ads

Menjadikan Piring Sekolah sebagai Ruang Kelas: Mengubah MBG Menjadi Literasi Pangan Masa Depan

Novita Sari - Kamis, 14 Mei 2026
Ki-ka: Samuel Pablo Pareira (WWF Indonesia), Semi Kurniasih (Bappenas), Ahmad Arif (Wartawan Senior), Manik Nur Hidayati (Influencer Food and Environment), dan Nia Sarinastiti (Indonesia Gastronomy Community). Foto: Novi
Ki-ka: Samuel Pablo Pareira (WWF Indonesia), Semi Kurniasih (Bappenas), Ahmad Arif (Wartawan Senior), Manik Nur Hidayati (Influencer Food and Environment), dan Nia Sarinastiti (Indonesia Gastronomy Community). Foto: Novi
A A A

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi primadona kebijakan pemerintah saat ini menyimpan potensi yang jauh lebih besar daripada sekadar pengentasan lapar.

Dalam acara Media Talkshow: Collective Action for Healthy & Sustainable Diets in Indonesia yang digelar di Menteng, Jakarta Pusat pada Rabu, 13 Mei 2026, para pakar sepakat bahwa MBG adalah "pintu masuk" emas untuk mengenalkan pola makan sehat dan berkelanjutan kepada anak-anak sejak dini.

Pangan bukan lagi sekadar urusan perut, melainkan solusi atas tiga krisis global sekaligus: iklim, biodiversitas, dan kesehatan. Dengan anggaran yang masif, MBG diharapkan tidak hanya mengisi piring anak-anak, tetapi juga mengisi pemahaman mereka tentang pentingnya menjaga Bumi melalui apa yang mereka konsumsi.

"Pemerintah di seluruh dunia mulai menyadari bahwa pangan adalah kunci untuk menyelesaikan krisis iklim, biodiversitas, dan kesehatan. Dari tiga aksi utama yaitu; mengubah pola makan, mengurangi kehilangan pangan, dan produksi yang lebih baik, mengubah pola makan adalah tindakan yang memberikan dampak terbesar," kata Samuel Pablo Pareira, Business Engagement Specialist WWF Indonesia.

Mengubah Pola Makan, Menyelamatkan Planet

Sistem pangan modern saat ini menjadi salah satu kontributor terbesar kerusakan alam. Data menunjukkan bahwa sekitar 70% hilangnya keanekaragaman hayati di daratan dan 30% emisi gas rumah kaca dunia bersumber dari sistem pangan yang tidak berkelanjutan.

Greg Walker, Global Food Scientist WWF International didampingi penerjemah. Foto: Novi
Greg Walker, Global Food Scientist WWF International didampingi penerjemah. Foto: Novi

Dalam kata sambutannya, Global Food Scientist WWF International, Greg Walker, menyebutkan bahwa perubahan sistem pangan menjadi salah satu solusi penting untuk menyelamatkan Bumi. “Masyarakat dapat memulai langkah sederhana melalui isi piring makan sehari-hari. Caranya, setengah porsi makanan diisi buah serta sayuran, sisanya berupa protein dan sumber karbohidrat lain,” kata Greg.

Pergeseran diet menuju pola makan sehat berbasis pangan lokal dinilai Greg, memiliki dampak paling signifikan dibandingkan hanya memperbaiki cara produksi. “Melalui sekolah, anak-anak dapat diajak mengenal kembali kekayaan pangan Nusantara seperti sagu di Papua, sorgum, hingga aneka umbi-umbian, sebagai alternatif sehat yang jauh lebih ramah lingkungan daripada ketergantungan pada satu jenis karbohidrat seperti nasi atau makanan ultra-proses,” tandasnya.

Bukan Sekadar Kenyang, Tapi Edukasi

Tantangan besar menanti dalam implementasi MBG. Tanpa edukasi yang tepat, program ini berisiko menghasilkan sisa makanan (food waste) yang tinggi. Integrasi antara pemberian makan dan pendidikan di sekolah menjadi kunci utama.

Sekolah harus menjadi ekosistem tempat anak-anak tidak hanya "disuapi", tetapi juga diajarkan bagaimana pangan diproduksi, dari mana asalnya, dan mengapa mereka perlu mengonsumsi jenis pangan tertentu. Dengan pendampingan, anak-anak akan memahami bahwa apa yang ada di piring mereka, berdampak langsung pada kesehatan tubuh dan keberlanjutan hutan serta satwa liar.

"Kenapa kita tidak menjadikan MBG sebagai pintu masuk untuk membangun kreasi pangan yang sangat berpihak pada anak? Ini bukan hanya soal selera individu, ini adalah tanggung jawab ekosistem pangan kita. PR-nya masih banyak, tapi perubahan kebijakan adalah hal yang utama," ujar Ahmad Arif, seorang Wartawan Senior memberikan masukan.

"Kalau hanya sebatas dikasih makan, seringkali banyak yang tidak dimakan (terbuang). Melalui edukasi di sekolah, anak-anak diajak belajar memproduksi hingga mengolahnya. Dengan pendampingan, mereka tahu kenapa mereka perlu mengonsumsi beragam pangan sehat tersebut," timpal Manik Nur Hidayati, Influencer Food and Environment.

Kolaborasi sebagai Kunci Transformasi

Membangun keberlanjutan pangan memerlukan kerja sama lintas sektor. Pilihan konsumsi masyarakat bukan hanya keputusan individu, melainkan hasil dari kebijakan, distribusi, hingga pengaruh budaya. Transformasi menuju pola makan berkelanjutan, seperti konsep Planetary Health Diet, memerlukan intervensi sistemik agar perubahan terjadi secara luas dan permanen.

"Pilihan konsumsi masyarakat dipengaruhi oleh kebijakan, distribusi, industri, hingga budaya. Transformasi menuju pola makan berkelanjutan memerlukan intervensi lintas sektor agar perubahan terjadi secara sistemik dan berdampak luas," pungkas Semi Kurniasih, Perencana Ahli Pertama Bappenas.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Sinergi Pembayaran Digital dan Layanan Logistik Perkuat Literasi Keuangan UMKM
img
Menjadikan Piring Sekolah sebagai Ruang Kelas: Mengubah MBG Menjadi Literasi Pangan Masa Depan
img
Kisah Menyentuh Seekor Anjing Liar, Kesetiaan dan Perjalanan Panjang dalam Menemukan Rumah Damainya
img
Perkuat Budaya Literasi, Pelatihan Menulis Bersama Perpusnas RI Ajak Siswa SD Menulis di Buku Tulis dengan Sampul Terkerenmu