Rahasia Tetap Sehat Luar Dalam: Kenali Tubuhmu Lewat Teknologi Pemeriksaan Terbaru yang Makin Pintar dan Personal
Pernahkah kamu merasa sudah hidup sehat, rajin olahraga, dan menjaga makan, tapi tubuh tetap terasa mudah lelah? Atau pernahkah kamu heran mengapa obat yang cocok di tubuh orang lain justru tidak mempan saat kamu minum?
“Jawabannya ada pada keunikan tubuh kita masing-masing,” ungkap Andri Hidayat, Integrated Solutions & Diagnostics Director PT Prodia Widyahusada Tbk di acara Meet the Press 2026, Selasa (14/07) di Jakarta.
Di tahun 2026 ini, mereka membawa kabar baik. Mereka menunjukkan bagaimana kini tidak lagi sekadar menjadi tempat cek darah biasa, melainkan laboratorium masa depan yang memanfaatkan Kecerdasan Buatan (AI) dan teknologi genetik untuk membantu kita menjaga kesehatan sebelum penyakit itu datang.
Tubuh Fit Belum Tentu Sehat?
Dikatakan Andri, salah satu temuan paling menarik, berasal dari fitur baru mereka bernama MET-U (Metabolic U) di aplikasi U by Prodia. Layanan khusus untuk memantau, mengelola, dan mencegah risiko penyakit terkait gangguan metabolisme (seperti diabetes dan kolesterol).
“Fitur ini membagi kondisi metabolisme tubuh kita dari Stage 0 (sangat sehat) hingga Stage 3 (sudah terkena penyakit metabolisme seperti diabetes). Faktanya: Sekitar 60% anak muda usia 20–30 tahun (Gen Z) ternyata sudah masuk ke Stage 2 (mulai ada gangguan metabolisme). Padahal, secara fisik penampilan mereka keren, aktif olahraga seperti lari atau sepeda, dan merasa makanannya sudah dijaga,” jelas Andri.
Inilah mengapa, lanjut Andri, kalau deteksi dini sejak awal itu sangat penting. “Kita tidak bisa lagi hanya mengira-ngira kondisi tubuh hanya dari penampilan luar saja,” tandasnya.
Terapi Genetik: Hindari "Coba-Coba" Saat Minum Obat
Menurut Andri, setiap orang memiliki gen yang unik, dan keunikan ini memengaruhi bagaimana tubuh kita merespons obat-obatan maupun produk kecantikan. “Nah, melalui pemeriksaan farmakogenomik, dokter tidak perlu lagi meraba-raba dosis atau jenis obat yang cocok untuk kita,” ucap Andri.
Andri pun mencontohkan kasus sederhana yang sangat dekat dengan keseharian kita:
- Kasus Obat Kolesterol: Banyak orang mengira obat kolesterol yang lebih mahal pasti lebih bagus. Namun, setelah melakukan tes genetik, ada orang yang gen tubuhnya justru tidak merespons obat mahal tersebut, dan malah lebih cocok menggunakan obat yang harganya jauh lebih murah dan ekonomis.
- Skincare yang Tepat: Lewat pemeriksaan genetik kulit dan rambut (skin and hair genomics), kamu juga bisa tahu produk kosmetik apa yang benar-benar cocok dengan DNA kamu, sehingga tidak perlu lagi membuang uang untuk mencoba-coba skincare yang salah.
Selain itu, Clinical Multiomics Centre (PCMC) juga dihadirkan untuk melihat perubahan gen tubuh akibat pengaruh lingkungan (epigenomik) serta mengidentifikasi protein dalam tubuh secara sangat detail. Fasilitas ini dirancang untuk mendeteksi penyakit lebih awal dan memberikan rencana pengobatan khusus bagi setiap pasien.
"Kita pasti sudah tidak asing dengan pemeriksaan Ureum dan Kreatinin untuk cek fungsi ginjal. Tapi tahukah kita? Ketika kadar kreatinin sudah terlanjur tinggi, artinya kerusakan sudah terjadi dan kondisinya sulit untuk dikembalikan. Oleh karena itu, kami memperkenalkan Cystatin C. Mengapa? Karena tes ini jauh lebih sensitif. Bahkan sebelum kreatinin sempat naik, Cystatin C sudah bisa mendeteksi penurunan fungsi ginjal sejak dini. Ini memberi kita kesempatan emas untuk melakukan tindakan pencegahan agar fungsi ginjal bisa kembali normal (reversible). Inilah komitmen kami: bukan sekadar menawarkan tes kesehatan yang biasa, melainkan menghadirkan solusi baru yang jauh lebih preventif sebelum segalanya terlambat," papar Andri.
Mempercepat Layanan dengan Bantuan Kecerdasan Buatan (AI)
Teknologi AI kini juga digunakan sebagai asisten pintar yang membantu para dokter bekerja lebih cepat dan akurat, seperti:
- Membaca Hasil Rontgen & Autoimun: AI membantu menyaring foto rontgen untuk mendeteksi potensi penyakit paru-paru (TBC) atau pembesaran jantung secara instan. Pada tes autoimun, AI membantu menganalisis sampel foto medis di ruang gelap, sehingga dokter bisa memberikan kesimpulan hasil dengan jauh lebih cepat.
- Asisten Virtual "Tania": Untuk layanan pelanggan, asisten virtual kini jauh lebih pintar dalam menjawab pertanyaan dan memberikan rekomendasi kesehatan yang dipersonalisasi selama 24 jam.
Kerja keras dalam berinovasi ini berbuah manis pada performa bisnis di kuartal pertama tahun 2026:
- Pendapatan: Naik menjadi Rp501,4 miliar (tumbuh 3,8% dibanding tahun lalu).
- Laba Bersih: Melonjak luar biasa sebesar 150,1% menjadi Rp17,2 miliar.
- Jumlah Pemeriksaan: Meningkat sebesar 6,5% berkat kepercayaan masyarakat yang terus tumbuh.
Perusahaan juga terus memperluas sayapnya dengan membuka klinik spesialis baru, seperti Autoimmune & Allergy Clinic serta Stem Cell Clinic di Pondok Indah, Jakarta Selatan untuk membantu pasien diantaranya; cedera olahraga atau masalah sendi pada orang tua.
Tidak hanya itu, anak usahanya yaitu Proline/PRDL baru saja resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 9 Juli 2026 untuk memproduksi alat-alat tes kesehatan buatan dalam negeri berkualitas tinggi.
Bagi perusahaan, bisnis harus berjalan beriringan dengan kebaikan sosial. Marina Eka Amalia, Finance, Legal and Sustainability Director, dan juga Corporate Secretary PT Prodia Widyahusada Tbk menyebutkan, sepanjang tahun 2026, mereka aktif menyalurkan bantuan kemanusiaan, mulai dari mendonasikan alat kesehatan ke RSUD Muda Sedia di Aceh, memberikan tes genetik gratis bagi anak-anak dengan penyakit langka, hingga memberikan skrining demensia gratis untuk 20.000 lansia di seluruh Indonesia.
Dengan semua langkah itu, mereka membuktikan bahwa kesehatan masa depan tidak lagi tentang mengobati saat sakit, melainkan bagaimana kita merawat dan mengenal tubuh kita sendiri dengan bantuan teknologi terbaik.