Ketika Rak Supermarket Ikut Membentuk Pilihan Makan Kita
Pernahkah kamu masuk ke supermarket hanya untuk membeli satu atau dua kebutuhan, tetapi akhirnya pulang membawa lebih banyak makanan dari yang direncanakan?
Bisa jadi, bukan hanya kebutuhan atau selera yang memengaruhi keputusan tersebut. Cara produk ditata di rak, informasi yang ditampilkan, hingga posisi sebuah makanan ternyata dapat ikut membentuk pilihan konsumen.
Rak supermarket selama ini memang dikenal sebagai tempat untuk memajang produk. Namun, lebih dari sekadar ruang display, rak juga menjadi bagian dari lingkungan yang dapat memengaruhi apa yang dilihat, dipertimbangkan, hingga akhirnya dipilih oleh konsumen.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam studi kolaborasi WWF-Indonesia dan PuruPiru Creative & Sustainability Communication bertajuk Retail Mapping Study: Identifying Indonesia Retailers Ecosystem and Readiness for Healthy and Sustainable Diets. Studi ini memetakan ekosistem ritel modern di Indonesia dan melihat sejauh mana praktik ritel saat ini mendukung pola makan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Studi tersebut dilakukan di empat wilayah, yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Bali. Pemetaan ini penting karena ritel berada di titik yang mempertemukan produsen dengan konsumen.
“Ritel ini menjadi penghubung produsen dan konsumen, sehingga apapun yang dilakukan oleh ritel sangat memengaruhi pilihan konsumen dan produsen,” ujar Executive Director PuruPiru Creative & Sustainability Communication, SAM August Himmawan, dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Ketika Lingkungan Belanja Memengaruhi Pilihan
Saat memasuki supermarket, konsumen berhadapan dengan begitu banyak pilihan. Ada buah dan sayuran segar, makanan siap santap, minuman, makanan kemasan, hingga berbagai produk dengan harga dan informasi yang berbeda.
Dalam kondisi seperti ini, keputusan membeli tidak selalu semata-mata berdasarkan kebutuhan. Lingkungan tempat seseorang berbelanja juga dapat memberikan pengaruh.
Salah satu konsep yang dibahas adalah choice architecture, yaitu bagaimana lingkungan tempat seseorang mengambil keputusan dapat dirancang sehingga pilihan tertentu lebih mudah terlihat dan dipertimbangkan.
Misalnya, produk tertentu ditempatkan di area yang mudah terlihat. Dengan begitu, konsumen dapat lebih cepat menemukan alternatif pangan yang tersedia tanpa harus kehilangan kebebasan untuk menentukan apa yang ingin dibeli.
Pendekatan ini kemudian berkaitan dengan choice placement, yakni pengaturan posisi produk agar lebih mudah dilihat dan dipertimbangkan. Area pintu masuk, ujung lorong, rak setinggi pandangan mata, hingga sekitar kasir dapat menjadi lokasi strategis untuk memperkenalkan pilihan tertentu kepada konsumen.
Associate Professor bidang Ekonomi Bisnis dan Perencanaan Strategis Institut Pertanian Bogor, Dr. Raden Dikky Indrawan, menilai intervensi di lingkungan ritel tidak selalu harus dilakukan melalui perubahan besar.
“Dengan menempatkan penempatan yang cukup baik, ya di depan supermarket, itu cukup menarik,” ungkap Dikky.
Bukan Sekadar Soal Apa yang Ada di Piring
Pembicaraan mengenai makanan sehat dan berkelanjutan ternyata jauh lebih luas daripada sekadar menentukan menu harian.
Sistem pangan berkaitan dengan berbagai persoalan lingkungan, termasuk emisi gas rumah kaca, penggunaan lahan dan air, serta tekanan terhadap keanekaragaman hayati. Karena itu, pola makan masyarakat menjadi salah satu bagian yang turut diperhatikan dalam upaya menuju sistem pangan yang lebih berkelanjutan.
Konsep planet-based diet yang dikembangkan WWF mendorong pola makan yang lebih banyak mengonsumsi pangan nabati, mengurangi ketergantungan pada pangan hewani yang memiliki jejak karbon tinggi, sekaligus tetap memenuhi kebutuhan nutrisi.
Namun, penerapannya tentu perlu melihat kondisi masing-masing negara. Indonesia memiliki keragaman budaya, geografis, komoditas, sumber pangan, serta kemampuan ekonomi yang sangat luas.
Karena itu, perubahan menuju pola makan sehat dan berkelanjutan perlu memperhatikan konteks lokal. Panduan “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan dapat menjadi salah satu rujukan nasional mengenai pola konsumsi dengan gizi seimbang. Sementara itu, kekayaan pangan lokal Indonesia menjadi modal penting untuk membangun sistem pangan yang lebih beragam dan berkelanjutan.
Pilihan Sehat Perlu Mudah Ditemukan
Memiliki pilihan makanan sehat saja belum tentu cukup. Konsumen juga perlu dapat menemukan, memahami, dan mengakses pilihan tersebut.
Harga, distribusi, ketersediaan produk, informasi, kebiasaan, preferensi konsumen, promosi, hingga struktur rantai pasok dapat memengaruhi keputusan akhir seseorang ketika membeli makanan.
Karena itu, ritel memiliki sejumlah instrumen yang dapat digunakan untuk membentuk lingkungan pilihan, mulai dari variasi produk, penempatan, harga, promosi, pemasaran, hingga praktik pengadaan dan rantai pasok.
Informasi yang jelas juga dapat membantu. Produk berbahan lokal, memiliki kandungan tertentu, atau diproduksi dengan memperhatikan aspek keberlanjutan dapat diberikan penanda khusus. Informasi mengenai bahan, asal produk, maupun proses produksinya dapat membantu konsumen memahami pilihan yang tersedia.
Konsep ini bahkan dapat diterapkan di kanal digital. Pengelompokan kategori, informasi produk, dan rekomendasi dalam platform belanja dapat membantu konsumen menelusuri berbagai pilihan pangan sesuai kebutuhannya.
Perubahan Membutuhkan Banyak Pihak
Studi ini juga menunjukkan bahwa transformasi sistem pangan bukan pekerjaan satu pihak.
Pemerintah memiliki peran dalam kebijakan dan regulasi. Ritel menentukan sebagian produk yang tersedia sekaligus bagaimana produk tersebut ditawarkan kepada konsumen. Produsen memiliki pengaruh melalui formulasi dan pengadaan bahan baku. Akademisi dan lembaga riset dapat memperkuat basis bukti, sedangkan masyarakat sipil dan media dapat membantu meningkatkan kesadaran serta transparansi.
Karena itulah, kegiatan diseminasi hasil studi yang berlangsung di Jakarta pada 15 September 2026 turut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pelaku ritel, pemerintah, akademisi, lembaga riset, perusahaan FMCG, pelaku usaha makanan dan minuman, organisasi masyarakat sipil, asosiasi pengusaha, hingga media.
Diskusi mengenai perilaku konsumen juga menjadi bagian penting. Sebab, tersedianya sebuah produk tidak otomatis membuat konsumen memilihnya. Harga, kebiasaan, kenyamanan, persepsi, informasi, serta lingkungan belanja tetap memiliki peran.
Dari Rak Supermarket Menuju Perubahan Sistem Pangan
Pada akhirnya, perubahan pola makan bukan hanya tentang apa yang tersaji di atas piring. Ada perjalanan panjang di belakangnya—bagaimana pangan diproduksi, didistribusikan, dipasarkan, dijual, dipilih, hingga dikonsumsi.
Di sepanjang perjalanan tersebut, ritel memiliki ruang strategis untuk ikut menciptakan lingkungan pangan yang mendukung pilihan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Indonesia sendiri memiliki modal yang besar. Sebagai negara agraris dan maritim dengan kekayaan hayati serta budaya pangan yang beragam, Indonesia memiliki banyak sumber pangan yang dapat menjadi fondasi untuk membangun pola makan yang memenuhi kebutuhan gizi sekaligus lebih selaras dengan keberlanjutan lingkungan.
Kini, tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut dapat hadir dalam pilihan yang mudah dijangkau masyarakat.
Hasil Retail Mapping Study WWF-Indonesia dan PuruPiru diharapkan menjadi pijakan untuk memperkuat dialog antara dunia usaha, pemerintah, akademisi, masyarakat sipil, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Sebab, rak supermarket mungkin terlihat sederhana. Namun, dari sanalah sebuah pilihan bisa dimulai. Ketika pilihan pangan yang lebih sehat, terjangkau, informatif, dan berkelanjutan semakin mudah ditemukan, lingkungan belanja pun dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju sistem pangan Indonesia yang lebih baik.