Metode Belajar Sambil Bermain Perkuat Program Bocah Pinter di Gunungkidul
Peringatan Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak mendapatkan pengalaman belajar yang berkualitas sekaligus menyenangkan. Di tengah upaya pemerintah menghadirkan pendidikan yang lebih bermutu, pendekatan playful learning atau belajar sambil bermain semakin mendapat perhatian karena dinilai mampu membuat pembelajaran lebih aktif, bermakna, dan menyenangkan. Pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip deep learning yang dikedepankan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI.
Pendekatan tersebut tidak sekadar mengajak anak bermain di kelas. Bermain menjadi media untuk membantu siswa memahami konsep, memecahkan masalah, berkomunikasi, hingga bekerja sama. Dengan suasana belajar yang lebih interaktif, anak terdorong mengeksplorasi ide tanpa takut salah sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan sosial.
Semangat tersebut kini diterapkan dalam berbagai program pendidikan, termasuk yang berlangsung di Gunungkidul. Berkolaborasi dengan Indonesia Mengajar, OREO menghadirkan program "OREO Berbagi Seru" yang mendukung program "Bocah Pinter" Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Sebanyak 708 siswa sekolah dasar menerima manfaat melalui distribusi 270 alat belajar interaktif yang mencakup 15 jenis media pembelajaran di bidang literasi, numerasi, sains, dan bahasa Inggris. Seluruh alat belajar tersebut dikembangkan bersama Indonesia Mengajar menggunakan pendekatan belajar sambil bermain dan selaras dengan kurikulum nasional. Melalui program ini, para siswa diharapkan memiliki kesempatan yang lebih setara untuk berkembang menjadi Generasi SERU, yakni Solutif, Eksploratif, Responsif, dan Unggul.
Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Kabupaten Gunungkidul, Supriyanto, yang mewakili Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, mengatakan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, guru, orang tua, dan masyarakat menjadi kunci menghadirkan pendidikan yang lebih baik.
"Kami menyambut baik pendekatan belajar sambil bermain yang diusung dalam program ini. Bantuan alat pembelajaran kepada sekolah-sekolah di Gunungkidul diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga semakin banyak anak memperoleh kesempatan belajar yang berkualitas," ujarnya.
Program ini juga tidak hanya menyasar siswa. Sebanyak 35 guru, 70 orang tua, dan 35 anggota komunitas mengikuti pelatihan mengenai penerapan playful learning agar pendekatan tersebut dapat diterapkan secara konsisten, baik di sekolah maupun di rumah.
Senior Marketing Manager Biscuit Mondelēz Indonesia, Kevin Stefano, mengatakan melalui program tersebut perusahaan ingin membantu memperluas akses terhadap pendidikan yang berkualitas, berkarakter, dan menyenangkan, terutama bagi anak-anak di wilayah 3T dan marjinal.
"Melalui program ini, kami berharap lebih banyak anak Indonesia memiliki kesempatan setara untuk berkembang menjadi Generasi SERU (Solutif, Eksploratif, Responsif, dan Unggul) yang mampu bertahan, beradaptasi, dan berkembang di tengah perubahan dunia yang semakin pesat," kata Kevin.
Hingga akhir tahun, alat belajar tersebut akan didistribusikan ke tujuh provinsi untuk menunjang proses belajar sekitar 7.000 siswa.
Bagi para pendidik, perubahan cara belajar juga terasa nyata. Guru SD Negeri Mentel 1, Endah Setyorini, mengaku pelatihan memberikan banyak inspirasi untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif.
"Kami mendapatkan banyak inspirasi baru untuk menghadirkan proses belajar yang lebih interaktif dan menyenangkan, di mana anak-anak bisa belajar sambil bermain, berdiskusi, dan mengeksplorasi ide-ide mereka," tuturnya.
Antusiasme serupa juga datang dari orang tua. Perwakilan orang tua siswa, Suryani, mengatakan pelatihan menginspirasinya untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan di rumah.
"Saya jadi terinspirasi membuat alat belajar seru menggunakan bahan-bahan yang ada di rumah. Semoga anak saya lebih semangat belajar, berani mencoba hal-hal baru, dan semakin menikmati proses belajarnya," ujarnya.
Gunungkidul menjadi kabupaten kelima yang disambangi program ini setelah Kabupaten Lebak, Pangandaran, Tulang Bawang Barat, dan Purworejo. Di tengah tantangan pemerataan kualitas pendidikan, playful learning menunjukkan bahwa pembelajaran tidak selalu identik dengan hafalan dan suasana kelas yang kaku. Ketika guru, orang tua, komunitas, pemerintah, dan dunia usaha bergerak bersama, semakin besar peluang lahirnya generasi yang cerdas, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.