.
Elsa tidak ingin sekadar membuat konten berdasarkan cerita yang ia dengar. Untuk memastikan informasi yang disampaikan akurat, ia melakukan riset melalui buku, jurnal, serta berdiskusi dengan budayawan dan pegiat budaya.
Salah satu kontennya yang mendapat perhatian luas mengangkat makam Kapitan Tionghoa di Tangerang. Konten tersebut kemudian menarik perhatian masyarakat, media, bahkan pemerintah daerah.
Dari dunia digital, langkah Elsa kemudian berlanjut ke dunia nyata. Bersama sang ayah, ia mengembangkan Benteng Walking Tour, sebuah tur budaya yang mengajak masyarakat mengenal berbagai situs bersejarah di Kota Lama Tangerang dan kawasan Pecinan Glodok, Jakarta Barat.
Pesertanya bukan hanya warga lokal. Ada pula peserta dari Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, bahkan warga negara asing yang ingin memahami sejarah dan budaya Tionghoa-Indonesia.
Menariknya, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya juga dapat menjadi pintu bagi pariwisata lokal. Peserta tidak hanya mengenal bangunan bersejarah, tetapi juga kuliner tradisional dan berbagai cerita mengenai perjalanan komunitas Tionghoa-Indonesia di Tanah Air.
Bagi Elsa, budaya tidak seharusnya hanya menjadi sesuatu yang disimpan di masa lalu. Budaya harus diceritakan kembali dengan bahasa yang mudah dipahami agar generasi muda merasa dekat dan memiliki keinginan untuk mengenalnya.
Hendri Alejandro: Dari Desa Ibun, Membuka Jalan Ekonomi Digital
Sementara itu, Hendri Alejandro menunjukkan sisi lain dari kekuatan platform digital: menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat di daerah.
Kisahnya bermula dari Desa Ibun, Kabupaten Bandung. Hendri melihat banyak warga menjalankan usaha rumahan, khususnya industri perlengkapan bayi. Produk mereka sebenarnya memiliki potensi, tetapi pemasaran masih terbatas pada jalur offline.
Saat pandemi COVID-19, kebutuhan untuk beralih ke pemasaran digital semakin terasa. Hendri kemudian membantu para pelaku usaha tersebut memasarkan produk mereka melalui TikTok Shop.
Dari puluhan hingga sekitar seratus pelaku usaha yang pada awalnya terlibat, kemudian terbentuk Ibun Mall, sebuah ekosistem digital yang menjadi wadah pemasaran produk-produk lokal.
Hendri tidak berhenti pada penjualan produk. Ia juga melihat adanya peluang untuk memberdayakan masyarakat sekitar melalui aktivitas LIVE Shopping.
Warga dilatih menjadi host LIVE sehingga mereka memiliki keterampilan baru sekaligus kesempatan memperoleh penghasilan. Dengan demikian, teknologi tidak hanya membantu menjual barang, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan baru.
Kini, Ibun Mall telah berkembang dan mendukung lebih dari 30 UMKM lokal serta bekerja sama dengan lebih dari 100 host LIVE. Hendri juga membangun Komunitas Host 1 Miliar, yang menjadi ruang bagi ratusan kreator untuk belajar, berbagi pengalaman, dan mengembangkan keterampilan dalam ekosistem LIVE Shopping.
Bagi Hendri, salah satu kebahagiaan terbesar bukan hanya ketika bisnis berkembang, tetapi ketika melihat masyarakat di kampungnya memperoleh akses terhadap pekerjaan dan peluang baru.
“Kesuksesan” akhirnya tidak lagi hanya diukur dari angka penjualan, tetapi dari berapa banyak orang yang ikut tumbuh bersama.
Satu Platform, Tiga Jalan Perubahan
Kisah Owen, Elsa, dan Hendri memperlihatkan bahwa kreativitas di media sosial dapat mengambil bentuk yang sangat beragam.
Owen mengubah konten menjadi gerakan pelestarian lingkungan. Elsa menjadikan video sebagai pintu masuk untuk mengenalkan kembali sejarah dan budaya. Sementara Hendri memanfaatkan ekosistem digital untuk membantu UMKM dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat desa.
Ketiganya memiliki satu kesamaan: mereka memulai dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mereka juga menyadari bahwa menjadi kreator bukan sekadar mengejar jumlah penonton. Konsistensi, kemampuan beradaptasi, riset, serta kejelasan tujuan menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka.
Bagi Elsa, misalnya, konsistensi membuat konten menjadi salah satu kunci. Ia berusaha membuat konten empat hingga enam kali dalam seminggu. Karena membawa tema sejarah dan budaya, ia juga terus membaca, berdiskusi, dan belajar dari orang-orang yang memiliki keahlian di bidang tersebut.
Sementara Hendri menilai kemampuan beradaptasi sangat penting karena tantangan di dunia digital terus berubah. Seorang kreator harus memiliki daya tahan dan kesiapan untuk menghadapi perubahan.
Owen pun menekankan pentingnya menemukan tujuan. Menurutnya, kreator perlu mengetahui apa yang sebenarnya ingin dicapai melalui media sosial agar tidak kehilangan arah ketika mencoba berbagai hal.
Memaknai Kemerdekaan Lewat Karya
Di tengah perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia, ketiga kreator tersebut memiliki cara masing-masing dalam memaknai kemerdekaan.
Bagi Hendri, kemerdekaan berarti memiliki ruang untuk berekspresi, berkarya, dan menciptakan peluang. Namun kebebasan tersebut tetap harus berjalan bersama tanggung jawab dan norma yang berlaku.
Elsa memaknai kemerdekaan melalui karya edukatif yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Ia ingin menunjukkan bahwa sejarah dan budaya Tionghoa-Indonesia merupakan bagian dari perjalanan Indonesia dan layak untuk terus dipelajari serta dilestarikan.
Sementara bagi Owen, kemerdekaan berarti kesempatan untuk memberikan dampak. Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, tugas generasi sekarang bukan hanya menikmati kemerdekaan, tetapi juga menjaganya melalui persatuan, gotong royong, dan kontribusi nyata.
Pada akhirnya, ketiga cerita tersebut menyampaikan pesan yang sederhana namun kuat: perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Sebuah video dapat menjadi awal dari gerakan menanam pohon. Sebuah cerita tentang tradisi keluarga dapat membuka kembali ketertarikan generasi muda terhadap sejarah. Sebuah akun dari sebuah desa dapat berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang membantu UMKM dan membuka lapangan pekerjaan.
Di tangan generasi muda yang kreatif dan memiliki tujuan, media sosial bukan hanya tempat untuk menonton dan berbagi konten. Ia dapat menjadi ruang untuk belajar, berkolaborasi, memberdayakan, dan menciptakan perubahan nyata bagi Indonesia.
Inilah salah satu wajah kemerdekaan di era digital: bebas berkarya, berani berdampak, dan tumbuh bersama masyarakat.