ads

Inovasi AI dalam Mengenali Trauma Masa Kecil

Novita Sari - Jumat, 03 Juli 2026
Peneliti Monash University, Indonesia memperkenalkan prototipe platform Kita Bersama, sebuah inovasi berbasis AI yang dirancang untuk membantu skrining awal dan penanganan gangguan kesehatan mental. Foto: Ist
Peneliti Monash University, Indonesia memperkenalkan prototipe platform Kita Bersama, sebuah inovasi berbasis AI yang dirancang untuk membantu skrining awal dan penanganan gangguan kesehatan mental. Foto: Ist
A A A

Pengalaman buruk di masa kecil (adverse childhood experiences atau ACE) dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental seseorang. Di Indonesia, sekitar 78% remaja mengaku pernah mengalami pengalaman tersebut, yang berpotensi meningkatkan risiko kecemasan, depresi, hingga trauma berkepanjangan.

Menanggapi tantangan tersebut, para peneliti dari Monash University, Indonesia tengah mengembangkan platform digital berbasis kecerdasan artifisial (AI) bernama Kita Bersama untuk mendukung deteksi dini serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak pengalaman buruk di masa kecil.

Platform ini dikembangkan melalui pendekatan co-design yang melibatkan anak muda, orang tua, guru, tenaga kesehatan, serta penyintas gangguan kesehatan mental agar sesuai dengan konteks sosial, budaya, dan sistem kesehatan di Indonesia.

Kehadiran AI dalam platform ini tidak ditujukan untuk menggantikan peran psikolog maupun psikiater, melainkan sebagai alat skrining awal yang membantu mengidentifikasi individu yang membutuhkan penanganan lebih lanjut oleh tenaga professional.

AI untuk Mengelola Dampak

Sebuah studi tahun 2024 yang diterbitkan dalam Journal of Medicine, Surgery, and Public Health mengungkapkan bahwa AI mampu mendeteksi perubahan emosional seseorang sejak dini melalui bahasa yang digunakan, pola tidur, aktivitas fisik, serta interaksi.

Kemampuan ini didukung oleh kapasitas sistem AI dalam mengenali pola dan menganalisis data dalam jumlah besar. Sistem serupa juga memungkinkan AI untuk melakukan skrining awal terhadap gangguan kesehatan mental, termasuk mengidentifikasi pengalaman buruk di masa kecil sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Kolaborasi dengan para Penyintas

Agar dapat dimanfaatkan secara tepat sasaran, pengembangan AI perlu disesuaikan dengan konteks lokal dan kebutuhan masyarakat Indonesia. Hal ini mencakup sistem kesehatan, pendidikan, bahasa, budaya, serta dinamika keluarga dalam pengambilan keputusan medis.

Tujuannya adalah mengurangi risiko bias diagnosis akibat keterbatasan AI dalam memahami konteks sosial, budaya, dan sistem kesehatan di Indonesia.

Selain berpotensi menghasilkan diagnosis yang keliru, bia AI juga dapat memperburuk stigma terhadap kelompok rentan.

Oleh karena itu, dalam pengembangan platform, tim peneliti menyelenggarakan serangkaian lokakarya co-design. Lokakarya ini melibatkan peserta berusia 10–24 tahun, orangtua dan guru mereka, serta tenaga kesehatan.

Dalam proses tersebut, para peserta diajak berdiskusi mengenai bagaimana platform ini dapat membantu anak muda meningkatkan kemampuan mereka beradaptasi di bawah bayang-bayang pengalaman buruk di masa kecil.

Hal lain yang turut dibahas mencakup bagaimana platform ini dapat membantu orangtua meningkatkan keterampilan pengasuhan, serta bagaimana sistem pendidikan dan kesehatan dapat mendukung tujuan tersebut.

Setelah melalui serangkaian proses tersebut, model AI kemudian dapat dirancang untuk mendukung kebutuhan pengguna secara tepat.

Hingga pertengahan 2026, para peneliti telah menyelesaikan proses co-design dengan anak muda dan orangtua di Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Jakarta. Dari proses ini, mereka memperoleh wawasan penting mengenai kebutuhan layanan kesehatan mental digital di tingkat lokal. 

Prototipe yang dihasilkan saat ini sedang menjalani tahap konsultasi dengan para ahli dan stakeholder, termasuk Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sebelum uji coba dilakukan secara sukarela di Jawa Barat dan Kalimantan Timur pada akhir 2026. Hasil lengkap dari uji coba tersebut diperkirakan akan tersedia pada Februari 2027.

Tim peneliti juga melibatkan para penyintas gangguan kesehatan mental. Keterlibatan ini penting agar platform yang dikembangkan benar-benar mampu menjawab kebutuhan para penyintas. 

AI Mendukung Bukan Menggantikan

Kehadiran platform tersebut bukan untuk menggantikan peran psikolog atau psikiater. Karena itu, pengguna platform yang terindikasi mengalami tanda-tanda masalah kesehatan mental akibat pengalaman buruk di masa kecil mereka akan tetap diarahkan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa AI belum dapat menggantikan aspek keterhubungan dan empati dalam interaksi antarmanusia, khususnya antara pasien dan terapis. Padahal, kedua aspek tersebut merupakan inti dari proses pemulihan dalam terapi psikologis.

Tantangan Lain di Masa Depan

Perkembangan platform Kita Bersama tentu masih menghadapi banyak tantangan agar benar-benar dapat berperan secara luas dalam memenuhi kebutuhan pengguna layanan kesehatan mental di Indonesia.

Kesenjangan digital yang masih lebar tetap menjadi salah satu tantangan utama. Di banyak daerah terpencil, akses internet masih terbatas, perangkat yang tersedia belum memadai, dan literasi kesehatan digital masyarakat masih rendah.

Selain itu, isu etika dan privasi juga perlu mendapat perhatian serius. Informasi terkait kesehatan mental termasuk kategori data yang sangat sensitif dan rentan disalahgunakan. Oleh karena itu, proses pengumpulan, penyimpanan, dan penggunaan data tersebut harus sejalan dengan prinsip transparansi, persetujuan berdasarkan informasi yang memadai (informed consent), serta perlindungan data yang ketat.

Semua penerapan ini juga harus disertai prinsip kehati-hatian dengan memastikan privasi, akurasi, informed consent, dan pengawasan manusia. 

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Lawan Gizi Buruk di Era Digital, Bidan Neng Ira Sukses Ubah Materi Edukasi Jadi Konten Seru
img
Inovasi AI dalam Mengenali Trauma Masa Kecil
img
Cek Komposisi Sebelum Memilih Nutrisi Anak, Ini yang Perlu Diperhatikan Orang Tua Selain Informasi Nilai Gizi!
img
Seribu Bidan Dibekali Pengetahuan Mikronutrien untuk Dampingi Ibu pada Masa MPASI