ads

5 Mitos Bisnis Kuliner yang Perlu Diluruskan, Begini Cara UMKM “Naik Kelas”

Efa Trapulina - Sabtu, 22 Agustus 2026
Head of Public Communications Polytron, Vina Julita Wijaya, sedang menjelaskan bahwa asumsi yang keliru dapat menghambat perjalanan UMKM di acara Pelatihan UMKM di Jakarta (Foto: Efa)
Head of Public Communications Polytron, Vina Julita Wijaya, sedang menjelaskan bahwa asumsi yang keliru dapat menghambat perjalanan UMKM di acara Pelatihan UMKM di Jakarta (Foto: Efa)
A A A

Bagi para ibu yang menjalankan usaha kuliner dari rumah, istilah “naik kelas” atau “naik level” mungkin identik dengan membuka toko, menambah cabang, atau mengejar omzet yang lebih besar. Padahal Moms, berkembangnya sebuah usaha tidak selalu harus dimulai dari sana, lho!

Hasil riset lapangan yang dirangkum dalam UMKM Handbook: Panduan UMKM Naik Level yang baru-baru ini diluncurkan justru menemukan sejumlah anggapan yang perlu diluruskan. Panduan hasil kolaborasi Polytron dan platform riset Populix tersebut memotret kondisi UMKM kuliner sekaligus membandingkan berbagai mitos dengan realitas di lapangan.

Ternyata Moms, data menunjukkan 80 persen pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) merupakan kaum “perintis”. Sebanyak 57 persen terdorong oleh keinginan untuk mandiri, sedangkan 46 persen melihat adanya peluang pasar yang menjanjikan. 

Dari sisi demografi, Gen Z dan Milenial mendominasi dengan porsi 65 persen. Lalu dari sisi pendanaan, 63 persen masih mengandalkan tabungan pribadi dan 46 persen menggunakan modal bertahap dari keuntungan usaha.

Workshop UMKM Naik Kelas Bareng Polytron
Gelar Pelatihan UMKM di Jakarta, Polytron dan Populix Luncurkan Riset “Handbook UMKM” 

Buku panduan tersebut juga menyajikan data riset lapangan secara komprehensif untuk mematahkan berbagai mitos yang selama ini menghambat UMKM, sekaligus meredefinisikan langkah nyata untuk memajukan bisnis. Beberapa di antaranya mitos UMKM Naik Level:

1. Mitos: Harus punya banyak cabang
Membuka cabang baru memang bisa menjadi bagian dari ekspansi. Namun, terburu-buru melakukan ekspansi tanpa sistem yang siap justru dapat menjadi masalah. Sebanyak 25 persen pelaku usaha mengalami kesulitan karena sistem dan SOP belum tertata. Sementara itu, 48 persen masih mencatat transaksi secara manual.

Kondisi tersebut dapat membuat pengambilan keputusan lebih banyak mengandalkan intuisi dan menyulitkan proses ekspansi. Jadi, sebelum memikirkan cabang berikutnya, pencatatan transaksi, alur kerja, dan SOP perlu diperhatikan lebih dulu.

2. Mitos: Pinjaman modal susah didapat
Modal memang masih menjadi tantangan bagi sebagian pelaku UMKM. Sebanyak 32 persen menyebut modal sebagai tantangan utama dan 50 persen merasa kesulitan meminjam dana dari bank. Namun, riset juga menemukan persoalan literasi. Sebanyak 26 persen pelaku usaha tidak memahami cara mengajukan pinjaman, sementara 19 persen tidak memiliki akses ke lembaga keuangan.

Bank menilai kelayakan usaha berdasarkan data tertulis, seperti laporan keuangan dan arus kas, bukan sekadar potensi bisnis. Karena itu, pencatatan keuangan yang rapi menjadi salah satu fondasi penting bagi usaha.

3. Mitos: Harga produk harus dinaikkan agar keuntungan bertambah
Menaikkan harga mungkin terlihat sebagai cara sederhana untuk meningkatkan keuntungan. Namun, strategi tersebut perlu mempertimbangkan karakter konsumen. Sebanyak 20 persen konsumen disebut memiliki tipe sensitif terhadap harga. Di sisi lain, tantangan yang banyak dirasakan pelaku usaha justru berkaitan dengan manajemen SDM, yaitu 35 persen.

Sebanyak 67 persen UMKM mikro hanya memiliki satu hingga dua karyawan yang harus merangkap berbagai fungsi. Kondisi ini memicu persoalan kecepatan pelayanan, yang menjadi kendala bagi 55 persen pelaku usaha saat jam sibuk.
Karena itu, selain menambah karyawan, pengaturan SOP dan penggunaan peralatan untuk mengurangi proses manual menjadi hal yang perlu dipertimbangkan.

4. Mitos: Omzet besar berarti bisnis sudah pasti aman
Omzet besar belum tentu menggambarkan kondisi keuangan usaha secara keseluruhan. Ada hidden cost atau biaya tersembunyi yang dapat muncul akibat kelalaian operasional. Salah satu risiko yang disoroti adalah premature asset death, yaitu ketika peralatan rusak dalam waktu sekitar satu tahun akibat penggunaan yang tidak tepat oleh pelaku usaha atau karyawan.

Dampaknya tidak hanya berupa biaya servis atau penggantian alat. Bahan baku juga berpotensi rusak dan operasional dapat terhenti, sehingga muncul kerugian tambahan. Karena itu, penggunaan dan perawatan peralatan secara tepat menjadi bagian dari pengelolaan aset usaha.

5. Mitos: Harus menggunakan peralatan mahal
Peralatan mahal belum tentu menjadi jawaban bagi setiap UMKM. Yang lebih penting adalah memilih peralatan yang tepat guna sesuai kebutuhan usaha. Data menunjukkan 60 persen UMKM belum memiliki produk elektronik pendukung. Dari 40 persen yang sudah menggunakannya, 68 persen merasakan peningkatan kecepatan pelayanan dan 50 persen merasakan efisiensi bahan baku.

Namun, 42 persen UMKM masih membeli perangkat elektronik berdasarkan harga termurah. Padahal, garansi menjadi pertimbangan bagi 27 persen dan daya tahan bagi 24 persen. Artinya, ketika memilih peralatan untuk usaha, harga bukan satu-satunya aspek yang perlu diperhatikan.

Jadi, Apa Arti Sebenarnya dari UMKM “Naik Kelas”?

Head of Public Communications Polytron, Vina Julita Wijaya, mengatakan asumsi yang keliru dapat menghambat perjalanan UMKM.
“Dalam perjalanannya, banyak UMKM terhambat karena asumsi yang keliru. Handbook ini secara tajam mematahkan 5 mitos utama, disandingkan langsung dengan fakta lapangan,” ungkap Vina di sela-sela Pelatihan UMKM dalam acara “UMKM Naik Level bareng POLYTRON” Seri 4 di Jakarta, Jumat (21/8).

Berdasarkan temuan tersebut, konsep UMKM “naik level” kemudian dirumuskan melalui empat pilar yang terukur: Konsep, Sistem, Aset, dan Ekspansi.

Konsep berarti memikirkan identitas usaha, kenyamanan pelanggan, dan kesan profesional meski bisnis masih berskala rumahan.
Sistem berarti menggantikan pekerjaan manual secara bertahap dengan sistem digital yang minim kesalahan.

Aset berarti berpikir jangka panjang dengan memilih aset yang dapat menjadi pegangan usaha dalam waktu lama.

Sedangkan Ekspansi berarti membuka peluang baru dan melakukan diversifikasi tanpa membuat usaha yang sudah berjalan menjadi keteteran.

Mengelola Keuangan Juga Bagian dari Naik Kelas

Pada sesi edukasi finansial di kesempatan yang sama, Learning & Development Lead MWX Indonesia, Kreshna Manggala, membagikan langkah praktis untuk membantu pelaku usaha mengelola arus kas.

(ki-ka) Tissa
Tissa Aunilla, Co-Founder Pipiltin Cocoa (tengah) dan Kreshna Manggala, Learning & Development Lead MWX Indonesia (kanan)

Dalam pemaparannya, Kreshna membahas pentingnya membedakan omzet, profit, dan uang tunai di tangan. Pemilik usaha juga dianjurkan menerapkan sistem penggajian diri agar keuangan pribadi dan bisnis tidak tercampur.

Untuk bisnis kuliner, peserta dibekali panduan menjaga rasio belanja bahan baku pada kisaran 30–35 persen. Kebocoran hidden cost akibat takaran porsi yang tidak seragam juga menjadi perhatian. Selain itu, konsumsi listrik dari alat pendingin yang menyala sepanjang hari dapat diperhatikan melalui perawatan rutin dan pengecekan komponen.

Belajar dari bisnis lokal yang punya identitas

Pelatihan tersebut juga menghadirkan Co-Founder Pipiltin Cocoa, Tissa Aunilla, yang membagikan perjalanan bisnis cokelat lokal dengan mengangkat biji kakao cita rasa tinggi asal Nusantara langsung dari petani lokal.

“Mengusung misi sosial dan keberlanjutan lingkungan melalui praktik agroforestry serta pemberdayaan petani kecil dan perempuan, Pipiltin Cocoa membuktikan bahwa kualitas dan identitas brand yang kuat mampu membawa produk lokal bersaing di kancah global,” kata Tissa.

Bagi ibu yang sedang merintis bisnis makanan, kue, atau usaha kuliner dari rumah, temuan ini memberikan perspektif baru: naik kelas tidak selalu berarti menjadi lebih besar, tetapi menjadi lebih tertata.

Mulai dari pencatatan keuangan, SOP, pengelolaan SDM, pemilihan aset, hingga identitas usaha, semuanya dapat menjadi bagian dari proses tersebut.

Sebagai bagian dari ekosistem program, tersedia pula kelas edukasi gratis, dukungan perangkat usaha dan exclusive deal, kesempatan mendapatkan dukungan video promosi dari food vlogger, serta peluang menjadi tenant dalam berbagai kegiatan berskala nasional.

Dengan fondasi yang lebih tertata dan keputusan yang berbasis data, perjalanan mengembangkan usaha pun diharapkan dapat berlangsung lebih terukur dan berkelanjutan.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
5 Mitos Bisnis Kuliner yang Perlu Diluruskan, Begini Cara UMKM “Naik Kelas”
img
UMKM Kuliner Hadapi Tantangan Efisiensi, Oven Berkapasitas Besar Bisa Jadi Solusi
img
Gerak Cermat Ajak Lebih dari 10.000 Anak PAUD Rayakan Kemerdekaan dengan Bermain dan Bergerak
img
Menjawab Kecemasan Orang Tua, Baterai Litium Koin Dilengkapi Bitter Coating dan Kemasan Child Resistant Hadir untuk Keamanan Anak