ads

Dilema Sharenting: Niatnya Berbagi Momen Bahagia, Tapi Amankah untuk Si Kecil?

Novita Sari - Kamis, 16 Juli 2026
Bahkan jika anak belum memiliki akun media sosial sendiri pun, platform digital tetap bisa menggambarkan perilaku dan preferensi mereka lewat data yang diunggah orang tuanya. Foto: Ist
Bahkan jika anak belum memiliki akun media sosial sendiri pun, platform digital tetap bisa menggambarkan perilaku dan preferensi mereka lewat data yang diunggah orang tuanya. Foto: Ist
A A A

Bagi orang tua modern, mengunggah foto kelucuan anak atau merayakan pencapaian si Kecil di media sosial, sudah jadi bagian dari keseharian. Istilah populernya adalah sharenting—gabungan dari sharing dan parenting. Niatnya tentu baik, mulai dari menjaga silaturahmi dengan keluarga yang jauh, mencari dukungan sesama orang tua, hingga sekadar menyimpan memori digital.

Namun, di balik tombol likes dan komentar gemas dari netizen, ada risiko nyata yang mengintai. Sebuah riset terbaru bertajuk "Small Shares, Big Risks: How Parents Assess Threats and Cope with Sharing of Children’s Data" menyoroti dilema besar yang dihadapi para orang tua terkait jejak digital anak mereka. Riset mendalam ini dilakukan oleh Kaspersky bersama Singapore Institute of Technology (SIT), dengan melibatkan responden orang tua dari Asia Pasifik dan Mesir.

Ketakutan Terbesar Orang Tua: Diintai Orang Asing

Berdasarkan studi tersebut, mayoritas orang tua sebenarnya sadar dan khawatir bahwa data atau foto anak yang mereka unggah, berpotensi disalahgunakan.

Riset menemukan beberapa fakta mencengangkan:

  • 75% orang tua khawatir unggahan mereka akan disalahgunakan oleh pihak lain.
  • 74% orang tua cemas orang asing bisa melacak lokasi tempat tinggal mereka.
  • 73% orang tua takut orang asing dapat mengetahui di mana anak mereka bersekolah.
  • 69% orang tua percaya bahwa foto atau cerita yang dianggap "lucu tapi memalukan" hari ini, bisa disalahartikan dan berdampak buruk bagi masa depan anak saat mereka dewasa nanti.

"Bagi banyak orang tua, ketidaknyamanan dengan sharenting berasal dari kekhawatiran yang sangat wajar tentang orang asing. Mereka khawatir ada individu tak dikenal yang menyimpan foto anak-anak, memetakan lokasi keluarga, atau menyalahgunakan informasi tersebut bertahun-tahun kemudian di luar kendali orang tua," jelas Profesor Madya Jiow Hee Jhee, Wakil Direktur Akademi Pengajaran dan Pembelajaran di SIT.

Ancaman Profiling Digital: Anak Jadi Target Iklan Sejak Dini

Khawatir tentang orang asing yang berniat jahat, hanyalah satu sisi mata uang. Sisi lainnya adalah pengumpulan data secara masif oleh pihak ketiga.

Trishia Octaviano, Manajer Senior Pendidikan Keamanan Siber untuk Asia Pasifik di Kaspersky, mengingatkan bahwa media sosial dan perusahaan pemasaran pihak ketiga dapat melacak dan membuat profil digital (profiling) si Kecil.

Bahkan jika anak kita belum memiliki akun media sosial sendiri, platform digital tetap bisa menggambarkan perilaku dan preferensi mereka sebagai calon konsumen masa depan lewat data yang diunggah orang tuanya. Oleh karena itu, bersikap lebih menahan diri dan membatasi apa yang dibagikan, adalah langkah bijak untuk melindungi privasi anak.

Tips Cerdas Sharenting yang Aman untuk Keluarga

Bukan berarti kita sama sekali tidak boleh berbagi momen kebahagiaan bersama anak. Kuncinya adalah menjadi orang tua yang bijak digital (smart digital parents).

Berikut adalah panduan praktis dari para ahli keamanan siber Kaspersky agar sharenting tetap aman:

  • Atur Akun Menjadi Privat: Jangan biarkan profil media sosial kamu terbuka untuk publik jika kontennya didominasi oleh foto keluarga dan anak-anak.
  • Tinjau Pengaturan Privasi Secara Berkala: Cek kembali siapa saja yang ada di daftar pertemanan kamu dan batasi visibilitas unggahan lama. Pengaturan privasi platform media sosial sering kali berubah tanpa kita sadari.
  • Hapus Metadata Foto: Sebelum mengunggah foto, pastikan fitur geolokasi dimatikan. Metadata foto sering kali menyimpan informasi waktu dan lokasi presisi di mana foto itu diambil.
  • Hindari Berbagi Lokasi Real-Time: Jangan mengunggah foto atau video yang menunjukkan lokasi anak secara langsung, seperti saat mereka sedang berada di sekolah atau tempat les. Hapus unggahan lama yang secara gamblang memperlihatkan nama sekolah atau klub olahraga anak.
  • Bersihkan Akun Lama: Hapus akun-akun media sosial lama atau platform digital yang sudah tidak kamu gunakan lagi, karena akun terbengkalai, rentan menjadi celah kebocoran data.
  • Gunakan Asisten Digital Perlindungan Anak: Manfaatkan aplikasi kontrol orang tua seperti Safe Kids untuk memantau aktivitas online anak, melacak keberadaan mereka, serta menyeimbangkan waktu layar (screen time) si Kecil dengan lebih praktis.

Menjadi orang tua di era digital memang penuh tantangan. Dengan menerapkan langkah-langkah proteksi di atas, kita tetap bisa merayakan tumbuh kembang anak di dunia maya tanpa harus mengorbankan keamanan dan masa depan mereka. Yuk, lebih bijak bertukar cerita mulai hari ini!

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Dilema Sharenting: Niatnya Berbagi Momen Bahagia, Tapi Amankah untuk Si Kecil?
img
90 Persen Ibu Merasa Hectic di Hari Pertama Sekolah, Trik Siapkan Bekal Juara dari Rumah
img
28 Tahun Mendampingi Pejuang Buah Hati, Kisah Nyata di Balik Program Bayi Tabung
img
Menyambut Hari Anak, Yuk Moms Rayakan Setiap Kehebatan Unik Si Kecil