Perubahan Perilaku dan Sakit Kepala Kronis Tak Boleh Diabaikan, Kenali Gejala Tumor Otak Sejak Dini
Banyak orang masih memandang sakit kepala sebagai hal sepele. Keluhan sakit kepala biasanya dianggap karena kelelahan, kurang tidur, atau stres. Tapi lain ceritanya jika kondisi sakit kepala berlangsung terus-menerus bahkan semakin berat, ini tak boleh diabaikan! Sebab, keluhan sakit kepala yang tampak biasa itu, pada sebagian kasus bisa menjadi gejala adanya tumor otak. Duh!
Hal tersebut disampaikan oleh dr. Moch. Evodia Slamet R., Sp.BS, Spesialis Bedah Saraf, dalam Media Gathering RS Premier Bintaro bertajuk “Tumor Otak Dapat Ditangani dengan Optimal Jika Dideteksi Sejak Dini”, Kamis (18/9) di PUJA Bumi Kenduri The Trunojoyo, Jakarta Selatan.
dr. Evodia mengakui, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan tumor otak adalah gejalanya yang sering menyerupai penyakit umum sehingga terlambat dikenali.
“Gejala yang paling sering diabaikan adalah sakit kepala, karena banyak kondisi lain yang juga bisa menyebabkan sakit kepala. Padahal pada tumor otak, keluhannya biasanya bersifat kronis dan progresif, artinya berlangsung lama dan semakin memberat,” terangnya di depan awak media.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa tumor otak terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu tumor primer yang berasal dari jaringan otak atau selaput otak, serta tumor sekunder (metastasis) yang merupakan penyebaran kanker dari organ lain seperti paru, payudara, dan tiroid.
Meski masih banyak masyarakat menganggap semua tumor otak bersifat ganas, faktanya sebagian besar tumor otak primer justru tergolong jinak. dr. Evodia memaparkan bahwa sekitar 72 persen tumor otak primer bersifat jinak, sedangkan 28 persen bersifat ganas.
Walau begitu, baik tumor jinak maupun ganas tetap dapat berbahaya karena tumbuh di dalam rongga kepala yang terbatas sehingga dapat menekan jaringan otak dan mengganggu fungsi-fungsi penting tubuh.
Mengenai asal-usul tumor, dr. Evodia menjelaskan bahwa pada dasarnya setiap orang memiliki kecenderungan genetik tertentu. Di dalam tubuh terdapat gen yang dapat mendorong pertumbuhan tumor (oncogene) dan gen yang menekan pertumbuhan tumor (tumor suppressor gene). “Kalau terjadi mutasi pada gen-gen tersebut, maka risiko terbentuknya tumor bisa meningkat,” katanya.
Kenali Gejala Tumor Otak
Mengenali gejala sejak dini menjadi langkah penting bagi kita semua untuk mencegah keterlambatan diagnosis. Tumor otak dapat menimbulkan berbagai gejala yang perlu diwaspadai, antara lain:
- Nyeri kepala kronis yang semakin memberat dan disertai pandangan kabur;
- Kejang pertama kali pada usia dewasa. Menurut dr. Evodia, kejang yang muncul pertama kali dalam hidup merupakan salah satu tanda yang perlu segera dievaluasi lebih lanjut. “Kalau seseorang yang sebelumnya tidak pernah kejang kemudian tiba-tiba mengalami kejang, kondisi itu perlu dicari penyebabnya. Sering kali pasien kemudian menjalani CT Scan atau MRI dan dari situlah ditemukan adanya tumor yang masih berukuran kecil,” jelasnya.
- Gangguan keseimbangan dan koordinasi;
- Kelemahan pada tangan atau kaki;
- Penurunan pendengaran;
- Perubahan kepribadian;
- Muntah menyemprot dan penurunan kesadaran.
Gejala sakit kepala, ucap dr. Evodia, cukup sering diabaikan. “Karena banyak kondisi lain yang juga bisa menyebabkan sakit kepala. Bahkan kurang tidur pun bisa menyebabkan sakit kepala,” katanya.
Namun, ia menekankan sakit kepala yang perlu dicurigai adalah sakit kepala yang bersifat kronis dan progresif. “ Kenapa kronis? Karena tumornya tetap ada di situ. Kenapa progresif? Karena ukurannya semakin besar. Akibatnya tekanan di dalam kepala juga meningkat. Jadi, kalau awalnya hanya sakit kepala ringan, lama kelamaan jadi semakin berat, itu patut diwaspadai,” imbuh dr. Evodia.
Selain itu, terdapat satu gejala yang kerap luput dari perhatian keluarga, yaitu perubahan kepribadian. “Misalnya seseorang yang biasanya tenang menjadi mudah marah, lebih agresif, sering berbicara tidak seperti biasanya, atau perilakunya berubah. Hal-hal seperti itu juga perlu diperhatikan,” pungkasnya.
Jangan Menunggu Gejala Berat
Tumor otak yang tidak segera ditangani dapat terus membesar dan menekan jaringan otak di sekitarnya. Akibatnya, risiko kerusakan saraf menjadi lebih tinggi dan proses penanganan menjadi lebih kompleks.
dr. Evodia mengibaratkan kondisi tersebut seperti jari yang terjepit pintu. Semakin lama tekanan terjadi, semakin besar pula kerusakan yang ditimbulkan. Karena itu, deteksi dini menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan terapi.
“Semakin kecil ukuran tumor saat ditemukan, umumnya semakin baik peluang penanganannya. Selain ukuran, lokasi tumor juga sangat menentukan keberhasilan terapi,” ujarnya.
Dalam beberapa kondisi, tumor otak bahkan dapat menjadi kegawatdaruratan medis, misalnya ketika menyebabkan hidrosefalus atau penumpukan cairan otak, maupun perdarahan pada tumor yang dapat mengancam nyawa.
Untuk memastikan diagnosis, pasien biasanya memerlukan pemeriksaan CT Scan atau MRI dengan kontras agar lokasi dan karakteristik tumor dapat terlihat lebih jelas.
Pilihan Terapi Kini Semakin Beragam
Kabar baiknya, perkembangan teknologi kedokteran saat ini membuat penanganan tumor otak semakin maju dan tidak selalu identik dengan operasi besar.
Menurut dr. Evodia, penanganan tumor otak harus disesuaikan dengan jenis, ukuran, lokasi tumor, serta kondisi masing-masing pasien. Karena itu, terapi yang diberikan tidak selalu sama pada setiap kasus.
RS Premier Bintaro menyediakan berbagai pilihan penanganan tumor otak secara komprehensif dan multidisiplin, meliputi:
- Terapi medikamentosa untuk mengurangi gejala dan pembengkakan otak;
- Operasi bedah saraf secara terbuka, mikroskopik, maupun endoskopik;
- Radioterapi, termasuk Gamma Knife Radiosurgery;
- Kemoterapi pada kasus tertentu, seperti glioblastoma.
“Keberhasilan terapi sangat bergantung pada ukuran dan lokasi tumor. Semakin dini ditemukan, umumnya penanganan menjadi lebih optimal dan risiko kerusakan jaringan otak dapat diminimalkan,” ujar dr. Evodia.
Gamma Knife Radiosurgery
Salah satu teknologi yang tersedia untuk penanganan tumor otak adalah Gamma Knife Radiosurgery, yaitu prosedur radioterapi tanpa sayatan yang menggunakan radiasi terfokus untuk mengendalikan pertumbuhan tumor tertentu, terutama yang berukuran kecil.
dr. Evodia menjelaskan, prosedur ini dilakukan dengan sistem pemetaan dan penentuan koordinat yang sangat presisi sehingga sinar radiasi dapat diarahkan langsung ke target tumor dengan tingkat akurasi tinggi. “Gamma Knife bekerja seperti pisau tanpa sayatan. Radiasi difokuskan secara tepat ke lokasi tumor untuk menghancurkan atau mengendalikan pertumbuhannya tanpa perlu membuka tengkorak,” jelasnya.
Metode Gamma Knife Radiosurgery umumnya hanya memerlukan satu kali tindakan dan tidak menimbulkan luka operasi, sehingga dapat menjadi salah satu pilihan terapi pada pasien yang memenuhi indikasi medis.
Melalui edukasi ini, RS Premier Bintaro mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala neurologis yang berlangsung lama dan semakin berat. Pemeriksaan sejak dini bukan hanya meningkatkan peluang keberhasilan terapi, tetapi juga membantu mencegah komplikasi yang lebih serius.
“Kalau ada sakit kepala yang berlangsung terus-menerus dan semakin berat, kejang pertama kali dalam hidup, perubahan kepribadian, atau kelemahan anggota tubuh, jangan ditunda untuk memeriksakan diri. Semakin cepat ditemukan, semakin baik peluang penanganannya,” tutup dr. Moch. Evodia Slamet R., Sp.BS.
Ya, dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, banyak kasus tumor otak dapat ditangani secara optimal dan memberikan kualitas hidup yang baik bagi pasien.