Saat Titik-Titik Kecil Bertemu Menjadi Gelombang Peradaban Seni Indonesia
Dunia seni budaya Indonesia tengah menyaksikan sebuah fenomena baru. Bukan sekadar pertunjukan satu malam, Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya hadir melalui MTN Wave: Gelombang Talenta Seni Budaya Indonesia. Acara ini menjadi momentum penting untuk merangkum perjalanan, capaian, sekaligus arah masa depan pembinaan talenta seni di tanah air.
Di bawah naungan Kementerian Kebudayaan dan dikoordinasikan oleh Kementerian PPN/Bappenas, MTN Seni Budaya hadir sebagai program prioritas nasional. Tujuannya tegas: memposisikan seni dan budaya bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, melainkan investasi sumber daya manusia jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.
Menghubungkan Titik-Titik yang Tersembunyi
Salah satu kekuatan utama MTN Seni Budaya adalah keberaniannya untuk menembus batas-batas geografis. Direktur Jenderal Kebudayaan, Ahmad Mahendra, menekankan bahwa program ini adalah sebuah alur perjalanan berkelanjutan, mulai dari pembibitan hingga rekognisi internasional.
Strategi yang digunakan pun unik: Kolektif dan Gotong Royong. Daripada merekrut talenta secara top-down, MTN bekerja sama dengan komunitas, sanggar, dan festival lokal yang sudah hidup di berbagai daerah.
MTN Wave dikemas sebagai pertunjukan seni yang modern dan relevan, menampilkan talenta-talenta unggul dari lima bidang seni budaya: seni rupa, seni pertunjukan, musik, film, dan sastra. Dirancang oleh Direktur Kreatif Rangga Djoened, kelima bidang tersebut dihadirkan sebagai lima gelombang yang bergerak bersama, membentuk resonansi, dan memperlihatkan bagaimana talenta seni budaya Indonesia tumbuh, saling terhubung, dan siap melangkah ke panggung yang lebih luas.
Selain pertunjukan, dalam MTN Wave terdapat instalasi karya Sigit D. Pratama. Instalasi ini dirancang untuk menunjukkan menjadi teaser tentang apa itu MTN Seni Budaya sebelum menikmati sajian pentas. Juga diisi dengan capaian-capaian yang sudah digoreskan selama satu tahun terakhir.
"Kami mencoba mengubah yang tadinya invisible menjadi visible," ujar Rangga saat konferensi pers, Rabu (11/02/2026). "Banyak bakat hebat di pelosok Indonesia yang selama ini tidak kasat mata, kini muncul dan saling terhubung melalui jejaring pengaman yang kita bangun bersama," tambahnya.
Pertunjukan utama bertajuk “Resonansa: Dari Titik Kecil Menjadi Gelombang Peradaban” menjadi metafora perjalanan talenta bermula dari potensi awal, melalui proses pembinaan yang panjang, hingga berkontribusi bagi peradaban dan kebudayaan.
MTN Wave menghadirkan rangkaian karya lintas disiplin dengan penampil:
- Bidang seni rupa mengambil tajuk Rupa Mantra yang menampilkan karya Arifa Safura, Arsya Ardiansyah, Ben Suryo, F. Boy Sinaga, Juan Arminandi, Kezia Rantung, Riyan Kelana, Taufiqurrahman Kifu.
- Bidang film pertunjukan berjudul Di Antara Tubuh, Ingatan, dan Kehilangan yang melibatkan Lola Amaria, serta karya Khozy Rizal, Felix K. Nesi, Rein Maychaelson, Yosef Levi.
- Bidang pertunjukan karya berjudul Tumbuh di Atas Jerami dengan penampil Aditya Warman, Daniel S. Pambudi, Dendi Wardiman, Densiel Lebang, Uni Tati (Hartati), Davit Fitrik, Fazri Arif Sahputra, Maria Bernadeta, Menthari Ashia, Taufik Adam, Try Anggara.
- Bidang sastra bertajuk Siklus Suara yang akan diisi oleh Bongso Temmar, Lala Bohang, Reda Gaudiamo, Tara Febriani, Theoresia Rumthe. Turut memberikan dukungan terhadap MTN Seni Budaya adalah penulis sekaligus talenta unggul, Dewi Dee Lestari.
- Serta ditutup bidang musik dengan judul Simfoni Khatulistiwa yang menampilkan karya Basboi, Djangat Indonesia, Giring Fitrah, Gondrong Gunarto, Kunto Aji, Parasirama, Tsai.
Keseluruhan pertunjukan dipandu oleh Lukman Sardi sebagai narator dan Siko Setyanto, yang merajut tiap gelombang menjadi satu narasi utuh tentang perjalanan talenta seni budaya Indonesia.
Melalui MTN Wave, MTN Seni Budaya menegaskan komitmennya untuk terus mengawal perjalanan talenta seni budaya Indonesia dari titik kecil, menjadi gelombang yang memberi makna bagi masa depan kebudayaan bangsa.
Suara dari Akar Rumput: Pengalaman Nyata Talenta
Dalam MTN Wave, testimoni para seniman menjadi bukti nyata keberhasilan program ini:
Ben Suryo, seniman rupa asal Minahasa yang belajar secara otodidak, menceritakan bagaimana ia bersepeda 460 km menuju lokasi residensi. "Dulu saya minder karena tidak punya pendidikan formal seni, tapi MTN membuka pintu dan membuat saya lebih percaya diri," ujarnya.
Tsai, seorang musisi independen, merasa perspektifnya berubah total setelah bergabung. Dari yang awalnya hanya fokus merilis lagu sendirian, kini ia memahami bagaimana musik bisa menjadi alat untuk menyuarakan isu kelompok tertentu dan menggerakkan perubahan.
Lala Bohang dari bidang sastra dan Aji dari bidang tari juga merasakan hal serupa—MTN bukan hanya memberi panggung, tapi mempertemukan mereka dengan audiens baru, mentor kelas dunia, hingga agen literasi internasional.
Resonansa: Pertunjukan yang Mengorkestrasi Lima Gelombang
Puncak dari perayaan ini adalah pertunjukan utama bertajuk “Resonansa: Dari Titik Kecil Menjadi Gelombang Peradaban”. Di bawah arahan Direktur Kreatif Rangga Djoened dan narasi oleh Lukman Sardi, lima bidang seni (rupa, pertunjukan, musik, film, dan sastra) dilebur menjadi satu kesatuan yang harmonis.
Pengunjung juga disambut oleh instalasi karya Sigit D. Pratama yang menggambarkan konsep "Rumah" atau "Naungan". Material-material mentah yang digunakan melambangkan bahwa meski baru berjalan satu tahun, MTN telah menjadi wadah bagi mereka yang selama ini mencari ruang untuk pulang dan berkembang.
Masa Depan: Menjadi Bagian dari Dunia
MTN Seni Budaya tidak hanya ingin membawa seniman "ke luar negeri", tetapi ingin menjadikan Indonesia sebagai bagian integral dari percakapan global. Dengan memperkuat ekosistem lokal dan komunitas di daerah—seperti di Padang Panjang, Larantuka, hingga Ambon—MTN memastikan bahwa gelombang talenta ini tidak akan mudah surut oleh tantangan zaman.
Melalui MTN Wave, Indonesia menegaskan bahwa setiap talenta, sekecil apa pun titik mulanya, memiliki potensi untuk beresonansi menjadi gelombang besar yang memberi makna bagi masa depan kebudayaan bangsa.