ads

Parenting VOC, Apakah Masih Relevan?

Efa Trapulina - Senin, 08 September 2025
Parenting VOC menggambarkan pola pikir bahwa orangtua selalu benar dan disiplin sering kali dikaitkan dengan hukuman (Foto: Generated by AI)
Parenting VOC menggambarkan pola pikir bahwa orangtua selalu benar dan disiplin sering kali dikaitkan dengan hukuman (Foto: Generated by AI)
A A A

“Kalau Mama bilang duduk, ya kamu duduk. Titik!”

Moms, kalimat ini pasti familiar. Dulu dianggap wajar, tapi sekarang banyak orangtua mulai bertanya: apakah pola asuh seperti ini masih cocok untuk anak-anak zaman sekarang? Istilah “Parenting VOC” pun ramai diperbincangkan, merujuk pada gaya pengasuhan otoriter yang kaku dan tanpa ruang diskusi.

Apa Itu Parenting VOC?

Istilah ini bukan ilmiah, tapi populer di media sosial. VOC sendiri singkatan dari “Vereenigde Oostindische Compagnie”, yang mengacu pada era kolonialisme yang penuh kontrol dan hukuman. Parenting VOC menggambarkan pola pikir bahwa orangtua selalu benar, anak harus patuh tanpa bertanya, komunikasi hanya satu arah, dan disiplin sering kali dikaitkan dengan hukuman. 

Contoh ucapan sehari-hari: “Jangan nangis, malu!”, “Anak kecil nggak usah banyak alasan!”, atau “Dulu Mama juga digituin, baik-baik saja!” Dalam pola ini, perasaan anak sering kali diabaikan, dan orangtua cenderung merasa selalu benar karena menganggap pengalaman hidupnya lebih valid.

Dampaknya pada Anak

Pengasuhan seperti ini, menurut kajian klasik dari psikolog Diana Baumrind, masuk dalam kategori authoritarian parenting. Dalam model parenting otoriter ini, orangtua menuntut banyak dari anak, tetapi memberi sedikit dukungan emosional. 

Anak-anak yang tumbuh dalam pola ini mungkin:

  • Patuh, tapi tidak percaya diri
  • Takut membuat kesalahan
  • Sulit menyampaikan pendapat
  • Rentan cemas dan menarik diri

Studi dari Journal of Child and Family Studies (2015) menyebut pola ini berkorelasi dengan depresi dan rendahnya kemampuan sosial pada remaja. Artinya, meskipun kelihatan disiplin, patuh, tertib, anak-anak dari pola asuh ini justru menyimpan tekanan emosional yang cukup besar. 

Masih Relevankah di Zaman Sekarang?

Anak-anak usia sekolah dasar saat ini hidup di era serba terbuka. Mereka terbiasa bertanya “kenapa”, ingin penjelasan, dan tumbuh dalam lingkungan yang penuh informasi. Jika gaya parenting VOC tetap diterapkan, mereka bisa merasa tertekan, tidak dipahami, bahkan menjauh secara emosional dari orangtua.

Misalnya, saat anak ingin menjelaskan kenapa nilainya turun, tapi langsung dipotong dengan, “Jangan banyak alasan, kamu memang malas belajar!”, maka yang tertanam bukan motivasi, tapi rasa tidak didengar. Anak jadi enggan terbuka.

Di sisi lain, saat anak-anak bisa melihat bagaimana pola asuh lain diterapkan oleh keluarga lain di media sosial atau YouTube, mereka semakin sadar: “Orangtua temanku bisa kok mendengarkan tanpa marah-marah, kenapa orangtuaku tidak bisa seperti itu?”

Alih-alih membuat anak patuh, gaya VOC di zaman sekarang justru melemahkan hubungan orangtua dan anak.

Solusinya: Tegas Tapi Empatik

Meninggalkan pola otoriter bukan berarti membiarkan anak bertindak semaunya. Anak usia SD tetap perlu arahan dan batasan, tapi pendekatannya harus lebih dialogis dan empatik. Inilah yang disebut authoritative parenting: gaya asuh yang tegas tapi hangat. Orangtua menetapkan aturan, namun juga mau mendengarkan. Komunikasi dua arah dibuka, emosi anak divalidasi, dan anak diberi ruang untuk tumbuh dengan rasa percaya diri.

Contohnya, daripada berkata, “Pokoknya harus les!”, ubah menjadi, “Mama lihat kamu agak kesulitan. Gimana kalau kita coba les seminggu dua kali, kamu pilih harinya.” Dengan begitu, anak merasa didampingi, bukan diperintah. Dan relasi emosional antara orangtua dan anak pun lebih kuat.

Moms, jadi orangtua bukan tentang mempertahankan pola lama hanya karena “dulu kita juga begitu”. Zaman berubah, anak-anak pun berubah. Kalau kita ingin membesarkan anak-anak yang bahagia, percaya diri, dan dekat dengan orangtuanya, maka kita juga perlu berubah.

Parenting bukan tentang menunjukkan siapa yang paling benar, tapi tentang membimbing anak agar tahu mana yang benar. Tentunya dengan cinta, dialog, dan batasan yang sehat.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Ajak Siswa Galang Donasi untuk Sumatra, Bentuk Aksi Nyata Pendidikan Karakter Tidak Hanya Berlangsung Di Kelas
img
Hati-hati, Moms! Kutu Rambut Anak Meningkat Usai Libur Lebaran
img
Tren Camilan Identik dengan Tekstur Kenyal, Rasa Unik, hingga Tampilan Menggugah: Mengapa Cokelat Dubai Bisa Viral di Indonesia?
img
Tujuh Tren Penting Penentu Masa Depan Teknologi Keamanan