Mengenal Orthovolution: Era Baru Layanan Tulang dan Sendi yang Bikin Lansia Kembali Aktif
Pernahkah kamu mendengar kalimat, "Sudah tua, tahu dirilah, jangan banyak beraktivitas lagi"? Mitos ini sering kali terdengar di tengah masyarakat, bahkan terkadang diucapkan oleh sebagian tenaga kesehatan.
Banyak orang menganggap bahwa seiring bertambahnya usia, tubuh yang melemah dan ruang gerak yang terbatas adalah hal yang mutlak. Akibatnya, saat mulai memasuki usia 50 tahun ke atas, banyak yang memilih untuk tidak aktif bergerak.
“Padahal, pandangan tersebut sangat keliru!” tegas dr. Henry Suhendra, Sp.OT, Subsp.CO(K), Founder Siloam Hospitals Mampang saat konferensi pers di sela-sela acara Orthovolution 2026: Symposium & Live Surgery pada Sabtu, 6 Juni 2026, di Park Hyatt Jakarta, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat.
“Membiarkan tubuh tidak aktif justru memicu terjadinya sarkopenia atau penyusutan massa otot. Ketika otot melemah, jangankan untuk berolahraga, aktivitas sederhana seperti bangun dari toilet atau berdiri dari kursi makan pun akan terasa menyiksa. Padahal, otot dan kemampuan bergerak adalah kunci utama kualitas hidup manusia di usia senja,” tandas dr. Henry.
Instan vs Proses
dr. Isa An Nagib, Sp.OT (K), Dokter Spesialis Orthopedi & Traumatologi sekaligus Konsultan Cedera Olahraga (Sport Medicine) menambahkan, yang jadi permasalahan adalah, saat nyeri sendi atau tulang belakang menyerang, sebagian besar masyarakat Indonesia cenderung mencari jalan pintas atau penanganan mandiri (home remedy).
“Mulai dari mengonsumsi obat pereda nyeri secara terus-menerus tanpa resep dokter, hingga pergi ke tukang pijat. Ketika keluhan tidak kunjung membaik setelah berminggu-minggu, barulah mereka datang ke rumah sakit,” ujar dr. Isa.
“Mengandalkan obat pereda nyeri dalam jangka panjang tanpa mencari akar masalahnya adalah tindakan yang berbahaya. Obat-obatan tersebut sering kali hanya menutupi gejala (nyeri) sementara waktu, sementara penyakit utamanya terus memburuk dan organ lain, seperti ginjal, justru menanggung efek sampingnya,” timpal dr. Henry.
Penanganan masalah muskuloskeletal (tulang, sendi, dan otot) sebetulnya tidak selalu berakhir di meja operasi; terapi konservatif dan rehabilitasi yang terarah sering kali sudah cukup jika dilakukan sejak dini. Namun, jika kondisi pasien sudah kompleks, tindakan medis yang tepat dan modern menjadi solusi terbaik.
Era 'Orthovolution': Solusi Cerdas Bernama Teknologi Robotik
Menjawab tantangan tersebut, dunia kedokteran orthopaedi di Indonesia kini tengah mengalami lompatan besar. Salah satu terobosan penting ditandai dengan digelarnya Orthovolution 2026 oleh Siloam Hospitals Mampang dengan tema “Transforming Orthopaedic Care Through Innovation.” Momentum ini sekaligus memperkuat langkah rumah sakit tersebut bertransformasi menjadi pusat rujukan nasional yang modern dan terintegrasi.
David Utama, Presiden Direktur Siloam International Hospitals, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen untuk memperkuat layanan unggulan di bidang orthopaedi. “Kami ingin menghadirkan standar layanan orthopaedi yang semakin kuat melalui keunggulan klinis, inovasi teknologi, dan kolaborasi multidisiplin. Kami berharap inisiatif ini dapat memperkuat peran sebagai pusat layanan orthopaedi yang modern, komprehensif, dan berorientasi pada hasil klinis terbaik bagi pasien,” ujar David.
Acara orthopaedi berskala besar perdana ini menghadirkan total 14 pembicara internasional dan nasional, lebih dari 200 peserta dari kalangan dokter dan tenaga medis, tiga sesi live surgery, serta beberapa testimoni pasien. Orthovolution 2026 menjadi momentum strategis dalam transformasi menuju Orthopaedic Hospital, pusat rujukan nasional orthopaedi yang modern, terintegrasi, dan berbasis inovasi di Indonesia.
“Salah satu inovasi terbesar yang kini menjadi andalan adalah metode bedah robotik (robotic-assisted surgery), khususnya untuk operasi penggantian sendi lutut (Total Knee Replacement). Berbeda dengan metode konvensional yang membutuhkan sayatan besar dan berisiko menimbulkan komplikasi pasca-operasi, teknologi robotik menawarkan presisi yang sangat tinggi,” terang dr. Dohar L. Tobing, Sp.OT, Subsp.OTB(K), Founder Siloam Hospitals Mampang.
Menurut dr. Dohar, dengan bantuan robot, dokter dapat melakukan tindakan dengan sayatan yang jauh lebih kecil, meminimalkan kerusakan pada jaringan otot dan saraf di sekitar area operasi, serta mengurangi rasa nyeri secara signifikan.
“Hasilnya? Risiko infeksi dan pendarahan menjadi sangat minim, dan proses pemulihan pasien berjalan jauh lebih cepat. Selain pada lutut, inovasi bedah minimal invasif ini juga diterapkan pada kasus tulang belakang (spine surgery), sehingga pasien tidak perlu lagi membayangkan operasi besar yang menakutkan,” kata dr. Dohar.
Bukan Sekadar Operasi, Tapi Pemulihan Menyeluruh
Prof. Dr. dr. Andri Lubis, Sp.OT, Subsp.CO(K), yang juga Founder, menyebutkan, keberhasilan penanganan orthopaedi modern tidak hanya dihitung saat dokter selesai menjahit luka operasi di kamar bedah.
“Kunci utamanya terletak pada pendekatan multidisiplin yang holistik dan menyeluruh—mulai dari edukasi pencegahan, diagnosis yang akurat, tindakan medis yang presisi, hingga program rehabilitasi pasca-operasi,” ungkap dr. Andri.
Ia juga menambahkan, melalui protokol modern seperti Enhanced Recovery After Surgery (ERAS), pengelolaan nyeri pasien dirancang sedemikian rupa sejak sebelum, selama, hingga sesudah operasi.
Kolaborasi apik antara dokter spesialis orthopaedi, dokter anestesi, dokter rehabilitasi medik, fisioterapis, hingga perawat, memastikan pasien tidak berjalan sendirian dalam proses pemulihan mereka.
Bukti nyata dari keberhasilan sistem terintegrasi ini dirasakan langsung oleh para pasien. Turut hadir, Iskandar Abubakar, seorang pasien yang menjalani operasi Total Knee Replacement, dimana mengaku sempat khawatir sebelum operasi.
Namun, pendampingan yang jelas dan menyeluruh membuatnya merasa aman hingga bisa kembali bergerak dengan nyaman. Pengalaman luar biasa juga dibagikan oleh Vera, pasien yang menjalani operasi penggantian kedua sendi lutut sekaligus (bilateral knee replacement). Hanya dalam waktu tiga bulan pasca-operasi, Vera tidak hanya bisa beraktivitas normal, tetapi juga berhasil mengikuti dan memenangkan kompetisi olahraga.
Menjaga Kualitas Hidup di Dalam Negeri
Inovasi dan kisah sukses ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia kini tidak perlu lagi jauh-jauh berobat ke luar negeri untuk mendapatkan layanan orthopaedi kelas dunia. Kemampuan dokter spesialis di dalam negeri yang ditunjang dengan teknologi canggih seperti robotik sudah sangat siap memberikan hasil klinis terbaik (patient outcome).
Pada akhirnya, kesehatan tulang dan sendi adalah investasi masa depan. Bergerak adalah obat (movement is medicine). Dengan penanganan yang tepat, teknologi yang modern, dan perubahan gaya hidup yang lebih aktif, usia tua bukan lagi halangan untuk hidup mandiri, bahagia, dan bebas bergerak tanpa rasa takut.