ads

Di Balik Telur Cage-Free di Meja Makan Keluarga, Ada Perjalanan Panjang Peternak Lokal

Efa Trapulina - Sabtu, 31 Oktober 2026
Kampanye Telur Baik dari ICFA hadir di Mall Kelapa Gading, kenalkan cerita di Balik telur bebas sangkar (cage free) dari peternak lokal (Foto: Ist)
Kampanye Telur Baik dari ICFA hadir di Mall Kelapa Gading, kenalkan cerita di Balik telur bebas sangkar (cage free) dari peternak lokal (Foto: Ist)
A A A

Telur menjadi salah satu bahan makanan andalan di rumah. Selain mudah diolah menjadi berbagai menu, telur juga praktis disajikan untuk sarapan, bekal sekolah anak, hingga lauk makan sehari-hari. Tak heran jika banyak ibu menjadikan telur sebagai salah satu stok bahan pangan wajib di kulkas.

Dan, ketika membeli telur di supermarket, pernahkah Moms memperhatikan label cage-free pada kemasan telur?

Istilah ini mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang. Padahal, dijelaskan oleh Kristina Yolanda, Ketua Indonesian Cage-Free Association (ICFA), telur cage-free sudah tersedia di sejumlah jaringan ritel modern di Indonesia. Produk ini menawarkan sistem pemeliharaan ayam yang berbeda dari peternakan konvensional, terutama dalam hal ruang gerak dan kesejahteraan hewan.

Secara sederhana, cage-free berarti bebas kandang baterai atau bebas sangkar. Dalam sistem pemeliharaan ini, ayam petelur tidak ditempatkan di dalam kandang sempit yang membatasi ruang geraknya. Ayam tetap berada di dalam area kandang peternakan, tetapi memiliki ruang untuk berjalan, mengepakkan sayap, bertengger, mengais, mandi debu, serta bertelur di kotak sarang. Sistem ini berkembang seiring meningkatnya perhatian terhadap kesejahteraan hewan, terutama di negara-negara maju seperti Eropa dan Australia.

“Kalau cage-free, ayam tidak ditempatkan di kandang baterai,” imbuh wanita yang akrab disapa Yolanda ini. Perlu Moms ketahui, kandang baterai merupakan sistem pemeliharaan ayam petelur di mana ayam ditempatkan di dalam sangkar-sangkar kecil dari kawat atau bambu yang disusun berderet dan bertingkat di dalam bangunan peternakan.

“Pada pemeliharaan cage-free, ayam masih memiliki ruang untuk bergerak dan melakukan perilaku alaminya,” imbuh Yolanda.

ICFA Kristina Yolanda
Kristina Yolanda, Ketua Indonesian Cage-Free Association (ICFA)

Dalam sistem cage-free, kepadatan ayam tetap memiliki batasan. Peternak perlu mengikuti standar internasional yang mengatur jumlah ayam berdasarkan luas area kandang. Yolanda menyebut, salah satu acuan yang digunakan adalah kepadatan sekitar enam ekor ayam per meter persegi.

Di Indonesia, perkembangan peternakan cage-free semakin terlihat. Karena itu, pada 2024, ICFA menginisiasi pembentukan asosiasi untuk menjadi wadah bagi para peternak.

Tujuannya adalah mempersatukan peternak cage-free agar dapat saling berbagi pengalaman, memberikan dukungan, dan mengembangkan sistem pemeliharaan yang lebih baik.

Cerita Peternak Lokal

Di balik telur cage-free yang sampai ke meja makan keluarga, ada perjalanan panjang peternak dalam mengembangkan sistem pemeliharaan tersebut. Salah satunya dijalani Roby Tjahya Dharma Gandawijaya, CEO PT Inti Prima Satwa Sejahtera (IPSS), yang mulai mengembangkan peternakan cage-free sejak 2002, setelah sebelumnya fokus pada usaha peternakan ayam potong.

Ketika Roby mulai mengembangkan sistem peternakan ayam tanpa kandang baterai, istilah cage-free masih belum banyak dikenal masyarakat. Pasarnya belum terbentuk, sementara pengelolaan peternakannya membutuhkan pengetahuan dan cara kerja yang berbeda dari sistem konvensional.

Roby ICFA
Roby Tjahya Dharma Gandawijaya, CEO sekaligus Owner dari PT Inti Prima Satwa Sejahtera (IPSS) Foto: Efa

"Sejujurnya, pada tahun 2002, bisnis ini belum bisa dibilang sebagai bisnis yang baik karena belum banyak orang yang mengenal sistem cage-free. Namun, seiring berjalannya waktu, semakin banyak masyarakat yang mulai mengenalnya. Sekarang juga sudah ada asosiasi dan berbagai kegiatan yang memperkenalkan sistem peternakan ini. Jadi, semakin banyak orang yang tertarik untuk mencoba," ungkap Roby yang merupakan generasi kedua dalam mengelola usaha peternakan ayam keluarganya.

Kini, peternakan IPSS yang berlokasi di Desa Cigombong, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memiliki populasi sekitar 50.000 ekor ayam. Roby mengatakan, dari jumlah tersebut, produksinya mencapai kurang lebih 40.000 butir telur setiap hari atau setara sekitar 2,5 ton.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa mengembangkan peternakan cage-free bukan hanya soal menyediakan ruang gerak lebih luas bagi ayam. Peternak juga perlu menghadapi tantangan teknis, biaya produksi, sumber daya manusia, hingga pemasaran.

Butuh Pengawasan Ekstra

Bagi Roby, salah satu tantangan utama peternakan cage-free terletak pada pengelolaan ayam sehari-hari. Ayam memiliki ruang gerak lebih luas, tetapi kondisi tersebut juga membuat peternak harus lebih cermat mengawasi kesehatan dan perilaku ternak.

"Secara teknis, pemeliharaan ayam cage-free sebenarnya jauh lebih rumit," ujarnya. Diperlukan pengetahuan yang baik dan benar. "Itu memang perlu ekstra kerja keras. Pemantauan perlu lebih banyak, makanan ayam pun nggak bisa asal," imbuhnya. 

Salah satu tantangannya adalah pengendalian penyakit. Jika ada ayam yang sakit, penularan dapat berlangsung lebih cepat. Karena itu, peternak perlu memahami karakter ayam dan mengenali perubahan perilakunya.

Telur Cage Free dan Free Range
Telur Cage Free dan Free Range

Pengawasan tidak cukup dilakukan dengan memberikan pakan dan mengumpulkan telur. Kualitas air minum, kebersihan kandang, serta kondisi setiap kelompok ayam juga harus diperhatikan. Air minum dengan kualitas kurang baik, misalnya, dapat menyebabkan gangguan pencernaan pada ayam dan berisiko memengaruhi kesehatan ayam lainnya. "Kalau air minumnya kurang bagus, nanti ayamnya sakit perut. kalau sakit perut, nanti bisa nular semua," katanya. 

Robi menegaskan pentingnya penanganan maupun pemantauan ekstra. "Peternak harus memahami seperti apa gerak-gerik ayam yang sehat, sehingga bisa segera mengetahui jika ada ayam yang menunjukkan tanda-tanda sakit," jelasnya.

Roby juga berupaya menekan penggunaan antibiotik melalui pengelolaan kesehatan ayam yang baik. Menurutnya, kualitas pakan dan air minum perlu dijaga agar kebutuhan nutrisi ayam terpenuhi dan kondisi tubuhnya tetap sehat.

"Kalau tata kelolanya baik, ayam bisa menjadi jauh lebih sehat. Dengan pengelolaan tersebut, penggunaan antibiotik dalam manajemen peternakan kami hampir tidak ada," katanya. Ia berharap pengelolaan tersebut dapat membantu menghasilkan telur tanpa residu antibiotik.

Mulai dari Skala Kecil Dulu Bagi Pemula

Pengalaman Roby mengembangkan peternakan cage-free tidak selalu berjalan mudah. Saat pertama kali memulai, ia langsung memelihara sekitar 12.000 ekor ayam. Dari pengalaman tersebut, ia menyadari pentingnya memahami sistem pemeliharaan sebelum memperbesar populasi.

"Kalau baru ingin menjalankan usaha telur cage-free, sebaiknya memulai dengan populasi yang lebih sedikit, misalnya sekitar 1.000 ekor. Dengan begitu, pengelolaannya akan lebih mudah," sarannya.

Menurut Roby, peternak perlu terlebih dahulu memahami karakter ayam, kebutuhan hidup, perilaku, serta cara menjaga kesehatannya. Ia juga melihat peluang bagi peternak dengan populasi di bawah 10.000 ekor berpeluang untuk mengembangkan usaha cage-free.

Artinya, usaha ini tidak selalu harus dimulai dengan investasi untuk memelihara puluhan ribu ayam. Peternak dapat mempelajari sistem pemeliharaan dari skala yang lebih kecil, kemudian mengembangkan usahanya secara bertahap.

Dari Peternakan hingga ke Meja Makan

Untuk menjangkau konsumen, IPSS memasarkan produknya melalui beberapa jalur. Di pasar ritel, telur dijual dalam bentuk kemasan untuk konsumen akhir dan juga tersedia melalui kanal penjualan daring. Perusahaan juga memasok telur ke sektor perhotelan serta usaha makanan dan minuman atau food and beverage (F&B).

Roby mengatakan, pihaknya memiliki beberapa merek produk, antara lain Healthy Eggs, Nature Eggs, dan Farmer Eggs. Selain itu, perusahaan bekerja sama dengan grup Ranch Market untuk mengembangkan telur cage-free dengan harga lebih terjangkau melalui produk Nava, yang dihasilkan dari ayam dengan pakan bersumber protein nabati.

Meski demikian, harga masih menjadi salah satu tantangan dalam memperluas pasar. Sistem cage-free membutuhkan ruang gerak lebih luas bagi ayam, serta pengelolaan kandang dan pemantauan kesehatan yang lebih intensif.

Roby mengakui bahwa harga telur cage-free lebih tinggi dibandingkan telur konvensional. Bagi peternak cage-free, harga jual perlu sejalan dengan biaya produksi.

Hal senada diungkapkan oleh Yolanda. Ia menyebutkan bahwa di sejumlah wilayah Pulau Jawa, harga telur cage-free dapat lebih mahal sekitar 30 persen. Selisih tersebut berkaitan dengan kebutuhan ruang, kualitas pakan, dan biaya pengelolaan peternakan.

Yolanda menjelaskan bahwa peternak membutuhkan pasar yang terus berkembang agar usaha cage-free dapat berjalan berkelanjutan.

Keamanan Pangan Dimulai dari Peternakan

Selain kesejahteraan ayam, keamanan pangan menjadi hal penting dalam proses produksi telur. Kristina menjelaskan bahwa ketika ayam mengalami gangguan kesehatan, peternak mungkin perlu memberikan pengobatan. Namun, penggunaan antibiotik harus mengikuti ketentuan karena penggunaan yang tidak tepat berisiko menimbulkan residu pada produk hewan.

Karena itu, peternak perlu menjaga kesehatan ayam melalui pengelolaan kandang, kualitas pakan dan air minum, serta pemantauan kondisi ternak.

"Kami selalu berpegang pada prinsip food safety atau keamanan pangan. Kami berupaya menjaga ayam tetap sehat karena telur yang dihasilkan juga akan dikonsumsi oleh keluarga, anak-anak, dan karyawan kami sendiri," kata Kristina.

Pendekatan ini juga berkaitan dengan konsep One Health, yaitu pemahaman bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling berhubungan. Artinya, pembicaraan mengenai pangan tidak hanya berhenti pada apa yang dikonsumsi, tetapi juga bagaimana produk tersebut dihasilkan.

Agar tidak hanya terpaku pada harga dan tampilan, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan ketika membeli telur untuk keluarga:

1. Baca label kemasan. Kenali apakah produk menggunakan sistem cage-free atau free-range.

2. Periksa informasi nutrisi

3. Kenali produsennya. Informasi mengenai peternakan asal telur membantu konsumen mengetahui sumber produk.

4. Periksa kondisi telur dan kemasan. Pilih telur dengan cangkang utuh dan kemasan yang baik.

5. Perhatikan tanggal kedaluwarsa dan penyimpanan. Pastikan produk masih layak dikonsumsi dan disimpan sesuai petunjuk.

ICFA juga mendorong pengembangan sistem traceability atau penelusuran produk, salah satunya melalui pencantuman informasi produsen atau peternakan asal pada kemasan. Dengan begitu, konsumen diharapkan dapat mengetahui dari mana telur berasal dan siapa peternak yang memproduksinya.

Dengan mengenal proses di balik telur yang dikonsumsi, keluarga memiliki bekal informasi yang lebih lengkap untuk menentukan pilihan. Sementara bagi peternak, keberhasilan mengembangkan usaha cage-free bukan hanya diukur dari jumlah telur yang dihasilkan, tetapi juga dari kemampuan menjaga kesehatan ayam, mengelola biaya produksi, dan mempertahankan keberlangsungan usaha.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Di Balik Telur Cage-Free di Meja Makan Keluarga, Ada Perjalanan Panjang Peternak Lokal
img
Yuk, Ajak Keluarga Peduli Lingkungan Lewat Program Botol kembali Hadiah Menanti
img
Lewat Kampanye Telur Baik, ICFA Perluas Pengenalan Telur Bebas Sangkar di Indonesia
img
Kesetaraan Gender Dongkrak Kinerja Bisnis, Ini Buktinya!