Tak Harus Menambah Luas Agar Rumah Tetap Luas, Yuk, Luangkan Ruang Agar yang Berarti Selalu Punya Tempat
Rasa haru langsung menyeruak saat menyaksikan potongan video pendek yang dibuka dengan cerita kilas balik hangat masa kecil seorang anak. Dulu, kamera sang Ayah seolah tak pernah berhenti membidik: saat ia tertawa lepas, belajar berjalan, hingga momen-momen riang saat ia sibuk bermain di sudut rumah. Anak itu selalu tersenyum, begitu gembira setiap kali menyadari lensa kamera Ayahnya tertuju padanya. Rumah saat itu penuh dengan kehangatan sederhana tentang seorang Ayah yang ingin mengabadikan setiap detik tumbuh kembang buah hatinya.
Namun, waktu berputar. Lensa kamera yang sama kini dihadapkan pada kenyataan baru. Sang anak telah beranjak remaja. Ada satu adegan yang terasa begitu mengiris sekaligus familier bagi para orang tua: sang Ayah secara refleks mengangkat kameranya, hendak mengambil foto sang anak yang kini sudah lebih tinggi. Namun, kali ini responsnya berbeda. Sang anak menutup muka dengan tangannya, menolak secara halus sembari berlalu.
Rasa haru yang menyeruak dari video pendek tersebut bukan sekadar tentang penolakan sebuah foto, melainkan tentang keikhlasan seorang Ayah dalam melepaskan fase masa kecil anaknya. Melihat bagaimana sudut tempat bermain yang dulu dipenuhi mainan kecil, perlahan berubah menjadi area belajar, hingga akhirnya menjadi tempat sang anak beranjak remaja. Seiring bergantinya tahun, benda-benda di rumah bertambah dan fungsi ruang bergeser, namun ikatan serta kenangan di dalamnya, tetap menetap.
Mengingatkan kita bahwa ketika kehidupan keluarga berkembang, ukuran dinding rumah sering kali tidak bertambah. Tantangannya bukan lagi sekadar menumpuk atau membuang barang, melainkan bagaimana memastikan rumah tetap memberi tempat bagi hal-hal yang berarti.
“Berangkat dari pemahaman mendalam tentang dinamika kehidupan tersebut, kami pun resmi meluncurkan kampanye "Luangkan Ruang: Agar yang Berarti Selalu Punya Tempat",” ungkap Ririn Basuki, Public Relations Manager IKEA Indonesia pada Selasa, 28 Juli 2026 di Alam Sutera, Tangerang.
“Visi kami adalah menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik bagi banyak orang. Bagi kami, visi tersebut dimulai dari memahami bagaimana orang benar-benar menjalani kehidupannya di rumah. Melalui Luangkan Ruang, kami ingin membagikan inspirasi yang membantu masyarakat memanfaatkan ruang yang sudah dimiliki agar rumah dapat terus mengikuti segala bentuk perubahan dalam hidup mereka,” jelas Ririn seraya tersenyum.
Rumah yang Terus Beradaptasi
Kehidupan di rumah selalu dinamis. Kehadiran pasangan, lahirnya buah hati, hingga bermunculannya hobi baru, membuat satu ruangan harus menjalankan banyak fungsi sekaligus.
"Yang sering kami lihat, orang merasa rumahnya sudah tidak cukup. Padahal setelah dilihat lagi, yang berubah sebenarnya bukan ukuran rumahnya, tetapi cara mereka menggunakan ruang di dalamnya," kata Alfinda Krista Rahardyana, Interior Design Leader IKEA Indonesia.
“Kamar tidur, misalnya. Tempat yang dulu identik hanya untuk beristirahat, kini merangkap sebagai area bekerja, belajar, menyimpan kebutuhan harian, hingga area me-time. Kami melihat bahwa solusinya bukan selalu renovasi besar-besaran atau mengorbankan ruangan menjadi gudang, melainkan menata ulang apa yang esensial dan memanfaatkan sudut-sudut rumah yang belum optimal,” tambah Alfinda yang akrab disapa Finda.
Pengalaman ini dirasakan langsung oleh Rudy Ferdianrus, seorang Art Director, videografer, sekaligus ayah dari dua anak (Aksa, 5 tahun, dan Leon, 3 tahun). Tinggal di rumahnya sejak 2016, Rudy menceritakan bagaimana rumahnya bertransformasi dari tempat tinggal minimalis untuk dua orang dan dua ekor kucing, menjadi hunian yang penuh warna seiring hadirnya anak-anak.
"Awalnya anak pertama suka menggambar di meja makan dan semua barang harus digeser. Adeknya suka main kereta-kerataan. Di pagi hari, lantai satu sangat hectic untuk persiapan sekolah. Siang hari jadi tempat istri bekerja dan syuting, sore hari berubah lagi jadi area bermain. Menurut saya, rumah itu bukan sesuatu yang selesai sekali jadi, tetapi terus berkembang mengikuti kehidupan keluarga," tutur Rudy.
Menata Dua Area Penting: Bedroom dan Hallway
Dalam kampanye kali ini, mereka memfokuskan perhatian pada dua area utama yang sering kali memiliki peran krusial namun kurang disadari: Kamar Tidur (Bedroom) dan Area Transisi (Hallway).
- Area Transisi (Hallway): Sering kali menjadi checkpoint pertama saat pulang dan area terakhir yang disinggahi sebelum pergi. Area ini ideal untuk meletakkan jaket, helm, sepatu, atau cermin. Rudy bahkan memanfaatkan area hallway dengan menghadirkan bench penyimpanan tersembunyi yang dapat memuat perlengkapan besar seperti stroller hingga sepeda anak tanpa membuat rumah tampak berantakan.
- Kamar Tidur (Bedroom): Sebagai area paling personal, kamar tidur kini dituntut lebih efisien. Solusi seperti rangka tempat tidur dengan laci penyimpanan terintegrasi (seperti seri BRIMNES) hingga kotak penyimpanan pakaian terorganisir membantu menjaga kenyamanan kamar.
“Kami juga hadirkan pendekatan berbasis Persona (room setting seperti "Pelari Culture", "Pengabdi Series", hingga "Orang Tua Baru") dalam inspirasi desainnya. Pendekatan ini menekankan bahwa dua ruangan dengan ukuran yang sama persis (misalnya 3x3 meter) akan membutuhkan tata letak yang berbeda tergantung pada kebiasaan, hobi, dan karakter penghuninya,” ucap Finda.
Melatih Anak Mandiri Melalui Furnitur Tepat
Menariknya, penataan ruang yang tepat juga berdampak positif pada kebiasaan anak. Rudy membagikan pengalamannya menggunakan kombinasi tempat penyimpanan ramah anak seperti seri TROFAST.
"Anak-anak jadi punya dorongan untuk membereskan mainannya sendiri tanpa perlu dipaksa. Mereka melihat apa yang dilakukan orang tuanya, dan fungsionalitas furniturnya memudahkan mereka untuk ikut menjaga kerapian," jelas Rudy.
Finda menambahkan bahwa solusi penyimpanan sebenarnya sangat luas dan tidak terbatas pada lemari besar. Penggunaan rak dinding (ambalan), gantungan, hingga kotak penyimpanan modular yang memiliki bukaan depan (seperti seri VIERRA) sangat membantu untuk hunian berukuran terbatas (small space living).
Ririn pun kembali menegaskan bahwa visi IKEA untuk menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik, dimulai dari memahami cara nyata orang hidup di rumah.
"Melalui 'Luangkan Ruang', kami ingin membagikan inspirasi yang membantu masyarakat memanfaatkan ruang yang sudah dimiliki. Rumah yang nyaman adalah rumah yang sanggup beradaptasi dengan perubahan hidup penghuninya," tutup Ririn.