Safer Internet Day 2026: Pentingnya Resiliensi Digital dan Ruang Aman bagi Anak dan Generasi Muda
Di tengah derasnya arus teknologi, ruang digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak. Dari belajar, bermain, hingga bersosialisasi, semuanya kini bersentuhan dengan layar gawai. Namun di balik peluang tersebut, terdapat risiko yang tidak boleh diabaikan, yakni kekerasan dan eksploitasi, baik di ruang daring maupun luring.
Isu ini menjadi perhatian utama Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA) —organisasi nirlaba yang memfokuskan pada keamanan dan perlindungan anak di kehidupan nyata maupun di dunia maya— dalam peringatan Safer Internet Day 2026 pada 4 Februari 2026 di The Sultan Hotel, Jakarta.
Mengusung tema “Bangun Resiliensi Digital, Wujudkan Ruang Aman dari Kekerasan Luring dan Daring”, kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari pemerintah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, media, platform digital, hingga komunitas anak dan orang muda.
Sekitar 200 peserta hadir, dengan 50 persen di antaranya merupakan anak dan orang muda berusia 16-24 tahun, menegaskan komitmen yayasan ini untuk menempatkan suara anak sebagai bagian integral dari solusi.
“Safer Internet Day bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan pengingat bahwa perlindungan anak di ruang digital adalah tanggung jawab bersama. Melalui penguatan resiliensi digital dan pendekatan berbasis komunitas, kami ingin memastikan anak-anak tidak hanya terlindungi, tetapi juga berani bersuara,” ujar Diena, Founder SEJIWA.
Ia menekankan bahwa perlindungan anak di ruang digital bukan hanya soal membatasi risiko, tetapi tentang membangun keberanian, daya lenting, dan ruang aman agar anak dapat tumbuh berdaya.
Menurutnya, anak perlu dibekali kemampuan untuk memahami situasi tidak aman dan tahu ke mana harus mencari pertolongan, baik di dunia digital maupun kehidupan sehari-hari.
Pentingnya Resiliensi Digital
Bagi banyak orang tua, melindungi anak di dunia digital kerap dimaknai dengan larangan, seperti membatasi penggunaan gawai atau mengawasi media sosial. Padahal, perlindungan yang berkelanjutan justru lahir dari resiliensi digital, yakni kemampuan anak dan keluarga untuk mengenali risiko, menjaga diri, serta pulih ketika menghadapi situasi sulit.
Diena menekankan bahwa pendekatan ini tidak bisa berdiri sendiri. “Resiliensi digital perlu dibangun bersama, di rumah, di sekolah, dan di komunitas agar anak tidak merasa sendirian ketika menghadapi masalah,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ruang aman bukan hanya soal tempat fisik, tetapi juga relasi yang membuat anak merasa dipercaya dan didengarkan.
Pendekatan ini semakin relevan di tengah meningkatnya kasus kekerasan dan eksploitasi seksual terhadap anak, yang kerap berawal dari relasi yang dianggap aman.
Dukungan Pemerintah dan Kolaborasi Lintas Generasi
Hal senada diungkapkan oleh Woro Srihadtuti Sulistyaningrum, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan, Kemenko PMK. Ia menyebut bahwa data dari National Center for Missing and Exploited Children (NCMEC) tahun 2024 menunjukkan ada 1,47 juta laporan eksploitasi anak di ruang digital, menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dunia. “Ini bukan sekadar angka statistik. Ini menggambarkan tantangan besar yang harus kita hadapi dalam menyongsong masa depan. Ini adalah peringatan bagi kita semua,” ujar Woro.
Ia menyampaikan komitmen pemerintah dalam memperkuat perlindungan anak di era digital. “Anak dan orang muda bukan bagian dari masalah, melainkan bagian dari solusi. Membangun ruang digital yang aman membutuhkan kolaborasi lintas generasi dan lintas sektor, dengan menempatkan suara anak sebagai bagian penting dalam kebijakan,” tegasnya.
Ruang aman digital, katanya, harus dibangun secara sistemik. “Ruang aman digital harus melahirkan anak yang berdaya, orang dewasa yang paham, komunitas yang peduli, dan sistem yang bertanggung jawab. Pemerintah akan terus berjalan bersama anak- anak muda di samping mereka,” tambahnya.
Ketika Anak Diberi Ruang Bersuara
Peringatan Safer Internet Day 2026 ini sekaligus menjadi selebrasi penutupan Proyek SUFASEC (Stepping Up the Fight Against Sexual Exploitation of Children Online & Offline), sebuah inisiatif tiga tahun yang berfokus pada pencegahan dan penanganan eksploitasi seksual anak di ranah daring dan luring. Proyek ini dilaksanakan di 12 negara dan didanai oleh Pemerintah Belanda melalui aliansi internasional Down to Zero, di mana SEJIWA tergabung melalui jaringan regional Child Rights Coalition Asia (CRC Asia) sejak 2008.
Melalui SUFASEC, SEJIWA membangun kapasitas 19 Sejiwa Muda dan 18 pendamping dewasa di wilayah-wilayah rentan, seperti Jakarta Utara (Penjaringan, Muara Angke, Kampung Muara), Bogor, Yogyakarta, dan Jakarta Selatan. Pendekatan berbasis komunitas ini menekankan pencegahan, deteksi dini, pendampingan awal, serta rujukan yang tepat bagi korban.
Sesi talkshow hari itu juga menghadirkan suara autentik dari Sejiwa Muda.
Iva, salah satu remaja peserta Proyek SUFASEC, berbagi pengalamannya sebagai pendidik sebaya selama tiga tahun. “Saya belajar lebih menghargai diri sendiri, memahami batasan pribadi, dan berani membantu teman sebaya yang menghadapi risiko kekerasan,” ujar Iva.
Hal senada disampaikan Agam, Champion Proyek SUFASEC, yang menegaskan bahwa pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya tidak disimpan sendiri, melainkan dibagikan kembali ke komunitas, terutama di wilayah yang rentan.
Sementara itu, Kayla menegaskan pentingnya edukasi komprehensif sejak dini. “Edukasi tentang eksploitasi dan kekerasan seksual harus diberikan sejak dini, karena banyak kasus justru berawal dari relasi yang dianggap aman. Anak dan orang muda perlu dibekali pemahaman agar mampu mengenali risiko dan melindungi diri.”
Diena menambahkan bahwa Proyek SUFASEC membuktikan besarnya potensi anak dan orang muda sebagai agen perubahan. “Ketika anak dan orang muda dibekali pengetahuan, keterampilan, dan dukungan yang tepat, mereka mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing, baik di ruang digital maupun luring.”
Pentingnya Ruang Aman
Pada kesempatan ini, diluncurkan pula Ruang Aman SEJIWA, ruang berbasis komunitas yang hadir di beberapa wilayah sebagai tempat berbagi, pendampingan awal, dan dukungan bagi korban. Para penggeraknya bukan konselor atau tenaga medis, melainkan aktivis komunitas terlatih yang mampu memberikan dukungan awal, rujukan yang tepat, serta terhubung dengan Helpline.
“Ruang Aman ini kami rancang agar perlindungan anak tidak berhenti pada kampanye atau acara, tetapi hadir dekat dengan kehidupan sehari-hari keluarga,” kata Diena. Ia menambahkan bahwa sistem berbasis komunitas memungkinkan respons yang lebih cepat dan empatik terhadap situasi yang dihadapi anak.
Sementara itu, Rizki Ameliah, Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital BPSDM KOMDIGI, menekankan bahwa literasi digital perlu dimulai dari keluarga sebagai ruang belajar pertama. Ia menjelaskan bahwa regulasi tidak dimaksudkan untuk melarang anak menggunakan teknologi. “Regulasi dibuat agar platform digital bertanggung jawab dan orang tua mampu mendampingi anak secara optimal,” katanya.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Indra Gunawan, Pelaksana Tugas Deputi Perlindungan Khusus Anak Kemen-PPA, “Pendekatan sebaya yang dilakukan oleh Sejiwa Muda sangat efektif. Pesan perlindungan anak akan lebih mudah diterima ketika disampaikan oleh sesama anak dan remaja dengan bahasa yang dekat dengan keseharian mereka.”
Ia menekankan bahwa perlindungan anak membutuhkan kerja bersama.“Perlindungan anak di ruang digital tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah agar anak-anak Indonesia benar-benar terlindungi,” imbuhnya.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan peluncuran film pendek “PRABA”. Film ini menegaskan bahwa anak bukan hanya penyintas atau korban, tetapi juga aktor perubahan yang memiliki suara dan solusi.
Bagi para orang tua, Safer Internet Day 2026 menjadi pengingat bahwa membangun ruang aman bagi anak —baik di dunia digital maupun kehidupan nyata— tidak bisa dilakukan sendiri. “Anak yang merasa aman dan didengar hari ini adalah fondasi bagi masyarakat yang lebih berdaya di masa depan,” tutup Diena.