Bahasa Cinta Tak Selalu Lewat Kata, Bisa Dimulai dari Sepiring Omelette
Di tengah rutinitas yang padat dan berbagai distraksi dalam kehidupan modern, koneksi penting untuk menjaga hubungan dengan keluarga, pasangan, maupun sahabat agar tetap hangat dan bermakna.
Perhatian pun tidak selalu harus diwujudkan lewat kata-kata manis atau gestur besar. Menyiapkan makanan kesukaan, meluangkan waktu untuk makan bersama, atau mengingat bagaimana seseorang menyukai makanannya bisa menjadi cara sederhana untuk menunjukkan bahwa kita peduli.
Tepat satu dekade setelah sekuel film “Ada Apa dengan Cinta?” (AADC) ditayangkan, Royco menghadirkan kelanjutan perjalanan Cinta dan Rangga melalui film pendek berjudul “Bahasa Cinta yang Beda” yang dibintangi Dian Sastrowardoyo, Sissy Prescillia dan disutradarai Teddy Soeria Atmadja. Diluncurkan secara perdana dalam acara gala premiere di XXI Epicentrum Jakarta, film ini mengajak semua orang ungkapkan bahasa cinta melalui perhatian sederhana yang dilakukan secara tulus dan konsisten – termasuk lewat sepiring “Omelette Cinta” dengan sentuhan rasa gurih mantap dari Bumbu Kaldu Rasa Ayam Kampung.
Nuning Wahyuningsih, Head of Marketing Foods Unilever Indonesia, mengatakan bahwa memasak dapat menjadi salah satu bentuk sederhana untuk menunjukkan perhatian.
“Sebagai brand yang selama puluhan tahun mendampingi masyarakat menghadirkan momen-momen penuh makna melalui masakan, Royco percaya bahwa kegiatan memasak adalah salah satu bahasa cinta sederhana yang dapat dilakukan siapa saja. Perlu disadari juga, bahasa cinta tidak selalu membutuhkan kata-kata indah ataupun gestur yang grande karena justru sering kali perhatian terasa paling bermakna ketika hadir lewat hal-hal kecil yang konsisten kita lakukan. Maka, kami ingin menginspirasi bahwa masakan sehari-hari sebetulnya bisa jadi cara menunjukkan perhatian dan kembali membangun koneksi dengan orang-orang terdekat,” katanya.
Dalam film ini, omelette dipilih sebagai simbol bahasa cinta yang sederhana tetapi personal. Sebab, yang membuat sebuah hidangan terasa istimewa bukan hanya makanannya, melainkan perhatian di balik proses membuatnya.
Misalnya, seseorang meluangkan waktu untuk memasak di tengah kesibukan. Ia juga bisa menunjukkan kepekaan dengan mengingat selera orang yang disayangi, mulai dari bahan favorit, tingkat kematangan, hingga cara penyajian yang disukai.
Hal tersebut juga bisa menjadi kesempatan untuk menciptakan quality time, baik saat menyiapkan makanan maupun ketika menikmatinya bersama.
Menariknya, omelette tidak membutuhkan resep yang rumit untuk terasa spesial. Sentuhan kecil dalam proses memasak justru dapat menjadi bentuk perhatian yang konsisten. Dalam kampanye ini, rasa gurih mantap yang konsisten pada setiap sajian omelette dihadirkan melalui Royco Bumbu Kaldu Rasa Ayam Kampung.
Pesan tersebut kemudian dibawa ke dalam kisah Cinta dan Rangga. Jika sebelumnya puisi begitu lekat dengan cara Cinta dan Rangga menyampaikan perasaan, film pendek “Bahasa Cinta yang Beda” mengajak melihat bahwa seiring berjalannya waktu, cara seseorang menunjukkan cinta juga dapat berubah.
Dian Sastrowardoyo, yang kembali memerankan Cinta, mengungkapkan, “AADC selalu punya tempat spesial di hati aku, jadi excited banget bisa mendapat kesempatan untuk melanjutkan chapter hubungan Cinta dan Rangga. Kali ini kita tidak lagi melihat mereka dalam fase mencari atau menemukan cinta, tetapi setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan bersama – ada rutinitas, kesibukan, dan jarak yang membuat koneksi antara mereka terasa semakin datar. Tanpa banyak spoiler, menurutku ceritanya sangat relatable untuk semua hubungan, dan aku harap film ini bisa mengingatkan kita supaya tidak terpaku pada bagaimana cinta ‘seharusnya’ ditunjukkan, justru kita harus terus menemukan bahasa cinta yang selama ini ada, tapi sering kali tidak kita sadari,” imbuhnya.
Sementara itu, Teddy Soeria Atmadja, selaku sutradara, mengatakan tantangan dalam pembuatan film ini adalah mempertahankan karakter dan dinamika Cinta-Rangga yang sudah begitu dikenal, sekaligus menempatkan keduanya dalam fase kehidupan yang lebih matang.
“Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mempertahankan karakter dan dinamika Cinta-Rangga yang sudah sangat familiar, namun menempatkan mereka dalam fase kehidupan yang lebih matang. Film pendek ini bukan mengulang romantisme AADC yang lalu, tetapi mengeksplorasi betapa cinta dan cara mengekspresikannya ikut berubah seiring perjalanan sebuah hubungan. Ceritanya sengaja dibangun melalui situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga selain tetap mempertahankan elemen nostalgia bagi penggemar AADC, film ini juga membawa sudut pandang baru yang relevan dengan dinamika hubungan masa kini,” tambahnya.
Dalam film tersebut, momen-momen sederhana antara Cinta dan Rangga menjadi bagian penting, termasuk kehadiran “Omelette Cinta” sebagai representasi bahasa cinta di antara keduanya.
Nuning berharap film ini dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk kembali menghangatkan koneksi dengan orang-orang terdekat melalui bahasa cinta yang lebih bermakna. “Kami harap film pendek ‘Bahasa Cinta yang Beda’ dapat menginspirasi semua orang untuk kembali menghangatkan koneksi dengan orang-orang terdekat melalui bahasa cinta yang lebih bermakna. Seperti ‘Omelette Cinta’ dengan Bumbu Kaldu Rasa Ayam Kampung; sebuah masakan sederhana yang bisa menjadi cara untuk menunjukkan perhatian, kasih sayang, dan menciptakan kenangan bersama,” tutup Nuning.
Ya, menunjukkan perhatian tidak selalu harus menunggu momen spesial. Bagi keluarga, pasangan, maupun orang-orang terdekat, perhatian kecil yang dilakukan secara konsisten bisa menjadi cara untuk kembali membangun koneksi di tengah kesibukan sehari-hari.
Film pendek “Bahasa Cinta yang Beda” dapat disaksikan mulai 14 September 2026 melalui kanal YouTube merek bumbu masakan dan penyedap rasa instan tersebut. Kolaborasi ini juga akan berlanjut hingga akhir tahun dengan berbagai kejutan untuk para penggemar AADC di seluruh Indonesia.