Kenali Gangguan Ginjal pada Anak, Cegah Komplikasi Jangka Panjangnya!
Tak hanya terjadi pada orang dewasa, gangguan ginjal juga dapat dialami oleh anak-anak. Penting untuk mengenali gejala gangguan ginjal pada anak sejak dini agar si kecil segera mendapatkan penanganan yang tepat. Dengan demikian, risiko terjadinya komplikasi jangka panjang dapat dicegah.
dr. Henny Adriani Puspitasari, Sp. A, Subsp. Nefro, Dokter Spesialis Anak Subspesialis Nefrologi RS Pondok Indah – Pondok Indah, menyebut ginjal merupakan organ vital yang memiliki banyak fungsi penting bagi tubuh. Organ ini berfungsi mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh, mengaktifkan vitamin D untuk kesehatan tulang, menyaring zat sisa dari makanan dan zat toksik dari dalam darah, berperan dalam pembentukan sel darah merah, memproduksi hormon pengatur tekanan darah, hingga mengatur keseimbangan mineral dalam darah.
“Ginjal yang mengalami gangguan dapat memicu timbulnya berbagai masalah kesehatan. Sayangnya, saat ini kasus gangguan ginjal pada anak tercatat semakin tinggi. Selain dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi meningkatkan kemampuan diagnostik dalam mengidentifikasi kasus menjadi lebih baik,” terangnya.
Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal pada anak, di antaranya:
- Faktor prenatal dan perinatal: prematuritas, berat badan lahir rendah, oligohidramnion, paparan obat nefrotoksik saat kehamilan, diabetes gestasional, dan preeklamsia.
- Faktor genetik dan kongenital: riwayat keluarga dengan penyakit ginjal, Congenital Anomalies of the Kidney and Urinary Tract (CAKUT), sindrom genetik, serta displasia ginjal.
- Penyakit komorbid: diabetes melitus tipe 1 atau tipe 2, hipertensi, lupus, dan obesitas.
- Infeksi: infeksi saluran kemih (ISK) berulang, infeksi streptokokus yang berisiko menyebabkan glomerulonefritis, sepsis neonatal, dan hepatitis B.
- Gaya hidup: konsumsi garam berlebihan dan dehidrasi kronis akibat kurang asupan cairan.
Dengan mengetahui berbagai faktor risiko gangguan ginjal, orang tua diharapkan dapat lebih waspada dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk memelihara kesehatan ginjal anak. Beberapa gangguan ginjal yang paling umum terjadi pada anak, meliputi:
Infeksi Saluran Kemih (ISK). Salah satu gangguan pada sistem kemih yang paling umum terjadi pada anak. Infeksi ini biasanya disebabkan oleh bakteri flora normal di usus besar yang naik melalui uretra menuju kandung kemih. Jika tidak segera ditangani atau dalam kasus beratnya, bakteri dapat naik lebih jauh lagi hingga ke ginjal dan menyebabkan pielonefritis. Proses penyebaran bakteri ini dikenal sebagai ascending infection. Bakteri penyebab ISK antara lain: escherichia coli, yang merupakan penyebab utama ISK pada anak. Diperkirakan sekitar 85–90 persen kasus ISK pada anak disebabkan oleh bakteri ini. Klebsiella pneumoniae (sekitar 5–10 persen kasus), yang lebih sering menyerang bayi baru lahir (neonatus) dan pasien dengan kateter, serta memiliki risiko resistensi Extended-Spectrum Beta-Lactamases (ESBL) yang meningkat. Proteus mirabilis (sekitar 3–5 persen kasus), yang lebih sering ditemukan pada anak laki-laki. Enterococcus sp. (sekitar 3–5 persen kasus), yang sering menginfeksi bayi baru lahir (neonatus) dan pasien dengan sistem imun lemah (immunocompromised)
Gejala ISK pada anak dapat bervariasi. Pada neonatus (usia kurang dari 1 bulan) gejalanya dapat berupa demam, tidak mau menyusu, letargi, icterus (bayi kuning), hingga sepsis. Sementara pada bayi (usia 1-24 bulan), gejalanya dapat berupa demam tanpa sumber yang jelas, rewel, muntah, penurunan nafsu makan, maupun failure to thrive.
Pada anak-anak (usia lebih dari 2 tahun), gejalanya lebih khas sesuai dengan lokasi inflamasi. Jika terjadi uretritis, anak dapat mengalami disuria, pruritus, atau keluarnya sekret dari uretra. Pada sistitis, gejala yang sering muncul meliputi disuria, hematuria, frekuensi berkemih yang meningkat, urine keruh atau berbau tidak sedap, serta nyeri di area suprapubik. Sementara itu, pielonefritis gejalanya dapat berupa demam, flank pain, nyeri perut, muntah, atau manifestasi sistemik lainnya. Penanganan ISK pada anak dilakukan dengan penegakan diagnosis yang tepat dan pemilihan antibiotik secara rasional berdasarkan pola sensitivitas bakteri penyebab infeksi.
Sindrom Nefrotik. Sindrom nefrotik adalah kumpulan gejala yang terdiri dari kebocoran protein masif dari air seni dan bengkak. Berdasarkan penyebab utamanya, sindrom nefrotik dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu sindrom nefrotik kongenital (bawaan), sindrom nefrotik primer (idiopatik), dan sindrom nefrotik sekunder. Gejalanya dapat meliputi edema periorbital yang tampak pertama kali, edema perifer (tungkai bawah, skrotum), bersifat pitting jika ditekan, kenaikan berat badan, asites dan efusi, urine berbusa, dan gejala sistemik (nafsu makan menurun, mudah lelah, rentan terhadap infeksi). Penanganan sindrom nefrotik dilakukan dengan pemberian obat-obatan sesuai anjuran dokter, pengaturan pola makan, pemantauan kondisi anak secara rutin, pencegahan dan penanganan infeksi, dan pembengkakan (edema).
Hipertensi. Hipertensi dan penyakit ginjal pada anak memiliki hubungan yang saling berpengaruh. Penyakit ginjal kronis dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, sedangkan hipertensi yang tidak terkontrol dapat mempercepat kerusakan ginjal sehingga fungsi ginjal memburuk lebih cepat. Tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah ginjal, meningkatkan tekanan di dalam glomerulus, meningkatkan risiko gagal ginjal jangka panjang, dan mempercepat progresi penyakit ginjal kronis (Chronic Kidney Disease/CKD). Sebagai informasi, anak dengan CKD yang mengalami hipertensi cenderung mengalami penurunan fungsi ginjal lebih cepat dibandingkan anak CKD dengan tekanan darah terkontrol. Mengelola tekanan darah terbukti dapat memperlambat progresi CKD dan memberikan manfaat terbesar bagi pasien.
Gangguan ginjal yang tidak mendapatkan penanganan optimal dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan jangka panjang, seperti:
- Gangguan ginjal pada anak dapat mengganggu proses tumbuh kembang. Akibatnya, tinggi badan anak kurang maksimal dan berdampak terhadap kualitas hidup saat dewasa.
- Tekanan darah tinggi dan penebalan otot jantung, sehingga memicu penyakit jantung atau stroke di kemudian hari.
- Gangguan kesehatan tulang dan peningkatan risiko fraktur.
- Kerusakan penyaringan ginjal yang semakin parah, sehingga menyebabkan fungsi ginjal menurun.
- Proteinuria/glomerular injury, yakni kebocoran protein pada urine yang menyebabkan percepatan kerusakan ginjal.
Gangguan ginjal pada anak tidak boleh dianggap sepele. Deteksi dini, penanganan yang sesuai, dan penerapan gaya hidup sehat dapat membantu menjaga fungsi ginjal sekaligus mencegah komplikasi jangka panjang. Dengan begitu, anak dengan gangguan ginjal tetap dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Dokter Henny menyarankan cara mudah menjaga kesehatan dan fungsi ginjal anak dengan prinsip "SAHABAT Ginjal", yaitu:
- S – Sediakan cairan yang cukup dengan minum air sesuai kebutuhan usia dan aktivitas.
- A – Atur pola makan sehat dan rendah garam dengan perbanyak buah, sayur, dan batasi makanan tinggi natrium.
- H – Hidup aktif setiap hari dengan membiasakan anak dan keluarga aktif bergerak serta berolahraga.
- A – Awasi tekanan darah dan gula darah yang dilakukan dengan deteksi dini faktor risiko penyakit ginjal.
- B – Bijak menggunakan obat. Sebaiknya tidak memberikan obat, jamu, atau suplemen tanpa anjuran dokter.
- A – Asap rokok harus dijauhkan. Hindari paparan rokok aktif maupun pasif.
- T – Tes fungsi ginjal secara berkala. Lakukan pemeriksaan fungsi ginjal terutama pada kelompok berisiko.