ads

Kasus kanker di  Indonesia Meningkat, Teknologi AI Bantu Percepat Diagnosis Kanker Payudara dan Skrining Kanker Paru

Efa Trapulina - Jumat, 27 Februari 2026
AstraZeneca Indonesia dan Siloam International Hospitals hadirkan inovasi AI pertama di Indonesia untuk transformasi layanan kanker (Foto: Efa)
AstraZeneca Indonesia dan Siloam International Hospitals hadirkan inovasi AI pertama di Indonesia untuk transformasi layanan kanker (Foto: Efa)
A A A

Sebagai ibu, Moms pasti ingin semua anggota keluarga dalam keadaan sehat. Di antara kesibukan, tak lupa memastikan anak tetap baik, suami tetap fit bekerja, dan orang tua terpantau kondisinya. Ketika fisik terlihat segar bugar, kita acap menyimpulkan bahwa semua sehat.

Namun, ada satu hal yang serius terlewat, yakni deteksi dini penyakit serius seperti kanker. Padahal data menunjukkan jumlah kasus kanker di Indonesia terus meningkat.  Saat ini sekitar 400 ribu kasus baru kanker terdeteksi setiap tahunnya dengan angka kematian mencapai 240 ribu kasus.

Bahkan berdasarkan studi, jumlah kasus kanker di Indonesia diproyeksikan akan melonjak hingga lebih dari 70 persen pada 2050 jika langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat.  Ini bukan untuk menakut-nakuti tapi jadi pengingat bahwa kesadaran sejak awal memang dibutuhkan.

Kenapa ini menjadi penting? Karena fakta dilapangan, banyak kasus kanker di Indonesia baru terdiagnosis pada stadium lanjut. Ini berdampak pada terbatasnya pilihan terapi, meningkatnya kompleksitas penanganan dan biaya pengobatan, serta menurunnya peluang keberhasilan pengobatan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya deteksi dini dan upaya pemeriksaan diagonistik yang lebih akurat guna meningkatkan efektivitas pengobatan kanker secara berkelanjutan.

Untuk menjawab tantangan besar tersebut, dalam momentum peringatan Hari Kanker Sedunia yang diperingati setiap 4 Februari, AstraZeneca Indonesia bersama Siloam International Hospitals menegaskan kembali komitmen strategis dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini kanker di Indonesia. Komitmen tersebut diwujudkan melalui sesi diskusi bersama para pakar kesehatan di bidang onkologi yang membahas optimalisasi pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam mendukung proses diagnosis kanker payudara dan skrining kanker paru di Indonesia.

Sejalan dengan inisiatif tersebut, kemitraan ini juga menghadirkan implementasi teknologi AI yang untuk pertama kalinya diterapkan di Indonesia, sebagai upaya mendukung proses diagnosis kanker payudara dan skrining kanker paru yang lebih akurat, cepat, dan efisien.

Berdasarkan data GLOBOCAN, khusus untuk kanker payudara tercatat sekitar 65 ribu kasus baru dan lebih dari 22 ribu kematian pada tahun 2020. Sebagian kasus kanker payudara berkaitan dengan ekspresi Human Epidermal Growth Factor Receptor 2 (HER2), yaitu salah satu protein yang dapat mendorong pertumbuhan sel kanker secara lebih agresif.

“Melalui implementasi teknologi AI sebagai pendamping tenaga medis, proses identifikasi tipe kanker payudara—termasuk status HER2 beserta subkategorinya—dapat dilakukan lebih cepat dan akurat. Hal ini diharapkan mendukung pengambilan keputusan terapi yang lebih tepat dan tepat waktu di praktik klinis,” jelas Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik dalam sesi diskusi bertajuk ”Hari Kanker Sedunia: Transformasi Skrining dan Diagnosis Kanker dengan AI” di Hotel Raffles Jakarta (25/2/26).

Dari sisi patologi anatomi, kolaborasi kedua instansi ini juga telah telah melakukan integrasi AI menggunakan teknologi AI dari Mindpeak Germany. Teknologi AI ini membantu dalam proses analisis digital jaringan patologi untuk mengidentifikasi status HER2 pada pasien kanker payudara sampai dengan ekspresi HER2 yang sangat kecil. 

Dengan dukungan teknologi terbaru ini, hasil patologi anatomi dapat diakses secara real-time di seluruh jaringan rumah sakit Siloam di Indonesia dan secara mobile, sehingga dapat meningkatkan akurasi, memangkas waktu interpretasi, pengiriman hasil, dan mempercepat pengambilan keputusan klinis.

Para pembicara
David Utama, Presiden Direktur Siloam International Hospitals (no.3), Esra Erkomay, President Director Astrazeneca Indonesia (no. 4) beserta para pembicara dalam sesi diskusi "Transformasi Skrining dan Diagnosis Kanker dengan AI”

Dr. dr. Patricia Diana Prasetyo, MSi.Med, Sp.PA, menyoroti peran kecerdasan buatan (AI) dalam meningkatkan kualitas pemeriksaan diagnostik kanker payudara. “Terapi target anti-HER2, bila diberikan secara tepat, dapat memperpanjang kelangsungan hidup dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Karena itu, penilaian (scoring) status HER2 harus akurat dan konsisten. Data dari studi yang dipresentasikan pada ASCO Annual Meeting 2025 menunjukkan bahwa pemanfaatan AI sebagai pendamping penilaian HER2 dapat meningkatkan deteksi HER2-ultra low sebesar 40 % dibandingkan penilaian konvensional.  Pemanfaatan AI juga dapat meningkatkan akurasi penilaian hingga sekitar 92% serta memperbaiki konsistensi antar-pemeriksa dari 66% menjadi 82%, terutama pada subkategori HER2-low dan HER2-ultralow, sehingga dapat memperkuat ketepatan klasifikasi dan pengambilan keputusan klinis,“ jelasnya.

Selain kanker payudara, data GLOBOCAN 2020 juga menunjukkan bahwa kanker paru menempati urutan ketiga sebagai jenis kanker dengan jumlah kasus baru terbanyak di Indonesia.

Kanker paru umumnya ditandai dengan terbentuknya nodul atau benjolan yang tumbuh secara tidak terkendali dan berpotensi berkembang menjadi ganas. Nodul yang bersifat kanker umumnya berukuran lebih besar, dengan bentuk yang cenderung bergelombang atau tajam, serta memiliki tekstur semi-padat atau tidak padat. Kondisi ini sejatinya dapat diantisipasi melalui deteksi dini, mengingat pembentukan nodul pada paru dapat menjadi salah satu indikasi awal kanker paru. 

“Dalam hal ini, proses skrining penyakit paru khususnya kanker paru dengan bantuan teknologi AI dapat membantu dokter melakukan deteksi secara lebih efisien,” jelas dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D., Sp.P(K), Subspesialis Onkologi Toraks.

dr. Dewi Tantra Hardiyanto, Sp.Rad, dokter spesialis radiologi yang berpengalaman dalam skrining dan deteksi dini kanker paru juga berpedapat sama, ”Dalam pemeriksaan foto toraks, sistem berbasis AI dapat membantu menandai area yang dicurigai sebagai nodul paru yang memerlukan evaluasi lanjutan melalui pemeriksaan CT scan untuk karakterisasi yang lebih detail. Deteksi ini memungkinkan pasien diarahkan lebih cepat dan tepat untuk pemeriksaan lanjutan,” katanya.

Perlu diingat, tidak semua nodul paru adalah kanker sebab sebagian nodul bersifat jinak dan tidak memerlukan tindakan agresif. “Yang kami nilai adalah karakteristik nodul serta faktor risiko pasien untuk menentukan tingkat kecurigaannya. AI membantu menandai nodul yang perlu dikaji lebih lanjut, namun penting dipahami bahwa AI tidak menggantikan peran dokter. Keputusan klinis tetap berada di tangan dokter, yang mengintegrasikan hasil teknologi dengan kondisi pasien secara menyeluruh. Kolaborasi antara teknologi dan keahlian medis inilah yang memperkuat upaya deteksi dini dan meningkatkan kualitas layanan bagi pasien.” ungkap dr. Dewi. 

Terkait hal tersebut, AstraZeneca Indonesia dan Siloam International Hospitals telah bekerja sama mengintegrasikan sistem berbasis AI melalui software Qure.ai untuk membantu mendeteksi berbagai kelainan paru. Teknologi ini juga dilengkapi dengan sistem penilaian tervalidasi yang mampu membedakan nodul berisiko tinggi yang berpotensi merupakan kanker dan nodul berisiko rendah.

Medical Director AstraZeneca Indonesia, dr. Feddy menyampaikan, “Peningkatan beban kanker di Indonesia menuntut penguatan pendekatan yang lebih terintegrasi, khususnya dalam memastikan diagnosis yang tepat waktu dan akurat. Pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) menjadi langkah strategis untuk mendukung tenaga medis dalam mempercepat proses diagnostik, meningkatkan akurasi interpretasi klinis, serta memperkuat pengambilan keputusan berbasis data.”

"Melalui kolaborasi ini, kami memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung proses skrining dan analisis kanker secara lebih cepat dan tepat, sekaligus memperkuat kapabilitas digital para tenaga kesehatan,” ungkap David Utama, Presiden Direktur Siloam International Hospitals.

Menurutnya, teknologi AI tidak bertujuan menggantikan peran dokter atau tenaga medis, melainkan menjadi pendamping yang memperkaya pengambilan keputusan klinis. ”Kami berkomitmen mengembangkan model layanan yang dapat direplikasi secara nasional, agar masyarakat di seluruh Indonesia dapat mengakses perawatan kanker berstandar internasional tanpa harus ke luar negeri," imbuh David.

Esra Erkomay, President Director Astrazeneca Indonesia, juga menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung transformasi kesehatan nasional, “Kami berkomitmen menghadirkan inovasi berbasis sains yang berdampak nyata bagi pasien. Melalui kolaborasi dengan ini dan pemanfaatan AI, kami berharap dapat memperkuat skrining dini dan diagnosis kanker, meningkatkan kualitas pengobatan, serta mendukung agenda transformasi kesehatan nasional menuju sistem layanan kanker yang lebih efektif dan berkelanjutan,” tutupnya.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Kasus kanker di  Indonesia Meningkat, Teknologi AI Bantu Percepat Diagnosis Kanker Payudara dan Skrining Kanker Paru
img
Busui Ingin Puasa? Simak Panduan Lengkap dari Pakar Laktasi Agar ASI Tetap Lancar
img
Banyak Bayi Alami Ruam Popok Sejak Hari Pertamanya, Berikut Cara Mudah Melindunginya!
img
Ibu Hamil Berpuasa: Antara Ibadah dan Kesehatan, Mana yang Harus Didahulukan?