Mengajarkan Kecerdasan Emosional Anak Melalui Terapi Seni

Efa Trapulina - Selasa, 09 April 2024
Seni tak hanya mendorong kreativitas maupun imajinasi anak, namun berguna sebagai medium non-verbal terhadap emosi yang sulit untuk diungkapkan dalam kata-kata (Foto; dok. Cakap)
Seni tak hanya mendorong kreativitas maupun imajinasi anak, namun berguna sebagai medium non-verbal terhadap emosi yang sulit untuk diungkapkan dalam kata-kata (Foto; dok. Cakap)
A A A

Dalam rangka memeriahkan bulan suci Ramadan dan menyambut Idulfitri, Cakap mengundang anak-anak panti asuhan datang menghadiri program Cakap Kids Akademy (CKA) Berbagi. Antusiasme dan senyum sumringah muncul dari ekspresi wajah anak-anak panti asuhan yang hadir ke fasilitas belajar di bilangan Daan Mogot, Jakarta Barat, Jumat (5/4/24) lalu. 

“Suka banget, tadi seneng bisa menggambar dan sempat main bola juga,” ujar Rizki (12)  salah satu anak dari Yayasan Uswatun Hasanah yang hadir. 

Perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan ini merasa perlu menyebarkan kebaikan kepada sesama, melalui ilmu yang aplikatif. Kali ini mengangkat kecerdasan emosional yang masih perlu diperkenalkan bagi kalangan tertentu. Dan, menggambar, merupakan salah satu bagian dari rangkaian berbagi tersebut. 

Bagi beberapa orang, termasuk anak-anak, kadang tak mudah untuk mengenali apa yang mereka rasakan apalagi mengomunikasikannya. Tujuan kegiatan ini adalah membekali anak cara untuk merasakan dan mengenali emosi, meregulasi, serta menuangkannya melalui medium seni. Seni tak hanya mendorong kreativitas maupun imajinasi anak, namun berguna sebagai medium non-verbal terhadap emosi yang sulit untuk diungkapkan dalam kata-kata. Hasil yang diharapkan adalah kemampuan anak-anak untuk merasakan dan mengenali emosi mereka sendiri dengan lebih baik, serta dapat mengekspresikannya dengan sehat.

“Kenapa terapi ini penting, karena semua anak perlu dibekali keterampilan regulasi emosi yang kuat, sebagai dasar bagi anak dalam menghadapi stres, menjaga hubungan yang sehat, dan menghadapi tantangan kehidupan ketika mereka tumbuh dewasa,” ujar Amelia Putri, Depth Psychotherapist dari Atman Transpersonal Center yang berkesempatan menjadi pemateri sore itu. 

Amelia memberikan materi dan terapi yang mudah dicerna anak-anak, di antaranya keterampilan verbalisasi emosi - yaitu kemampuan untuk memberi nama pada emosi yang mereka alami - melalui permainan “topeng emosi”, kemampuan “menyuarakan” isi hati dan pikiran melalui gambar, maupun keterampilan komunikasi maupun sosial dengan menceritakan hasil karya mereka kepada sesama temannya. Selain tanaman dan binatang peliharaan (kucing), mayoritas anak-anak panti yang hadir menggambar rumah sebagai  objek yang mereka tuangkan.

“Saya perhatikan ada beberapa anak yang menggambar rumah, kira-kira sepuluh anak ada ya. Ini pasti ada salah satu faktor yang membuat gambar rumah ini jadi favorit mereka,” tutur Hasan, Perwakilan Yayasan Uswatun Hasanah yang turut mendampingi. 

Ia menambahkan bahwa selama ini anak-anak yayasannya tinggal dalam komplek bangunan yang sama, mulai dari sekolah hingga tempat mereka tidur. “Dari pemateri tadi (Amelia) memberitahu saya bahwa ada (di antara) mereka (anak-anak panti) yang merindukan tinggal di rumah dengan keluarga selayaknya anak-anak pada umumnya,” tutup Hasan sembari mewakili perasaan anak-anak panti yang diekspresikan melalui gambar. 

Cecillia Ong, Chief Operating Officer Cakap menyatakan bahwa kegiatan berbagi ini tidak hanya terbatas pada donasi berupa materi seperti pakaian layak pakai, tapi lebih dari itu, bertujuan untuk turut mengembangkan potensi anak-anak, termasuk yang berada di naungan panti asuhan.

“Sebagai bagian dari program Cakap Untuk Bangsa, kami mencoba menggali kecerdasan emosional anak, melalui aktivitas character building dan upskilling. Semoga manfaat yang diterima dapat lebih berkelanjutan bagi perkembangan anak-anak tersebut,” ujar Cecillia. 

Kegiatan ini ditutup dengan pemberian donasi berupa pakaian, buku hingga mainan edukatif. 

Latest Update
Explore more fun