Terlalu Banyak Pakai AI Ancam Keamanan Data, Lakukan Ini Agar Aman
Penelitian terbaru telah mengungkap pergeseran signifikan dalam penggunaan AI selama musim liburan.
Jauh dari sekadar asisten belanja atau perencanaan yang andal, kecerdasan buatan telah muncul sebagai pendamping digital multifaset yang mampu memberikan dukungan emosional, sebuah fenomena yang sangat menonjol di kalangan Generasi Z dan milenial.
Namun, para ahli memperingatkan bahwa terlalu banyak mengandalkan AI dapat mengancam keamanan data.
Survei dilakukan untuk mengetahui bagaimana orang memanfaatkan AI untuk memaksimalkan waktu luang mereka dan menyederhanakan persiapan liburan, serta untuk menyoroti potensi ancaman siber yang terkait dengannya.
Studi ini dilakukan oleh Kaspersky’s market research center pada November 2025. 3000 responden dari 15 negara (Argentina, Chili, Cina, Jerman, India, Indonesia, Italia, Malaysia, Meksiko, Arab Saudi, Afrika Selatan, Spanyol, Turki, Inggris, Uni Emirat Arab) ikut serta dalam survei tersebut.
Kenyataannya, popularitas AI pada musim liburan 2025/2026 cukup tinggi, dengan 74% peserta survei menunjukkan bahwa mereka berencana untuk memasukkan AI ke dalam aktivitas liburan mereka.
Generasi muda menunjukkan antusiasme terkuat terhadap penggunaan AI, dengan 86% responden berusia 18-34 tahun menyatakan niat untuk menggunakan kecerdasan buatan selama masa liburan.
Bagaimana AI dapat membantu Kamu?
Menurut survei, lebih dari separuh pengguna AI berencana menggunakan alat tersebut selama liburan untuk mencari resep (56%) atau restoran dan akomodasi (54%), yang menggarisbawahi signifikansi AI secara berkelanjutan dalam menyederhanakan proses riset dan mengurangi komitmen waktu terkait pencarian.
Namun, AI sebagai penghasil ide juga mendapat respons yang bagus dari audiens. Survei tersebut mengungkapkan bahwa 50% pengguna mencari bantuan AI untuk bertukar pikiran tentang ide hadiah, cara merayakan, atau kiat-kiat dekorasi Natal dan Tahun Baru.
Jumlah responden yang sama berencana untuk mempercayai AI untuk menghasilkan ide tentang cara menghabiskan waktu luang mereka.
Selama liburan, separuh responden menganggap AI sebagai asisten belanja, yang dapat membantu mereka membuat daftar belanja, menemukan penawaran terbaik, atau menganalisis ulasan.
Generasi muda menunjukkan minat yang tinggi pada AI sebagai perencana anggaran (50%), sementara orang yang lebih tua (55+) kurang antusias untuk membiarkan kecerdasan buatan mengelola pengeluaran mereka (31%), lebih memilih untuk menggunakannya untuk mencari resep (59%) dan menghasilkan ide hadiah (41%).
Alat AI modern memungkinkan pembeli saat liburan untuk menemukan penawaran yang sesuai dengan preferensi individu dan batasan anggaran hanya dengan beberapa klik.
Namun, keandalan informasi yang dihasilkan chatbot tetap menjadi perhatian yang signifikan. Sangat disarankan bagi pembeli untuk memeriksa semua tautan yang diberikan oleh AI sebelum mengkliknya, karena tautan tersebut mungkin berisi konten berbahaya atau phishing.
Untuk mengurangi risiko ini, para ahli keamanan siber merekomendasikan penggunaan solusi keamanan yang dilengkapi dengan alat deteksi phishing berbasis AI.
Berbicara dengan AI
Selain kemampuannya untuk mengatasi berbagai tantangan dan menghasilkan ide-ide baru, AI mengambil peran baru: berfungsi sebagai pendamping virtual yang mampu menawarkan bantuan emosional.
Secara global, 29% dari mereka yang menggunakan AI selama liburan mempertimbangkan untuk berbicara dengannya ketika mereka merasa tidak bahagia, dengan pengguna di Indonesia memiliki persentase lebih tinggi (31%) untuk ini.
Generasi Z dan milenial menunjukkan minat terbesar pada dukungan berbasis AI di antara semua usia, dengan 35% responden memilih opsi ini.
Generasi yang lebih tua menunjukkan minat yang sangat terbatas pada bidang AI ini – hanya 19% responden berusia 55 tahun ke atas yang mempertimbangkan untuk berbicara dengan AI ketika mereka kesal.
Meskipun komunikasi dengan layanan AI mungkin tampak personal dan pribadi, penting untuk diingat bahwa sebagian besar chatbot dimiliki oleh perusahaan komersial dengan kebijakan pengumpulan dan pemrosesan data mereka sendiri.
Berikut beberapa kiat keamanan yang dapat membantu meningkatkan privasi data:
1. Sebelum memulai percakapan apa pun, tinjau kebijakan privasi alat AI yang kamu gunakan. Beberapa penyedia AI mungkin menggunakan percakapan emosional kamu untuk menyimpulkan informasi tentang kamu, yang dapat digunakan untuk iklan bertarget atau bahkan dijual kepada perusahaan pemasaran pihak ketiga. Periksa apakah kamu dapat memilih untuk tidak menggunakan obrolan kamu untuk tujuan seperti pelatihan model atau pemasaran untuk meminimalkan jumlah data yang dikumpulkan.
2. Cobalah untuk menghindari berbagi informasi yang sangat pribadi, identitas, atau keuangan dengan chatbot AI. Perlakukan pesan kamu seperti halnya unggahan media sosial publik – jangan pernah menganggap kerahasiaan mutlak.
3. Gunakan layanan AI dari perusahaan terkemuka dengan rekam jejak privasi dan keamanan yang kuat. Hindari menggunakan bot anonim atau tidak dikenal yang mungkin dirancang untuk mengumpulkan data. Bot AI berbahaya atau palsu mungkin mencoba mengekstrak informasi pribadi untuk melakukan penipuan, phishing, atau pemerasan. Untuk melindungi data kamu, gunakan solusi keamanan yang mencegah mengklik tautan yang tidak dapat diandalkan.
“Seiring dengan pesatnya perkembangan model LLM, potensi mereka untuk terlibat dalam dialog bermakna dengan pengguna juga meningkat. Namun, penting untuk diingat bahwa mereka belajar memberikan jawaban dari data, yang sebagian besar bersumber dari Internet, artinya mereka rentan untuk mengulang kesalahan dan bias dari teks yang digunakan untuk pelatihan. Sangat disarankan untuk merangkul saran AI dengan sikap skeptis yang sehat dan mencoba untuk menghindari berbagi informasi secara berlebihan,” kata Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center.