Tak Lagi Berakhir di TPA: Yuk, Moms Ubah Sampah Plastik di Rumah Jadi Bernilai Lewat Waste Station
Moms, pernahkah memerhatikan berapa banyak sampah plastik yang dihasilkan dari rutinitas harian kita di rumah? Ya, dari aktivitas sederhana seperti mencuci dan memasak, jejak kita terhadap lingkungan ikut terbentuk. Tanpa kita sadari, dapur dan ruang cuci menjadi “pabrik kecil” penghasil sampah rumah tangga. Botol detergen kosong, pouch sabun cuci, plastik kemasan belanja, kardus belanja online, kemasan snack atau minuman di rumah, dan banyak lagi. Sampah-sampah ini sering kali langsung masuk kantong besar untuk dibuang dan hanya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Inilah yang kerap menjadi PR besar dalam menghadapi tantangan persampahan. Kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik masih belum berjalan optimal, padahal banyak kemasan anorganik yang sebenarnya memiliki nilai daur ulang. Di saat yang sama, limbah cair yang dihasilkan dari proses pencucian menggunakan detergen juga menimbulkan tantangan tambahan bagi lingkungan. Kondisi ini menegaskan perlunya inisiatif, gerakan, dan kolaborasi bersama dari berbagai pihak untuk menjaga kelestarian bumi demi mewujudkan masa depan yang lebih baik.
Menurut Anastasia Pamela, Head of Fabric Care Category WINGS Group Indonesia, isu sampah bukan hanya soal volume yang terus meningkat, tetapi juga soal kebiasaan yang belum terbentuk. “Permasalahan sampah masih menjadi isu utama. Bukan hanya karena volumenya, tetapi karena masih banyak sampah yang sebenarnya memiliki nilai guna dan bisa dimanfaatkan kembali,” jelasnya saat ditemui dalam peluncuran kampanye #AlamiSoSoftUntukBumi dan peresmian waste stastion di Bandung Barat, Jumat (13/2).
Ia menekankan bahwa kepedulian terhadap bumi tidak harus rumit. “Melalui kampanye ini, kami ingin menunjukkan bahwa kepedulian terhadap bumi bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari, mulai dari kegiatan domestik seperti mencuci,” katanya.
Kampanye ini mendorong masyarakat untuk melakukan dua langkah sederhana untuk menunjukkan kepedulian pada bumi. “Memilih detergen berbahan aktif tumbuhan yang biodegradable dan bebas bahan kimia SLS, sehingga lebih ramah lingkungan. Tak berhenti di situ, langkah kedua adalah memastikan kemasannya tidak berakhir sia-sia. Penting untuk memilah sampah plastik dan mendaur ulang kemasan dengan menyetorkannya ke fasilitas daur ulang seperti Waste Station,” kata Pamela.
Dari Rumah ke Waste Station
Sebagai bentuk penguatan dampak keberlanjutan dari kampanye ini dan untuk mempermudah masyarakat, detergen berbahan aktif tumbuhan, SoSoft dari WINGS Care, bekerja sama dengan Rekosistem meresmikan Waste Station di kompleks Sekolah Al-Irsyad Satya Kota Baru Parahyangan (KBP), Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (13/2). Fasilitas ini menjadi titik kumpul bagi masyarakat yang ingin mengumpulkan (drop-in) berbagai jenis sampah rumah tangga seperti plastik, kertas, kardus, logam, kaca, hingga minyak jelantah.
Pada kesempatan yang sama, Ernest Layman, CEO & Co-Founder Rekosistem yang merupakan perusahaan rintisan pengelola dan daur ulang sampah berbasis teknologi, menjelaskan bahwa inisiatif ini bukan sekadar tempat setor sampah. “Waste Station adalah inisiatif kolaborasi untuk bumi kita. Dalam satu tahun ke depan, target minimal kita adalah mengumpulkan 16 ton sampah untuk didaur ulang melalui Waste Station ini,” ujarnya saat ditemui di kesempatan yang sama.
Sampah yang terkumpul tidak berhenti di sana. Setelah disetorkan, sampah akan diproses di hub pengolahan yang didukung manajemen kawasan Kota Baru Parahyangan. “Semua sampah yang disetor akan diolah menjadi material bernilai ekonomi. Contohnya kemasan berbahan HDPE akan diolah menjadi biji plastik kembali. Sachet akan dicacah dan dimanfaatkan sebagai bahan baku atau material lainnya,” jelas Ernest.
“Kami menyambut baik kehadiran waste station hasil kolaborasi ini. Fasilitas ini sejalan dengan komitmen kami dalam menyediakan lingkungan yang mendukung gaya hidup berkelanjutan bagi warga. Dengan lokasi yang mudah diakses, kami berharap inisiatif ini dapat mendorong partisipasi aktif warga KBP dan sekitarnya untuk memilah sampah dari rumah,” ujar Zaenudin selaku Asisten Manager Sanitasi dan Transportasi Kota Baru Parahyangan.
Ia mengatakan, kapasitas TPA di wilayah Bandung Raya sudah sangat terbatas. “Bayangkan jika setiap penghuni tidak memilah sampahnya, betapa banyak sampah hanya berakhir di TPA. Saat ini jumlah penghuni KBP sudah mencapai sekitar 5.000–6.000 orang. Jika satu rumah tangga menghasilkan 2,5 liter sampah per hari, volumenya sangat besar,” ungkapnya. Karena itu, pemilahan sampah dari rumah menjadi kunci.
“Kami mendorong program pemilahan sampah secara reguler. Namun memang diperlukan hal-hal yang memotivasi penghuni agar mau memilah sampah, termasuk manfaat atau insentif yang dirasakan langsung,” tambah Zainuddin.
Poin Berhadiah
Di sinilah sistem poin menjadi solusi tambahan. Ernest mengatakan, melalui aplikasi Rekosistem, setiap setoran sampah akan mendapatkan poin (Rekopoin). Khusus kemasan SoSoft, tersedia poin tambahan seperti: 100 poin untuk 1 botol kosong, 50 poin untuk 1 pouch ukuran 360 ml & 700 ml, dan 5 poin untuk 1 sachet ukuran 40 ml. Poin tersebut dapat dikonversi menjadi uang digital atau ditukar dengan berbagai keuntungan menarik.
Ernest menegaskan, “Menggerakkan orang untuk memilah sampah memang tidak mudah. Sering muncul pertanyaan, ‘Saya mendapat apa jika memilah sampah?’ Dengan adanya sistem poin ini, ada dorongan tambahan agar masyarakat terlibat.”
Namun ia juga menekankan bahwa tujuan utamanya tetap pada perubahan perilaku. “Inisiatif ini tidak hanya berdampak pada jumlah sampah yang dikumpulkan, tetapi juga pada peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah.”
Tak lupa Ernest mengapresiasi inisiatif kehadiran waste station ini. “Kolaborasi ini menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari, mulai dari mencuci pakaian hingga pengelolaan sampah kemasan secara bertanggung jawab. Kami berharap kampanye ini dapat mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian bumi,” pungkas Ernest.
Moms, jika dipikirkan kembali, ibu menjadi sosok paling menentukan alur sampah di rumah. Ibu juga bisa mengajarkan anak untuk memisahkan sampah organik dan anorganik. Kampanye dan pengadaan waste station ini ingin menjadikan kebiasaan itu lebih terarah dan terhubung dengan sistem daur ulang yang jelas.
“Semua ini adalah bagian dari inisiatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memilah sampah dan menggencarkan gerakan daur ulang,” ujar Pamela. “Kami berharap dukungan semua pihak agar target 16 ton sampah dalam satu tahun ini dapat tercapai,” tutupnya.
Ke depan, inisiatif Waste Station juga direncanakan hadir di kota-kota lain di Indonesia. Bagi para Moms, mungkin ini bukan sekadar soal membuang sampah. Ini tentang memberi contoh kepada anak bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari rumah.