ads

Gerakan 1 Hari 1 Telur Bantu Penuhi Asupan Protein Hewani untuk Pertumbuhan Anak yang Lebih Baik

Dwi Retno - Kamis, 13 Agustus 2026
Gerakan “1 Hari 1 Telur“ adalah program sosial JAPFA untuk mengatasi gizi kurang, gizi buruk, dan pencegahan stunting pada anak-anak sekolah di berbagai daerah Indonesia (Foto : Retno)
Gerakan “1 Hari 1 Telur“ adalah program sosial JAPFA untuk mengatasi gizi kurang, gizi buruk, dan pencegahan stunting pada anak-anak sekolah di berbagai daerah Indonesia (Foto : Retno)
A A A

Namanya Banyu Khaizuran, bulan September ini usianya genap 4 tahun. Setiap ditanya, mau makan apa? Jawabannya selalu egg. Banyu lebih suka menyebut egg daripada telur. Mungkin karena sering menonton youtube berbahasa Inggris, jadi kosakata bahasa Inggris-nya lumayan banyak.

Hampir setiap hari selalu ada telur di menu sarapan atau makan siangnya. Bukan Banyu yang bosan, justu sang Bunda-lah yang bosan memasaknya didadar, dicepok, diorak-arik (repeat). Sang Bunda, sampai heran kenapa telur? Bolehkah anak makan telur setiap hari? Hingga, pada suatu kesempatan sang Bunda mengikuti talk show parenting, dari situ pertanyaan yang selama ini bersarang di kepala menemukan jawaban. Menurut dokter yang menjadi pemateri dalam talk show yang Bunda Banyu ikuti menyebutkan bahwa ternyata, kebiasaan makan ibu saat hamil dapat memengaruhi selera atau makanan kesukaan anaknya kelak. Benar saja, saat hamil Bunda Banyu tidak pernah absen makan telur. Jadi kalau saat hamil, sang Ibu sukanya makan junk food, jangan heran kalau si kecil juga mengikutinya ya Moms. Dari pengalaman Bunda Banyu ini penting digarisbawahi, saat hamil sebaiknya Ibu membiasakan untuk makan makanan yang sehat, bergizi kaya serat dan juga bervariasi. Biar kelak tidak menemui drama si kecil tidak suka makan sayur atau susah makan buah.    

Tak hanya Bunda Banyu, mungkin para Moms di rumah juga bertanya – tanya, bolehkah anak makan telur setiap hari? Jawabannya adalah boleh! Anak boleh makan telur setiap hari asalkan dimasak hingga matang sempurna (bagian putih dan kuningnya benar-benar padat untuk mencegah infeksi bakteri Salmonella) dan porsinya sesuai usia, yaitu 1 butir per hari untuk balita. Mitos bahwa telur menyebabkan bisul adalah salah; telur justru sangat baik untuk mencegah stunting dan mendukung pertumbuhan anak. Kandungan protein yang tinggi pada telur dapat  membantu menaikkan berat dan tinggi badan anak. Sedangkan kandungan kolin pada telur dapat mendukung kesehatan dan fungsi otak serta daya ingat anak. Begitu pula kandungan vitamin dan Mineral pada telur dapat menjaga daya tahan tubuh serta kesehatan mata.

Telur adalah bahan makanan asal hewan yang bernilai gizi tinggi, kaya protein, lemak, vitamin, serta mineral yang mudah dicerna oleh tubuh. Satu butir telur ayam berukuran sedang (sekitar 50 gram) mengandung sekitar 75 kalori, 6–7 gram protein berkualitas tinggi, 5 gram lemak, dan kurang dari 1 gram karbohidrat. Adapun kandungan utama telur adalah protein ada di putih dan kuning telur untuk membantu membentuk sel serta otot. Lemak sehat dan kolesterol baik terkonsentrasi di bagian kuning telur. Telur kaya akan vitamin seperti; A, D, E, K, dan B-kompleks (termasuk B12 dan folat), tetapi telur tidak punya vitamin C. Telur juga mengandung mineral seperti zat besi, fosfor, selenium, kalsium, dan magnesium dan kolin.

Telur bernilai gizi tinggi, kaya protein, lemak, vitamin, mineral yang mudah dicerna tubuh
Telur bernilai gizi tinggi, kaya protein, lemak, vitamin, mineral yang mudah dicerna tubuh

Menilik kandungan dan manfaat telur yang sangat baik untuk pertumbuhan anak, membuat perusahaan agri-pangan (agri-food) terbesar dan terkemuka di Indonesia yang bergerak di bidang produksi protein hewani, peternakan, dan pakan ternak sejak tahun 1975 ini menegaskan kembali komitmennya guna mendukung tumbuh kembang generasi muda. Salah satu programnya adalah ‘1 Hari 1 Telur’ Gerakan "1 Hari 1 Telur" adalah program sosial untuk mengatasi gizi kurang, gizi buruk, dan pencegahan stunting pada anak-anak sekolah di berbagai daerah Indonesia.

Isu gizi anak masih menjadi tantangan. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 11 persen anak usia 5–12 tahun berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk. Sementara data pada 2025 di sembilan lokasi program menunjukkan 1.034 dari 15.498 siswa atau 6,6 persen mengalami malagizi.

Pada 2024, JAPFA for Kids menjangkau 7 kabupaten/kota. Dari 15.518 siswa, 1.479 anak dengan gizi kurang jadi fokus program. Setelah program berjalan, status gizi 762 anak atau 51,5 persen berhasil meningkat. Tahun 2025, program diperluas ke 9 kabupaten/kota dengan 123 sekolah sasaran. Dari 1.034 siswa malnutrisi, 646 siswa atau 62,5 persen mengalami peningkatan status gizi menjadi baik.

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, menjelaskan JAPFA for Kids menjalankan strategi terintegrasi. Di antaranya pemberian protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa malagizi, pemantauan berat dan tinggi badan lewat aplikasi digital, serta pembiasaan hidup sehat. Program juga dilengkapi edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, dan monitoring berkala. “Kami percaya membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak-anak mendapat asupan gizi baik dan tumbuh di lingkungan yang mendukung pola hidup sehat,” ujarnya.

Fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini adalah banyak anak mengonsumsi makanan yang dominan karbohidrat, seperti nasi, mi, atau makanan murah tinggi kalori, tetapi rendah protein. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti keterbatasan ekonomi keluarga, harga sumber protein hewani yang dianggap mahal, kurangnya edukasi gizi, distribusi pangan bergizi yang belum merata. Di beberapa daerah, konsumsi protein hewani anak masih jauh di bawah kebutuhan harian. Padahal masa balita dan usia dini merupakan periode penting pembentukan jaringan tubuh dan perkembangan otak. Prof. drg. Drg. Sandra Fikawati, MPH Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan (PKGK) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, menyebutkan pentingnya protein untuk tumbuh kembang anak.  

“Jangan dianggap sepele kekurangan protein hewani pada anak dapat berdampak pada gangguan pertumbuhan fisik. Anak menjadi lebih pendek dan berat badan sulit naik karena tubuh kekurangan bahan pembangun sel dan jaringan. Stunting juga merupakan dampak jangka panjang dari kekurangan gizi kronis. Kondisi ini bukan hanya soal tinggi badan, tetapi juga berkaitan dengan perkembangan organ dan fungsi tubuh. Protein hewani mengandung zat penting seperti zat besi, vitamin B12, zinc, dan omega-3 yang mendukung perkembangan saraf dan kecerdasan. Kekurangan dapat menyebabkan daya ingat menurun, kemampuan belajar terganggu, konsentrasi rendah. Protein diperlukan untuk membentuk antibodi dan sistem imun. Anak yang kekurangan protein lebih mudah terkena infeksi, diare, dan penyakit lainnya. Saat dewasa, anak yang mengalami malnutrisi berisiko memiliki: tingkat produktivitas kerja lebih rendah, pendapatan lebih kecil, serta risiko penyakit metabolik lebih tinggi,” jelasnya.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Gerakan 1 Hari 1 Telur Bantu Penuhi Asupan Protein Hewani untuk Pertumbuhan Anak yang Lebih Baik
img
Lewat Kampanye Ini Rasa Kita, Angkat Cerita di Balik Resep Warisan Keluarga
img
Lewat Gerakan Move Beyond Ajak Keluarga Mengurangi Waktu Di Depan Layar dengan Bergerak Bersama
img
Kenali Dulu Sumber Susu Sebelum Memilih Susu Formula Anak