Kolesterol Tinggi Sering Tak Disadari, Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Penyakit Jantung
Banyak orang masih berpikir bahwa kolesterol tinggi hanya dialami oleh mereka yang bertubuh gemuk. Sebenarnya, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Orang dengan berat badan ideal, bahkan yang cenderung kurus, juga bisa memiliki kadar kolesterol tinggi karena pola makan yang kurang sehat, kurang bergerak, faktor genetik, atau kebiasaan merokok.
Kolesterol tinggi sering tidak menimbulkan gejala, sehingga sering tidak disadari sampai menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius. Karena itu, edukasi dan deteksi dini sangat penting. Kolesterol tinggi adalah salah satu faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke, yang masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Dengan pemeriksaan rutin dan perubahan gaya hidup, risiko komplikasi akibat kolesterol tinggi sebenarnya bisa dicegah sejak awal.
Kesadaran akan pentingnya menjaga kadar kolesterol inilah yang terus didorong berbagai pihak melalui edukasi kesehatan dan pemeriksaan rutin. Memasuki usia ke-60 tahun, PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) menegaskan komitmennya mendukung penanganan kolesterol tinggi di Indonesia melalui program edukasi kesehatan bertajuk Love The Beat yang berkolaborasi dengan Mitra Keluarga Kemayoran Jakarta, Sabtu (20/06). Acara ini menghadirkan diskusi seputar kesehatan jantung sekaligus layanan pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat.
Menurut Group Marketing Head PT Kalbe Farma Tbk, apt. Maria Stefani, S.Farm., M.M., masih banyak orang yang tidak menyadari dirinya memiliki kadar kolesterol tinggi karena kondisi tersebut umumnya tidak menimbulkan gejala. “Kolesterol tinggi sering kali tidak menimbulkan gejala, sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa mereka memiliki risiko penyakit kardiovaskular. Karena itu, edukasi kesehatan, deteksi dini, pemeriksaan kolesterol secara rutin, dan pengobatan yang tepat menjadi penting untuk mencegah komplikasi,” ujarnya.
Untuk diketahui, kolesterol sebenarnya merupakan zat lemak yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel sehat, memproduksi hormon, serta membantu pembentukan vitamin D. Namun ketika kadarnya berlebihan, terutama kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) atau yang dikenal sebagai kolesterol jahat, risiko terjadinya penyumbatan pembuluh darah akan meningkat. Kondisi tersebut dapat berujung pada serangan jantung maupun stroke.
Maria menambahkan bahwa deteksi dini menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung dalam jangka panjang. “Melalui program Love The Beat, kami ingin membantu masyarakat lebih memahami faktor risiko yang dimiliki dan langkah pencegahan yang dapat dilakukan. Deteksi dini merupakan fondasi utama dalam menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah,” katanya.
Hampir 40 Persen Penduduk Memiliki Kolesterol Tidak Aman
Tingginya angka kolesterol di Indonesia menjadi perhatian tersendiri. Kadept. Medis Mitra Keluarga Kemayoran, dr. Reinaldo, mengungkapkan bahwa berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 39,5 persen penduduk Indonesia memiliki kadar kolesterol di atas batas normal.
Angka tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia cukup rentan terhadap risiko penyakit jantung di masa mendatang apabila faktor risiko tidak dikendalikan sejak dini.
“Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat rentan terhadap risiko gangguan kesehatan jantung. Maka dari itu, diperlukan inisiatif dari masyarakat untuk rutin memeriksakan kadar kolesterolnya atau melakukan medical check up untuk mencegah gangguan kesehatan jantung di masa depan," jelas dr. Reinaldo.
Ia menekankan bahwa pemeriksaan kesehatan (medical check up) berkala tidak hanya mencakup kolesterol, tetapi juga profil lipid lengkap, kadar gula darah, tekanan darah, hingga pemeriksaan jantung sesuai kebutuhan. Untuk mendukung hal ini, Mitra Keluarga Kemayoran pun menyediakan layanan pemeriksaan yang lengkap.
Pemeriksaan berkala, lanjut dr. Reinaldo, merupakan upaya penting dalam mengidentifikasi faktor risiko penyakit jantung sejak dini, sebab banyak pasien datang ke fasilitas kesehatan ketika komplikasi sudah terjadi. Padahal, sebagian besar faktor risiko sebenarnya bisa dideteksi dan dikendalikan lebih awal melalui pemeriksaan rutin serta perubahan gaya hidup.
Selain itu, masyarakat juga perlu menghindari pola hidup yang tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi lemak jenuh, kurang aktivitas fisik, serta tingkat stres yang meningkat.
Kolesterol Tinggi Kerap Datang Tanpa Gejala
Senada dengan hal tersebut, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Mitra Keluarga Kemayoran, dr. Nancy Virginia, Sp.JP(K), FIHA, FAsCC, FAPSC, mengatakan bahwa kolesterol tinggi sering kali berkembang secara diam-diam.
“Kolesterol sebenarnya dibutuhkan tubuh, tetapi jika kadarnya berlebihan dapat menjadi faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke. Kolesterol tinggi juga sering kali tidak bergejala, sehingga banyak pasien baru mengetahui kondisinya setelah terjadi komplikasi,” ungkapnya.
Oleh karena itu, lanjut dr. Nancy, jika kadar LDL dikendalikan dengan optimal, maka risiko komplikasi kardiovaskular pun akan menurun di kemudian hari. “Pemeriksaan kolesterol dianjurkan mulai usia 20 tahun meliputi kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida, serta dilakukan berkala sesuai faktor risiko,” imbuhnya.
Selain pemeriksaan rutin, dr. Nancy juga mengingatkan pentingnya menerapkan pola hidup sehat, seperti menjaga pola makan yang baik untuk kesehatan jantung, berolahraga minimal 150 menit per minggu, mempertahankan berat badan ideal, serta menghindari rokok dan konsumsi alkohol berlebihan. “Pada beberapa kondisi, terapi obat seperti statin dan terapi non-statin diperlukan untuk membantu mencapai target LDL dan mencegah komplikasi penyakit kardiovaskular,” tambah dr. Nancy.
Karena itu, pemeriksaan kolesterol disarankan mulai usia 20 tahun. Pemeriksaan tersebut mencakup kolesterol total, LDL, HDL (High-Density Lipoprotein), dan trigliserida, dengan frekuensi yang disesuaikan berdasarkan faktor risiko masing-masing individu.
Selain pemeriksaan rutin, dr. Nancy juga mengingatkan pentingnya menerapkan pola hidup sehat, seperti menjaga pola makan yang baik untuk kesehatan jantung, berolahraga minimal 150 menit per minggu, mempertahankan berat badan ideal, serta menghindari rokok dan konsumsi alkohol berlebihan.
Pada kondisi tertentu, terapi obat juga diperlukan untuk membantu mencapai target kadar kolesterol yang aman. “Jika kadar LDL dikendalikan dengan optimal, maka risiko komplikasi kardiovaskular pun akan menurun di kemudian hari,” katanya.
Konsistensi Pasien Menentukan Keberhasilan Terapi
Pengendalian kolesterol bukanlah upaya yang dapat dilakukan dalam waktu singkat. Product Manager Optima Degenerative PT Kalbe Farma Tbk, apt. Sona Karisnata Inriano, S.Farm., menilai keberhasilan terapi sangat bergantung pada kedisiplinan pasien dalam menjalani pengobatan dan kontrol rutin.
Menurutnya, pasien perlu memahami fungsi obat yang dikonsumsi dan tidak menghentikan terapi tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan. “Pendekatan terapi yang tepat dan kedisiplinan pasien akan menurunkan risiko komplikasi secara optimal,” ujarnya.
Sona menambahkan bahwa pengelolaan kolesterol yang baik membutuhkan kombinasi antara gaya hidup sehat, pemeriksaan berkala, serta terapi yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien berdasarkan evaluasi dokter. “Untuk pasien tertentu yang membutuhkan pengendalian LDL lebih intensif sesuai evaluasi dokter, Kalbe memiliki opsi terapi kombinasi rosuvastatin-ezetimibe. Tentunya, penggunaan terapi kombinasi juga harus mengikuti resep dan pemantauan tenaga medis,” tutup Sona.
Pada akhirnya, upaya pencegahan tetap menjadi langkah terbaik. Dengan mengenali faktor risiko sejak dini, rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, dan menerapkan gaya hidup yang lebih sehat, risiko penyakit jantung akibat kolesterol tinggi dapat ditekan sebelum menimbulkan komplikasi yang lebih serius.