Gerakan Anti Ruam Jangkau 50.000 Ibu dan Bayi, Mengapa Skin Barrier Penting Dijaga Sejak Dini?
Siapa di sini yang anaknya pernah memiliki masalah ruam popok? Ruam popok masih sering dianggap sebagai masalah ringan yang akan hilang dengan sendirinya. Padahal, kondisi ini tidak hanya membuat bayi merasa tidak nyaman, tetapi juga dapat menjadi tanda terganggunya skin barrier atau lapisan pelindung alami kulit. Jika dibiarkan, kulit yang mengalami iritasi berisiko menjadi pintu masuk bakteri maupun jamur yang dapat mengganggu kesehatan bayi.
Kesadaran inilah yang mendorong Baby Happy, produk popok bayi dari WINGS Care untuk memperluas kampanye “Gerakan Anti Ruam” dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional 2026. Setelah berjalan selama dua tahun, program edukasi tersebut kini menargetkan menjangkau 50.000 ibu dan bayi melalui rangkaian kegiatan di 10 kota besar di Indonesia, serta kolaborasi bersama tenaga kesehatan di 450 posyandu, 180 puskesmas, dan 20 rumah sakit di wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, dan Sumatra.
Lebih dari sekadar kampanye, Gerakan Anti Ruam mengajak orang tua memahami bahwa menjaga kesehatan kulit bayi merupakan bagian dari upaya memenuhi hak anak untuk tumbuh sehat, nyaman, dan berkembang secara optimal.
Kulit Bayi Rentan Alami Ruam
Dokter Spesialis Anak, dr. Damar Prasetya, Sp.A., M.Sc., M.Psi.T., menjelaskan bahwa kulit bayi memiliki karakteristik yang berbeda dengan kulit orang dewasa. Salah satu perbedaannya terletak pada skin barrier, yaitu lapisan pelindung alami kulit yang menjadi garis pertahanan pertama tubuh terhadap berbagai paparan dari luar, seperti iritasi, infeksi, dan kehilangan cairan.
“Skin barrier merupakan lapisan pelindung pertama tubuh. Sebelum zat iritan, bakteri, maupun polusi masuk ke lapisan kulit yang lebih dalam, semuanya harus melewati lapisan ini terlebih dahulu,” jelas dr. Damar dalam talkshow bertajuk “Bersama Cegah Ruam Popok, Dukung Tumbuh Kembang Anak Indonesia” yang merupakan rangkaian acara dari Festival Gerakan Anti Ruam 2026 di Summarecon Mal Kelapa Gading (18/7).
Namun, pada bayi, lapisan pelindung tersebut masih berkembang. Kulit bayi lebih tipis, lebih mudah kehilangan kelembapan, dan lebih rentan mengalami iritasi dibandingkan kulit orang dewasa.
Penjelasan tersebut sejalan dengan tinjauan ilmiah yang dipublikasikan dalam Allergy, Asthma & Immunology Research (2025), yang menyebutkan bahwa skin barrier bayi belum berkembang secara sempurna sehingga lebih tipis, lebih permeabel (mudah ditembus) terhadap paparan dari luar.
Menurut dr. Damar, area popok menjadi bagian tubuh yang paling rentan mengalami gangguan skin barrier. Pasalnya, kulit pada area tersebut setiap hari mengalami gesekan sekaligus terpapar urine dan feses.
“Kalau skin barrier rusak, zat-zat iritan akan lebih mudah masuk ke dalam kulit dan menimbulkan berbagai masalah. Pada area popok, risiko iritasi meningkat karena adanya kelembapan, gesekan, serta paparan urine dan feses yang berlangsung berulang," ujarnya.
Ruam Popok Bukan Hanya Soal Kulit Memerah
Banyak orang tua menganggap ruam popok hanya sebatas kemerahan pada kulit. Padahal, menurut dr. Damar, dampaknya bisa lebih besar jika tidak segera ditangani.
"Rusaknya skin barrier dan kondisi ruam popok dapat mengganggu tumbuh kembang anak secara optimal karena kulit yang iritasi berpotensi menjadi jalan masuk infeksi bakteri maupun jamur," jelasnya.
Karena itu, menjaga kesehatan kulit bukan hanya bertujuan membuat bayi merasa nyaman, tetapi juga membantu melindungi tubuhnya dari risiko infeksi.
Mencegah Ruam Popok
Mencegah ruam popok sebenarnya dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari. dr. Damar mengingatkan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan orang tua, yaitu:
- memilih produk popok sesuai dengan usia dan kebutuhan kulit bayi;
- rutin mengganti popok agar urine dan feses tidak terlalu lama bersentuhan dengan kulit;
- memilih popok dengan ukuran yang sesuai dan daya serap yang baik untuk membantu menjaga kulit tetap kering dan terlindungi
Langkah-langkah sederhana tersebut membantu menjaga skin barrier tetap sehat sehingga risiko iritasi dapat diminimalkan.
Pentingnya Edukasi dan Memilah Informasi
Dalam dua tahun pelaksanaan Gerakan Anti Ruam, diamati bahwa tantangan orang tua saat ini bukan hanya memilih produk yang tepat, tetapi juga menyaring informasi yang beredar.
Senior Brand Manager Baby Happy, Fransisca Vania Harista, mengatakan bahwa banyak orang tua memperoleh informasi parenting dari media sosial maupun berbagai platform digital. Sayangnya, tidak semua informasi tersebut dapat dipastikan kebenarannya.
"Kami menyadari bahwa yang dibutuhkan orang tua bukan hanya produk yang berkualitas, tetapi juga informasi yang benar. Karena itu, Gerakan Anti Ruam kami lanjutkan sebagai edukasi berkelanjutan dengan melibatkan tenaga kesehatan agar para orang tua mendapatkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan," ujar Vania.
Melalui kolaborasi dengan tenaga kesehatan di ratusan posyandu, puskesmas, dan rumah sakit, mereka berharap semakin banyak keluarga memahami pentingnya menjaga kesehatan kulit bayi sejak dini sebagai bagian dari tumbuh kembang yang optimal.
Selain edukasi, dihadirkan juga inovasi melalui Baby Happy Soft & Comfort, popok yang telah teruji klinis hipoalergenik untuk membantu mengurangi risiko ruam popok pada kulit bayi sensitif. Produk ini dilengkapi teknologi Soft Touch sehingga permukaan popok 2x lebih lembut dan kemampuan serap cepat yang membantu menjaga permukaan popok 2x lebih kering. Dengan begitu membantu meminimalkan paparan kelembapan pada kulit bayi sehingga tetap nyaman dalam beraktivitas sehari-hari.
Festival Gerakan Anti Ruam 2026 turut menghadirkan Joshua Suherman, Brand Ambassador Baby Happy sekaligus ayah, yang berbagi pengalamannya menjalani peran sebagai orang tua.
Menurut Joshua, tantangan terbesar orang tua saat ini bukan lagi minimnya informasi, melainkan banyaknya informasi yang sering kali membuat bingung. "Informasi parenting sekarang sangat banyak dan datang dari berbagai sumber. Sebagai orang tua, kita perlu belajar memilih mana yang benar-benar tepat untuk diterapkan," ujarnya.
Joshua juga menilai pengasuhan anak tidak seharusnya menjadi tanggung jawab ibu seorang diri. Di keluarganya, ia dan sang istri memilih berbagi peran secara fleksibel. "Kami tidak membuat pembagian tugas yang kaku. Siapa yang sedang bisa melakukannya, ya dilakukan saja. Yang terpenting adalah sama-sama hadir untuk anak," katanya.
Menurut dr. Damar, keterlibatan ayah dalam pengasuhan merupakan perkembangan yang sangat positif. Semakin banyak ayah yang aktif mengganti popok, menemani anak, maupun mengikuti kegiatan parenting menunjukkan bahwa pengasuhan merupakan tanggung jawab kedua orang tua.
Kesehatan Kulit Termasuk Hak Anak
Upaya menjaga kesehatan kulit bayi juga menjadi bagian dari pemenuhan hak anak. Muhammad Soleh, Deputi Pemenuhan Hak Anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menegaskan bahwa setiap anak berhak memperoleh perlindungan, kesehatan, pendidikan, serta kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Menurutnya, tanggung jawab tersebut tidak hanya berada di tangan orang tua, tetapi juga memerlukan kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, media, komunitas, dan masyarakat.
"Pemenuhan hak anak merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, seluruh pihak perlu berkolaborasi untuk menciptakan lingkungan yang mendukung anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal," ujarnya.
Semangat kolaborasi tersebut juga diwujudkan melalui Seremoni Penandatanganan Piagam Dukungan Gerakan Anti Ruam sebagai simbol kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan ruam popok dan menjaga kesehatan kulit anak sejak dini.
Festival tersebut menjadi pembuka rangkaian Gerakan Anti Ruam di 10 kota besar di Indonesia. Berbagai aktivitas edukatif dan interaktif, seperti parade stroller, baby fun'athlon, aksi ganti popok serentak, meet and greet bersama Kinderflix, hingga Laboratorium Anti Ruam, dihadirkan untuk membantu orang tua memahami pentingnya menjaga kesehatan kulit bayi dengan cara yang menyenangkan.
Moms, menjaga skin barrier bukan hanya soal mencegah ruam popok. Langkah sederhana seperti rutin mengganti popok, menjaga kebersihan area popok, memilih produk yang sesuai, serta membekali diri dengan informasi yang benar dapat menjadi bagian dari upaya orang tua mendukung anak tumbuh sehat, nyaman, dan berkembang secara optimal sejak hari-hari pertama kehidupannya.