Protein Tak Harus Ribet, Bisa Hadir dalam Camilan Favorit Sehari-hari
Memilih makanan dan minuman, kini bukan hanya soal enak atau mengenyangkan. Semakin banyak orang mulai memperhatikan apa yang masuk ke dalam tubuh, mulai dari kandungan protein, serat, hingga nilai nutrisi secara keseluruhan.
Menariknya, kebiasaan hidup sehat tidak selalu harus diwujudkan lewat makanan yang terasa “berbeda”. Makanan favorit sehari-hari pun bisa dikembangkan menjadi pilihan yang lebih bernutrisi tanpa kehilangan cita rasa yang membuatnya disukai.
Peluang inilah yang coba ditawarkan U.S. Dairy Export Council (USDEC) melalui berbagai inovasi bahan susu dari Amerika Serikat dalam ajang Fi Asia Indonesia 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Jakarta, 16-18 September.
Hadir di USA Pavilion, booth AIC06, mereka memperkenalkan beragam prototipe produk yang memanfaatkan bahan susu Amerika Serikat. Kehadiran ini sekaligus membuka peluang bagi produsen makanan dan minuman Indonesia untuk mengembangkan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen yang semakin peduli terhadap kesehatan dan kebugaran.
Konsumen Makin Peduli Asupan Nutrisi
Kesadaran terhadap gaya hidup sehat memang terus berkembang. Berdasarkan Global Wellness Economy Monitor 2025, Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan pesat dalam hal pola makan sehat, nutrisi, dan pengelolaan berat badan.
Di Indonesia, survei Euromonitor pada 2025 menunjukkan bahwa 71 persen konsumen secara aktif mencari bahan sehat dalam makanan. Bahkan, 32 persen responden berencana meningkatkan pengeluaran untuk kebutuhan kesehatan dan kebugaran, meski 68 persen konsumen masih mengkhawatirkan kenaikan biaya.
Kecenderungan serupa juga terlihat dalam survei USDEC Consumption Tracker yang dilakukan di Indonesia pada Juni-Juli 2026. Sebanyak 51 persen responden sangat setuju dan 33 persen setuju bahwa mereka bersedia membayar lebih untuk makanan dan minuman kemasan yang menawarkan manfaat kesehatan.
Protein juga menjadi salah satu perhatian. Sebanyak 63 persen konsumen sangat mungkin dan 31 persen cukup mungkin mempertimbangkan produk makanan dan minuman kemasan dengan klaim tambahan protein.
Alasannya cukup beragam. Sebanyak 74 persen responden tertarik karena protein dinilai dapat membantu meningkatkan energi dan performa fisik. Sementara itu, 69 persen mencari pilihan yang lebih sehat dan bernutrisi dibandingkan produk biasa, serta 61 persen ingin memenuhi kebutuhan protein dengan cara yang praktis.
Artinya, peluang inovasi makanan sehat masih terbuka lebar. Namun, produk tersebut perlu tetap dekat dengan kebiasaan makan masyarakat.
“Dalam kondisi ekonomi saat ini, konsumen semakin cermat dalam menentukan pengeluaran mereka. Namun, kesehatan tetap menjadi salah satu prioritas utama. Inovasi makanan dan minuman yang berhasil tidak lagi cukup hanya mengandalkan sesuatu yang baru. Produk yang sukses harus mampu menjawab kebutuhan nyata konsumen sehari-hari,” ujar Dali Ghazalay, Regional Director, Southeast Asia, USDEC.
Protein Bisa Hadir dalam Camilan Favorit
Salah satu contoh inovasi yang diperkenalkan USDEC di Fi Asia Indonesia 2026 adalah Protein Coffee Butter Cookie.
Sekilas, camilan ini terdengar seperti butter cookie pada umumnya. Namun, kreasi tersebut memadukan rasa mentega yang kaya, aroma kopi panggang, serta konsentrat protein susu berkualitas tinggi dari Amerika Serikat.
Konsep ini menunjukkan bahwa tambahan nutrisi tidak harus membuat konsumen meninggalkan makanan yang sudah mereka kenal. Camilan yang biasa menemani waktu santai minum teh atau kopi pun dapat dikembangkan menjadi pilihan dengan kandungan protein tambahan.
Dalam satu sajian yang terdiri dari empat cookie, Protein Coffee Butter Cookie menyediakan 6,5 gram protein berkualitas tinggi. Selain protein dari konsentrat protein susu, produk ini juga menggunakan permeate asal Amerika Serikat.
“Dengan memadukan kelezatan butter cookie yang kaya rasa, tambahan protein dari susu Amerika Serikat, dan sentuhan kopi panggang, kami menciptakan camilan yang menyenangkan sekaligus menyediakan 6,5 gram protein berkualitas tinggi dalam setiap sajian yang terdiri dari empat cookie,” ujar Joanne Tey, Senior Manager, Food Applications and Innovation, USDEC.
Menurut Joanne, inovasi tersebut memperlihatkan bahwa pilihan nutrisi yang lebih baik dapat menjadi bagian dari momen makan sehari-hari tanpa harus menghilangkan unsur kenikmatan.
Konsep tersebut juga sejalan dengan tren “Layers of Delight” dari Innova Market Insights pada 2026, yang melihat bagaimana pengalaman menikmati makanan dapat dibuat semakin menarik melalui perpaduan rasa, tekstur, sekaligus nilai nutrisi.
Fleksibilitas Bahan untuk Beragam Produk
Selain protein susu, bahan susu dari Amerika Serikat yang diperkenalkan mencakup bahan whey, susu bubuk, dan permeate.
Bahan-bahan tersebut memiliki fungsi dan karakteristik yang beragam sehingga dapat digunakan dalam berbagai formulasi makanan dan minuman. Fleksibilitas ini memungkinkan produsen menyesuaikannya dengan cita rasa lokal, bentuk produk, hingga momen konsumsi yang berbeda.
Bagi konsumen, perkembangan tersebut memberikan lebih banyak pilihan makanan yang tidak hanya lezat, tetapi juga dapat mendukung kebutuhan nutrisi sehari-hari.
Sementara bagi produsen, inovasi bahan membuka kesempatan untuk menciptakan produk yang lebih relevan dengan gaya hidup masyarakat modern—termasuk mereka yang semakin memperhatikan asupan protein, serat, dan makanan padat nutrisi.
Membuka Peluang Kolaborasi Industri
Fi Asia Indonesia 2026 yang berlangsung di JIExpo juga menjadi ruang bertemunya pelaku industri makanan dan minuman, pemasok bahan baku, serta para pengembang produk.
Melalui kehadirannya di USA Pavilion, booth AIC06, USDEC membuka kesempatan bagi produsen Indonesia untuk mengenal lebih jauh bahan susu dari Amerika Serikat dan berdiskusi langsung dengan para ahli teknis maupun pemasok yang hadir dalam pameran.
Pengunjung juga dapat mencicipi Protein Coffee Butter Cookie sekaligus mendapatkan informasi mengenai pemanfaatan bahan susu dalam berbagai inovasi produk.
Pada akhirnya, tren hidup sehat tidak selalu berarti harus mengubah seluruh kebiasaan makan. Yang tak kalah penting adalah bagaimana makanan yang sudah akrab dengan keseharian dapat dikembangkan menjadi pilihan yang lebih bernutrisi.
Dengan semakin tingginya perhatian konsumen terhadap kesehatan, inovasi seperti inilah yang berpotensi membuat perjalanan menuju gaya hidup aktif dan sehat terasa lebih mudah, praktis, sekaligus tetap menyenangkan.