Musikal Perahu Kertas Resmi Berlayar, Menghidupkan Lagi Mimpi di Atas Panggung
Pementasan perdana Musikal Perahu Kertas yang digelar pada Jumat, 30 Januari 2026 lalu di Ciputra Artpreneur, Jakarta, menjadi penanda perjalanan baru bagi kisah Kugy dan Keenan. Di malam pembuka itu, penonton disambut suasana hangat dan emosional sejak awal pertunjukan, diawali dengan kehadiran Dee Lestari yang tampil anggun dalam balutan gaun merah elegan, memberikan penampilan spesial yang terasa personal sekaligus simbolis atas lahirnya adaptasi musikal ini.
Dipersembahkan oleh Indonesia Kaya dan Trinity Entertainment Network berkolaborasi dengan Trinity Youth Symphony Orchestra (TRUST), musikal ini akan berlangsung hingga 15 Februari 2026 dengan total 21 pertunjukan. Antusiasme penonton sudah terlihat sejak tiket mulai dijual, tak hanya di akhir pekan, tetapi juga pada jadwal hari biasa, menunjukkan kuatnya ikatan publik dengan cerita Perahu Kertas sekaligus meningkatnya minat terhadap teater musikal.
Mengusung tema Hidupkan Lagi Mimpi-Mimpi, musikal ini mengajak penonton menelusuri kembali perjalanan hidup, pilihan, dan keberanian untuk setia pada mimpi di tengah realita.
Yonathan Nugroho, Produser Eksekutif Musikal Perahu Kertas dan CEO Trinity Entertainment Network, menyebut pementasan ini sebagai bagian penting dari perjalanan kreatif mereka.“Musikal ini merupakan wujud komitmen kami untuk mendukung industri pertunjukan Indonesia dan menghadirkan karya lokal yang relevan, jujur, dan berkualitas melalui kolaborasi para kreator terbaik. Kami mengapresiasi seluruh tim kreatif, pemeran, mitra dan semua yang terlibat dalam mewujudkan karya ini di atas panggung,” ujarnya.
Akting para pemain di atas panggung tampil solid dan menyatu. Alya Syahrani sebagai Kugy menghadirkan karakter perempuan pengkhayal dengan energi yang jujur dan emosional, sementara sosok Keenan yang diperankan oleh Dewara Zaqqi tampil dengan pergulatan batin antara mimpi sebagai pelukis maupun keinginan orang tua agar ia mendalami kuliah bisnis. Relasi antartokoh dibangun dengan rapi, bahkan di sela-sela konflik, penonton disuguhi adegan-adegan kocak yang ringan namun efektif mencairkan suasana, membuat kisah ini terasa membumi.
Hadir dan mempersembahkan penampilan spesial pada pertunjukan 30 dan 31 Januari 2026, penulis novel Perahu Kertas, Dee Lestari, turut membagikan perasaannya. “Perahu Kertas telah menempuh perjalanan yang sangat panjang, dari benak, ke halaman, ke layar, dan kini ke panggung musikal. Kisah Kugy dan Keenan bertransformasi ke dalam bentuk yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya, dan perjalanan ini mengajarkan saya bahwa mimpi yang dijaga dengan sabar akan selalu menemukan jalannya bermanifestasi,” ujarnya.
Ia sendiri mengaku terharu menyaksikan kisahnya bertransformasi ke bentuk yang baru. “Saya berharap versi musikal ini dapat menyentuh lebih banyak hati serta memantik para penonton untuk berani hidupkan lagi mimpi-mimpi,” katanya.
Musikal Perahu Kertas ditulis oleh Widya Arifianti, bukan hanya menceritakan tentang dua hati, namun berkembang lewat hubungan dengan keluarga, sahabat, serta mimpi yang saling berkaitan. Ini memperlihatkan bahwa perjalanan hidup tidak selalu linear, namun selalu memberi ruang untuk menemukan arah kembali.
Dari sisi musikal dan visual, pertunjukan ini memadukan sastra, musik, dan teater dalam pengalaman yang imersif. Musik orisinal karya Ifa Fachir dan Simhala Avadana, termasuk lagu ikonik Perahu Kertas, menjadi pengikat emosi sepanjang pertunjukan, dengan arahan musik Ivan Tangkulung yang menjaga dinamika cerita tetap hidup. Koreografi dan penyutradaraan Venytha Yoshiantini menekankan kekuatan gerak dan ritme emosi, membuat perjalanan Kugy dan Keenan tak hanya diceritakan, tetapi dirasakan.
Billy Gamaliel, Produser dan Program Manager Indonesia Kaya, berharap musikal ini memberi dampak lebih luas. “Kami ingin Musikal Perahu Kertas tidak hanya menghibur, tetapi juga menumbuhkan apresiasi terhadap seni pertunjukan dan mengingatkan bahwa mimpi selalu layak diperjuangkan,” katanya.
Lebih dari sekadar nostalgia, Musikal Perahu Kertas hadir sebagai refleksi perjalanan hidup. Tentang mimpi yang mungkin berubah arah, namun selalu menyisakan ruang untuk kembali berlayar. Sebuah pementasan yang mengajak penonton pulang dengan perasaan hangat, dan mungkin, dengan mimpi lama yang kembali dihidupkan.