Kelainan Jantung Bawaan pada Bayi Bisa Tanpa Gejala, Orangtua Perlu Waspada
Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian sejak awal kehidupan. Di Indonesia, diperkirakan sekitar 50.000 bayi lahir dengan penyakit jantung bawaan setiap tahunnya. Angka ini menunjukkan pentingnya meningkatkan kesadaran orangtua terhadap kondisi jantung anak, termasuk memahami tanda-tanda yang kerap tidak disadari.
"Pada beberapa kasus, gejala penyakit jantung bawaan dapat terlihat sejak bayi dilahirkan. Namun, pada kasus lainnya, tanda-tanda baru muncul beberapa minggu atau bulan kemudian. Bayi mungkin terlihat lebih cepat lelah ketika menyusu, bernapas lebih cepat, atau mengalami kesulitan mencapai kenaikan berat badan sesuai usianya," ungkap Dr. Anisa Rahmadhany, SpA, Subsp Kardio, Konsultan Jantung Anak BraveHeart Cardiovascular Center, Brawijaya Hospital Saharjo, Jakarta Selatan dalam keterangannya, Senin (26/10/2026) di Jakarta.
"Gejala tersebut terkadang dianggap sebagai bagian dari proses tumbuh kembang yang normal. Padahal, apabila terjadi secara berulang atau disertai keluhan lain, kondisi tersebut perlu mendapatkan pemeriksaan medis lebih lanjut," tambah Dr. Anisa.
Mengapa Penyakit Jantung Bawaan Tidak Selalu Terlihat Sejak Lahir?
Penyakit jantung bawaan adalah kelainan pada struktur jantung atau pembuluh darah besar yang terbentuk selama masa perkembangan janin. Kelainan ini memiliki beragam bentuk, mulai dari adanya lubang pada sekat jantung, gangguan pada katup jantung, hingga kelainan susunan pembuluh darah besar.
Perbedaan jenis dan tingkat keparahan kelainan membuat gejala yang muncul pada setiap bayi tidak selalu sama. Sebagian bayi mengalami gangguan sirkulasi darah yang berat sejak lahir, sedangkan bayi lainnya dapat terlihat sehat selama beberapa waktu.
Menurut Dr. Anisa, pada kondisi tertentu, tubuh bayi masih mampu menyesuaikan diri dengan kelainan yang ada. "Namun, seiring bertambahnya usia dan meningkatnya kebutuhan oksigen tubuh, gangguan tersebut dapat mulai menimbulkan gejala," ucapnya.
Orangtua perlu memerhatikan perubahan kondisi bayi, terutama apabila bayi terlihat mudah lelah ketika menyusu, sering berhenti untuk mengambil napas, berkeringat berlebihan saat menyusu, atau mengalami kenaikan berat badan yang kurang optimal. Napas yang lebih cepat dari biasanya juga perlu diwaspadai, terlebih jika disertai kesulitan menyusu atau perubahan warna kulit.
"Meski demikian, tanda-tanda tersebut tidak selalu menunjukkan penyakit jantung bawaan. Pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang tepat," tandas Dr. Anisa.
Bayi Menangis Kuat Belum Tentu Bebas dari Kelainan Jantung
Salah satu anggapan yang perlu diluruskan adalah bahwa bayi yang lahir dengan kondisi baik, menangis kuat, dan memiliki skor Apgar normal pasti terbebas dari kelainan jantung.
Skor Apgar merupakan penilaian awal untuk mengetahui kondisi umum bayi pada menit-menit pertama kehidupan. Skor ini bukan alat untuk mendeteksi kelainan struktur jantung. Oleh karena itu, pemeriksaan kondisi bayi setelah lahir perlu dilengkapi dengan skrining yang sesuai.
"Salah satu metode yang dapat digunakan adalah pemeriksaan saturasi oksigen menggunakan alat pulse oximeter pada tangan kanan dan salah satu kaki bayi," kata Dr. Anisa.
Program skrining nasional dapat membantu menemukan kelainan lebih dini. Salah satu pemeriksaan sederhana yang dapat dilakukan adalah pengukuran saturasi oksigen pada tangan dan kaki bayi. Pemeriksaan ini dapat membantu mendeteksi penyakit jantung bawaan kritis. Jika dilakukan tepat waktu, hasilnya dapat mengubah perjalanan kesehatan anak ke depan.
Apabila ditemukan hasil skrining yang tidak normal atau terdapat kecurigaan klinis, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lanjutan, termasuk ekokardiografi atau USG jantung, sesuai kebutuhan.
Deteksi Dini Membuka Peluang Penanganan Lebih Baik
Diagnosis penyakit jantung bawaan sedini mungkin berperan penting dalam menentukan rencana penanganan dan pemantauan tumbuh kembang anak. Penanganan yang diberikan akan disesuaikan dengan jenis kelainan, tingkat keparahan, serta kondisi masing-masing pasien.
Sebagian kelainan jantung bawaan hanya memerlukan pemantauan berkala oleh dokter. Sementara itu, kelainan tertentu membutuhkan pemberian obat, tindakan kateterisasi jantung, atau operasi untuk memperbaiki struktur maupun fungsi jantung.
Kemajuan penanganan medis dalam dua dekade terakhir berkembang sangat pesat. Bila terdeteksi dan ditangani sejak dini, sebagian besar anak dengan kelainan jantung bawaan kini dapat tumbuh dan menjalani kehidupan yang jauh lebih baik dibanding generasi sebelumnya.
"Orangtua sebaiknya memastikan bahwa bayi mendapatkan pemeriksaan kesehatan setelah lahir, termasuk menanyakan kepada dokter atau bidan mengenai skrining penyakit jantung bawaan yang tersedia," saran Dr. Anisa.
"Orangtua juga perlu segera membawa bayi untuk mendapatkan pertolongan medis apabila terlihat kesulitan bernapas, mengalami kebiruan pada bibir atau lidah, atau menunjukkan tanda gangguan kondisi umum. Bayi dengan napas cepat yang menetap, kesulitan menyusu, atau kenaikan berat badan yang tidak optimal juga perlu dievaluasi oleh dokter," pungkas Dr. Anisa.
Penyakit jantung bawaan memang tidak selalu dapat dikenali hanya melalui penampilan bayi. Namun, dengan meningkatkan kewaspadaan, melakukan skrining sesuai anjuran, dan tidak mengabaikan tanda-tanda yang mencurigakan, orangtua dapat membantu memastikan anak memperoleh pemeriksaan dan penanganan sedini mungkin.