Tantangan Kesehatan Anak dan Remaja Belum Usai, ChildFund Libatkan Anak Muda Merancang Solusinya
Stunting, anemia pada remaja, pemenuhan gizi anak, hingga kesehatan mental remaja masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia. Di tengah perubahan kondisi sosial dan lingkungan, dibutuhkan pendekatan yang lebih adaptif agar solusi yang dihadirkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Melihat kondisi tersebut, ChildFund International di Indonesia menempatkan pemuda bukan sekadar sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai mitra strategis dalam merancang solusi kesehatan. Melalui peluncuran inisiatif bertajuk “Youth Innovation Challenge: Inovasi untuk Kesehatan”, organisasi nirlaba ini mengajak anak muda untuk mengembangkan inovasi yang lahir dari pengalaman mereka sendiri di komunitas.
Senior Specialist Health ChildFund International di Indonesia, Siti Aisah, mengatakan selama ini anak muda lebih sering hanya menjadi pengguna program kesehatan, bukan ikut merancangnya. “Pendekatan yang digunakan umumnya masih sebatas user approach, di mana mereka hanya menjadi pengguna, bukan menjadi bagian dari pengembang atau perancang program,” kata Siti saat ditemui di acara Youth Innovation Showcase di Melting Pop M-Bloc, Jakarta, Kamis (25/6).
Karena itu, organisasi yang berfokus pada hak, kesejahteraan, dan perlindungan anak dan remaja ini menerapkan pendekatan co-creation, yaitu mengajak remaja dan pemuda mengidentifikasi persoalan kesehatan di lingkungan mereka, lalu bersama-sama merancang solusi yang paling relevan.
“Menurut kami, kesenjangan terbesar selama ini adalah minimnya keterlibatan anak muda sebagai pengembang atau konseptor sebuah program,” ujar Siti.
Siti menegaskan bahwa perubahan kondisi kesehatan masyarakat membutuhkan pendekatan yang lebih partisipatif. “Lanskap kesehatan, kondisi lingkungan, dan sosial yang terus berkembang menuntut pendekatan yang adaptif, inovatif, dan partisipatif. Melalui Youth Innovation Challenge, kami mendorong pemuda untuk mengambil peran sebagai penggerak perubahan yang mampu merumuskan solusi kontekstual sesuai dengan kebutuhan komunitas mereka,” ujarnya.
Menurut Siti, antusiasme peserta menunjukkan besarnya komitmen generasi muda dalam menghadirkan solusi kesehatan yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. “Antusiasme dan kualitas ide yang kami terima menunjukkan komitmen kuat generasi muda Indonesia dalam memberikan solusi kesehatan yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat, didukung oleh pendekatan berbasis bukti, serta berpotensi memberikan dampak yang berkelanjutan di komunitas,” lanjutnya.
Program ini bukan sekadar kompetisi ide. Sejak awal, peserta didampingi menyusun target perubahan, indikator keberhasilan, hingga pengukuran dampak agar setiap inovasi benar-benar berbasis bukti dan berpeluang diterapkan lebih luas.
Program yang dibuka pada Januari 2026 ini menerima 83 abstrak dari komunitas pemuda, akademisi, organisasi nirlaba, hingga komunitas inovator. Sebanyak 11 tim kemudian mengikuti bootcamp untuk menyempurnakan proposal menggunakan standar pengukuran dampak ChildFund sebelum akhirnya dipilih empat penerima hibah melalui dua kategori, yakni Established Track untuk organisasi yang telah berbadan hukum dan Emerging Track bagi komunitas pemuda. Keempat tim kemudian mengimplementasikan inovasinya selama tiga bulan di Jakarta Timur dan Bogor.
Empat inovasi tersebut mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan keluarga, mulai dari deteksi gangguan pencernaan pada anak dengan disabilitas intelektual melalui NOWGUT, pencegahan anemia untuk menekan risiko stunting melalui RED FOR HER BRIGHT, penguatan gizi santri putri oleh Yayasan Santri Peduli Negeri (SAPIN), hingga pemanfaatan teknologi AI chatbot lewat PREVIA (Preventive Intelligence for Adolescent Health) agar remaja lebih mudah mengakses informasi kesehatan.
“Isu yang mereka angkat sangat kontekstual dengan kebutuhan anak muda saat ini. Ada yang berkaitan dengan screening kesehatan, ada juga PREVIA yang mengembangkan teknologi berbasis AI atau chatbot untuk memudahkan anak muda memperoleh informasi kesehatan,” kata Siti.
Pendekatan ini bukan hal baru bagi ChildFund. Sebelumnya, organisasi tersebut juga telah melibatkan remaja dalam berbagai program kesehatan di 45 sekolah, mulai dari asesmen kesehatan, pelatihan guru dan konselor sebaya, hingga penguatan sistem rujukan layanan kesehatan dan kolaborasi lintas sektor.
ChildFund juga memastikan inovasi yang lahir tidak berhenti setelah masa pendampingan selesai. Inovasi yang terbukti efektif diharapkan dapat direplikasi sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas. “Untuk inovasi yang masih berada dalam pendampingan, kami akan memastikan semuanya siap untuk direplikasi apabila terbukti efektif,” ujar Siti.
Sementara itu, Daniel Yusuf Candra, Youth Officer ChildFund International di Indonesia, mengatakan Youth Innovation Challenge merupakan salah satu dari lima sektor program yang dijalankan ChildFund di Indonesia. “Program ini merupakan salah satu inisiatif. Secara keseluruhan, ChildFund International di Indonesia memiliki lima sektor program. Inovasi yang dipresentasikan hari ini merupakan bagian dari salah satu sektor tersebut,” ujarnya.
Daniel menilai tingginya partisipasi peserta menunjukkan besarnya potensi generasi muda dalam mendukung peningkatan kesehatan masyarakat. “Tingginya partisipasi kelompok pemuda dan komunitas dari berbagai wilayah sejak awal tahun ini menjadi indikator kuat terhadap besarnya potensi serta komitmen generasi muda. Berbagai gagasan yang masuk dinilai merefleksikan kesiapan mereka dalam mendukung pencapaian indikator kesehatan masyarakat, khususnya demi memastikan setiap anak di Indonesia dapat tumbuh secara sehat, aman, dan sejahtera,” katanya.
Setelah implementasi empat proyek tersebut selesai, ChildFund membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, lembaga donor, dan sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Harapannya, inovasi yang dikembangkan para pemuda ini dapat direplikasi sehingga semakin banyak anak dan remaja di berbagai daerah memperoleh manfaatnya.