ads

Duh! Dari 70 juta Perokok Aktif di Indonesia, 7,4 persen Di antaranya adalah Anak-anak serta Remaja Usia 10–18 Tahun

Novita Sari - Kamis, 04 Juni 2026
Karlina Elisabet Wirian, Commercial Director Guardian Indonesia, mempermudah akses masyarakat dalam perjalanan berhenti merokok lewat ketersediaan produk Nicotine Replacement Therapy (NRT) dan informasi kesehatan di gerai-gerainya. Foto: Ist
Karlina Elisabet Wirian, Commercial Director Guardian Indonesia, mempermudah akses masyarakat dalam perjalanan berhenti merokok lewat ketersediaan produk Nicotine Replacement Therapy (NRT) dan informasi kesehatan di gerai-gerainya. Foto: Ist
A A A

Pernahkah kamu mendengar kalimat, "Saya merokok tapi kuat lari kok!" atau "Banyak juga orang yang sakit padahal tidak merokok"? Di media sosial, perdebatan semacam ini seperti tidak ada habisnya. Namun bagi praktisi kesehatan, narasi-narasi tersebut hanyalah tameng ego dari sebuah kondisi medis yang nyata: adiksi nikotin.

Faktanya, ketergantungan pada tembakau masih menjadi salah satu krisis kesehatan terbesar di Indonesia. Angka kematian akibat rokok mencapai 12,3% dari total kematian nasional, dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan kanker paru sebagai pembunuh utamanya.

Tantangannya pun kian berlapis. Saat ini ada lebih dari 70 juta perokok aktif di Indonesia, dan yang mengkhawatirkan, 7,4% di antaranya adalah anak-anak serta remaja usia 10–18 tahun. Ditambah lagi dengan maraknya mitos bahwa rokok elektrik (vape) "lebih aman", yang memicu lonjakan penggunaan vape hingga 10 kali lipat di kalangan muda.

Menanggapi krisis ini, sebuah gerakan nasional bertajuk kampanye #SehatTanpaRokok resmi diluncurkan. Inisiatif lintas sektor ini mempertemukan Kementerian Kesehatan RI, Kenvue, Guardian Indonesia, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk menghadirkan jalan keluar yang lebih konkret bagi masyarakat.

Mengapa Niat Saja Sering Kali Gagal?

Banyak perokok yang sebenarnya punya keinginan kuat untuk berhenti. Tengok saja saat bulan Ramadan; mereka mampu menahan diri tidak merokok selama 12 jam penuh saat berpuasa. Namun, mengapa begitu kembali ke hari biasa, dorongan untuk merokok itu datang lagi?

Hambatan terbesar seseorang gagal lepas dari rokok adalah gejala putus nikotin (withdrawal syndrome) atau yang biasa kita kenal dengan istilah "sakau nikotin". Kondisi ini memicu rasa asam di mulut, gelisah, hingga asam lambung yang tidak stabil.

"Dampak medis dari rokok konvensional maupun rokok elektrik sangat fatal," ujar Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K)., Penasihat Pengurus Pusat PDPI. Beliau menegaskan bahwa ketergantungan nikotin adalah penyakit adiksi yang membutuhkan penanganan medis, bukan sekadar imbauan moral. "Solusi berbasis bukti seperti Nicotine Replacement Therapy (NRT) telah terbukti secara klinis meredakan gejala sakau dan melipatgandakan peluang keberhasilan berhenti merokok hingga 5 kali lipat, terutama jika dipadukan dengan konseling perilaku," terangnya.

dr. Tirta, dari perokok berat menjadi Ultra-Marathoner. Foto: Novi
dr. Tirta, dari perokok berat menjadi Ultra-Marathoner. Foto: Novi

Belajar dari Cerita dr. Tirta: Dari Perokok Berat Menjadi Ultra-Marathoner

Sisi nyata dari jerat adiksi ini juga diakui oleh dr. Tirta Mandira Hudhi, seorang praktisi kesehatan yang juga mantan perokok berat selama belasan tahun. Titik baliknya terjadi pada tahun 2022 saat kondisi fisiknya menurun drastis dan hasil medical check-up menunjukkan fungsi paru yang tidak prima.

"Berhenti merokok memang butuh tekad, tetapi sering kali niat saja kalah oleh withdrawal syndrome. Perokok butuh solusi terukur," ungkap dr. Tirta. Setelah berhasil berhenti total, ia mengalihkan energinya ke olahraga berat seperti lari, renang, dan sepeda. Kini, di usia 35 tahun, usia metabolik tubuhnya tercatat setara dengan anak muda berusia 22 tahun dan ia telah sukses menyelesaikan berbagai ajang ultra-marathon.

Melalui pengalamannya, dr. Tirta aktif mengedukasi generasi Z dan milenial di media sosial bahwa mengalihkan rasa asam di mulut dengan bantuan permen karet terapi khusus jauh lebih efektif daripada membiarkan tubuh tersiksa akibat putus zat.

Membawa Solusi Lebih Dekat ke Masyarakat

Salah satu poin penting dalam kampanye #SehatTanpaRokok adalah memotong jalur birokrasi medis agar masyarakat tidak enggan mencari bantuan. Sering kali, perokok merasa malas atau canggung jika harus sengaja datang ke rumah sakit atau dokter hanya untuk berkonsultasi tentang cara berhenti merokok.

Melihat celah tersebut, jaringan ritel kesehatan Guardian Indonesia mengambil peran aktif. Melalui lebih dari 350 gerainya di seluruh Indonesia, mereka mengerahkan lebih dari 700 apoteker di garda depan untuk menjadi tempat diskusi day-to-day yang personal bagi pelanggan.

Di sini, masyarakat bisa mendapatkan edukasi, pemahaman produk, hingga akses langsung ke Nicotine Replacement Therapy (NRT) seperti Nicorette—solusi terapi pengganti nikotin berstatus farmakoterapi resmi yang aman dan mengantongi izin edar BPOM. Langkah ini diharapkan mampu mendampingi para perokok melewati masa-masa sulit di awal transisi hidup sehat mereka.

Dalam sesi wawancara Rabu, 03 Juni 2026 saat Konferensi Pers #SehatTanpaRokok di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Commercial Director Guardian Indonesia, Karlina Elisabet Wirian, mengatakan, sebagai jaringan ritel kesehatan yang hadir dekat dengan masyarakat, mereka berkomitmen mendukung penerapan gaya hidup sehat melalui akses terhadap edukasi dan pendampingan kesehatan yang terpercaya.

"Melalui peran ratusan apoteker dan tenaga vokasi farmasi kami sebagai garda terdepan yang terus aktif memberikan edukasi mengenai Upaya Berhenti Merokok (UBM), kami meyakini bahwa akses terhadap informasi yang akurat serta pendampingan yang tepat dapat membantu masyarakat lebih percaya diri dalam memulai perjalanan berhenti merokok. Upaya ini juga menjadi bagian dari komitmen kami untuk membantu masyarakat memperoleh informasi kesehatan terpercaya mengenai metode UBM serta mengakses dukungan farmakoterapi yang dibutuhkan secara aman,” tutur Karlina.

Foto: Ist
Sinergi Guardian, Kenvue, dan Kemenkes dukung penurunan prevalensi perokok melalui peluncuran Kampanye Nasional #SehatTanpaRokok. Foto: Ist

Marketing Director Kenvue Indonesia, Fika Yolanda, menyatakan, “Kami memiliki komitmen berkesinambungan untuk mendukung program Kemenkes RI dalam mengintervensi prevalensi perokok di Indonesia. Tujuan utama kami adalah memastikan setiap individu yang memiliki niat untuk berhenti merokok mendapatkan pendampingan yang tepat serta akses terhadap solusi medis yang terbukti secara ilmiah. Rangkaian program kampanye kami tidak sekadar pemberian pelatihan (training) medis, melainkan mencakup edukasi komprehensif bagi tenaga kesehatan dan masyarakat luas, serta penayangan Iklan Layanan Masyarakat (PSA) bersama Kemenkes dan PDPI. Kami juga membuka kemudahan akses produk melalui kerja sama dengan jaringan apoteknya. Kami bangga melihat bahwa saat ini, Nicorette telah dipercaya dan mulai digunakan sebagai metode terapi di sejumlah klinik UBM Puskesmas di area Jakarta dan Bogor.”

Komitmen Bersama untuk Masa Depan

Akselerasi penurunan angka perokok bukanlah agenda yang bisa diselesaikan oleh pemerintah sendirian. Dibutuhkan ekosistem pendukung yang kuat mulai dari regulasi, kesiapan tenaga medis di Puskesmas, edukasi publik yang masif, hingga ketersediaan produk terapi yang valid secara ilmiah.

Berhenti merokok memang tidak mudah dan jalannya bisa terasa panjang. Namun, dengan kombinasi antara niat yang bulat di dalam hati serta pemanfaatan metode ilmiah yang tepat, meraih kualitas hidup yang lebih bersih, bugar, dan terbebas dari jerat asap rokok bukanlah hal yang mustahil.

Sudah siap memulai perjalanan sehat kamu hari ini?

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Duh! Dari 70 juta Perokok Aktif di Indonesia, 7,4 persen Di antaranya adalah Anak-anak serta Remaja Usia 10–18 Tahun
img
Dorong Generasi Aktif Lebih Mindful terhadap Higienitas Kulit melalui Kampanye “Social-Ready Hygiene”
img
Rahasia Baru Self-Care Praktis Perempuan Modern: Glowing dan Fit Tanpa Ribet!
img
Lindungi Sekeluarga Lewat Vaksin Anak Hingga Dewasa