Kartini Masa Kini di Dunia Kerja: Cerita Perempuan yang Berani Melangkah dan Memimpin
Hari ini tanggal 21 April, Indonesia memperingati Hari Kartini. Ya, semangat R.A. Kartini tak pernah benar-benar usang. Di tengah dinamika dunia kerja modern, nilai keberanian, kesetaraan, dan kesempatan yang diperjuangkannya dahulu masih terasa relevan hingga kini, terutama bagi para perempuan yang kini meniti karier di berbagai bidang, termasuk yang selama ini didominasi laki-laki.
Di perusahaan FMCG (Fast-Moving Consumer Goods) seperti PT Heinz ABC Indonesia (Kraft Heinz Indonesia), semangat Kartini itu hidup dalam keseharian para karyawannya, terutama karyawan perempuan. Salah satunya terlihat dari perjalanan Rezky Yulyanti Isa (36), yang sejak awal berani menantang batas.
Berani Memulai dari Lapangan
Rezky memulai kariernya di bidang penjualan pada tahun 2013 sebagai tenaga penjualan (Salesperson), sebuah keputusan yang tidak mudah. Rezky harus terjun langsung ke pasar-pasar di wilayah Sulawesi, bahkan menjadi satu-satunya perempuan dalam tim. Pekerjaannya tak hanya menawarkan produk dari perusahaan seperti kecap, sambal, sarden dan sebagainya ke calon pelanggan, tetapi juga mengangkat barang. Tak jarang, ia bahkan turut menumpang mobil truk bersama sopir dan Sales Helper.
Keraguan dari sekitar sempat muncul, bahkan ada yang memprediksi ia tidak akan bertahan lama dan hanya sanggup 5 bulan saja. Namun, justru dari situlah tekadnya tumbuh. Semangatnya terbakar. Ketekunan dan keberanian membawa Rezky hingga kini menjabat sebagai Head of Region di Kraft Heinz Indonesia, perusahaan pemilik merek ABC untuk produk kecap, sambal, sirup, sarden, dan minuman dalam kemasan. Rezky memimpin wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat. Ia merupakan bagian dari 25% karyawan perempuan di bagian Penjualan.
Di balik peran strategisnya, Rezky juga menjalani peran sebagai ibu baru bagi anak pertamanya yang belum berusia satu tahun dan masih dalam fase menyusui. Baginya, menjadi perempuan justru menjadi kekuatan. Ia merasa lebih terbuka dalam berkomunikasi, mampu berempati, bersedia lebih banyak mendengar sehingga semakin terbuka ruang diskusi untuk mencari solusi. Selain itu, perempuan juga lebih terbiasa melakukan beberapa tugas secara bersamaan atau multitasking.
Tumbuh dari Proses Panjang
Kisah inspiratif lainnya datang dari Fariatun (52), seorang Line Leader yang telah mengabdikan diri sejak 1996 di fasilitas manufaktur milik perusahaan multinasional yang sama di Pasuruan, Jawa Timur.
Perjalanannya tidak instan. Ia pernah berpindah-pindah bagian, mulai dari assembling, packing, hingga cleaning, sebelum akhirnya dipercaya menjadi Line Leader. Awalnya, tantangan datang dari rasa gugup akibat bekerja pada tim yang didominasi laki-laki dan terkadang sulit menerima arahan baru darinya. Namun, Fariatun memilih untuk memimpin dengan memberi contoh.
Kini, ia bertanggung jawab memastikan target produksi berjalan lancar sesuai jadwal, dengan fokus pada pengaturan orang, jadwal, dan supply produksi. Fariatun termasuk dalam 25% karyawan perempuan di bagian Manufacturing Operative (Operator Produksi). Bagi Fariatun, semangat Kartini bukan hanya tentang kesetaraan, tetapi juga keberanian mengambil peran. Ia percaya perempuan memiliki empati tinggi sekaligus ketegasan yang dibutuhkan dalam kepemimpinan.
Rezky dan Fariatun berada di antara 32% karyawan perempuan dari total lebih dari 1.300 karyawan tetap di perusahaan yang menjunjung tinggi nilai “We Demand Diversity” dan “We Champion Great People” tersebut.
Lingkungan Kerja yang Mendorong Perempuan Bertumbuh
Cerita Rezky dan Fariatun mencerminkan bagaimana perusahaan membuka ruang bagi perempuan untuk berkembang dan bertumbuh. Ini menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi bagian penting dalam pertumbuhan bisnis, baik di garis depan penjualan maupun di balik layar produksi.
Dina Sitopu, People & Performance Director Kraft Heinz Indonesia, menegaskan pentingnya lingkungan kerja yang inklusif. “Kami yakin setiap individu, termasuk perempuan, memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan berkontribusi. Komitmen ini tidak hanya bersifat prinsip, tetapi juga tercermin dalam berbagai data dan inisiatif,” ujarnya.
Hal ini dibuktikan dengan peningkatan keterwakilan perempuan di posisi Indonesia Leadership Team dari 44% pada tahun 2023 menjadi 71% pada tahun 2026.
Dina mengatakan, perusahaan menghadirkan berbagai program seperti Women Leadership Institute dan Women Leadership Forum, yang dirancang untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan perempuan. Sementara itu, Early Talent Leadership Program membuka peluang bagi generasi muda perempuan untuk berkarier di bidang manufaktur, area yang selama ini didominasi oleh laki-laki.
Menguatkan Peran Perempuan di Dunia Kerja
Data Survei Angkatan Kerja Nasional Agustus 2025 menunjukkan bahwa perempuan masih menghadapi tantangan dalam dunia kerja formal. Data Agustus 2025 menunjukkan ada sebanyak 146,54 juta penduduk yang bekerja. Dari jumlah tersebut, sebanyak 42,20% bekerja di sektor formal, dengan mayoritas atau 65,34% pekerja laki-laki, sedangkan perempuan hanya 34,66%.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa upaya membuka akses dan kesempatan setara masih perlu terus dilakukan. “Dalam momentum Hari Kartini, kami memaknai semangat perjuangan R.A. Kartini sebagai pengingat akan pentingnya membuka akses dan kesempatan yang setara bagi perempuan untuk terus berkembang dan berdaya. Ke depan, perusahaan akan terus mendorong representasi perempuan dalam organisasi melalui berbagai program yang dikembangkan untuk memberdayakan karyawan perempuan agar dapat terus bertumbuh secara berkelanjutan,” tutup Dina.