ads

Anemia dan Stunting: Duet Maut yang Bikin Working Memory Anak Drop. Yuk, Re-check Menu Bekalnya!

Novita Sari - Kamis, 16 April 2026
Ki-ka: Putri Titian, Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K), Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM(K), dan Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH. Foto: Ist
Ki-ka: Putri Titian, Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K), Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM(K), dan Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH. Foto: Ist
A A A

Pernah nggak sih, Moms, merasa gemas karena si Kecil sepertinya susah banget konsentrasi? Baru dijelaskan sekali, eh, sudah lupa lagi. Ternyata, menurut studi terbaru dari Indonesia Health Development Center (IHDC), hal ini ada penjelasan ilmiahnya, lho!

Apa Itu Working Memory?

Singkatnya, working memory adalah "RAM"-nya otak anak. Ini adalah kemampuan otak untuk menyimpan dan mengolah informasi dalam waktu singkat. Kemampuan inilah yang dipakai si Kecil untuk memahami instruksi guru, mengerjakan soal matematika, sampai fokus saat membaca.

Nah, hasil studi IHDC pada siswa SD di Jakarta menunjukkan fakta yang cukup mengejutkan:

  • 1 dari 5 anak (sekitar 20%) mengalami anemia (kurang darah).
  • 22,1% anak punya masalah pada working memory-nya.
  • Anak yang anemia berisiko 2 kali lipat kesulitan memproses informasi.
  • Anak yang stunting bahkan berisiko 3 kali lipat lebih tinggi mengalami defisit daya ingat ini.

IHDC, sebagai organisasi independen di bidang kesehatan komunitas, didukung Danone Indonesia meluncurkan publikasi hasil studi berbasis data lokal yang membahas keterkaitan antara stunting, anemia defisiensi besi, serta asupan gizi dengan fungsi working memory anak usia sekolah. Studi ini dilakukan melalui skrining pada anak sekolah dasar di Jakarta yang melibatkan sekitar 335 siswa, untuk menganalisis hubungan antara status gizi dan kemampuan kognitif anak.

Di acara peluncuran publikasi hasil studi IHDC pada Rabu, 15 April 2026 di Jakarta, Ketua Dewan Pembina IHDC, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM(K), mengingatkan kita bahwa gizi adalah fondasi. “Kalau asupan protein dan zat besinya rendah, kadar hemoglobin (HB) anak juga turun. Saat HB rendah, oksigen ke otak berkurang, dan akhirnya working memory si Kecil jadi "lemot",” jelas Prof. Nila Moeloek.

Sayangnya, banyak anak usia sekolah yang asupan proteinnya baru mencapai 46% dari kebutuhan harian. Padahal, protein dan zat besi adalah "bahan bakar" utama otak!

Hal ini dipertegas oleh Executive Director of IHDC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, yang menjelaskan bahwa hasil studi ini menunjukkan adanya keterkaitan yang konsisten antara status gizi anak dengan fungsi kognitif, khususnya working memory.

“Anak dengan anemia memiliki risiko hampir dua kali lebih tinggi mengalami kesulitan dalam memproses dan menyimpan informasi. Hal yang sama juga terlihat pada anak dengan stunting, yang memiliki risiko hingga tiga kali lebih tinggi mengalami defisit working memory. Selain itu, kami juga menemukan bahwa asupan gizi anak, terutama protein dan zat besi, masih belum optimal dan berkaitan erat dengan kondisi anemia. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dalam pemenuhan gizi anak usia sekolah, karena tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga pada kemampuan belajar mereka,” jelas dr. Ray.

Tips Anti-Anemia dan Anti-Stunting

Moms nggak perlu panik, kita bisa mulai perbaiki dari meja makan. Dalam kesempatan yang sama, President of Indonesian Nutrition Association, Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K), menyarankan beberapa hal praktis:

  • Variasi adalah Kunci: Jangan cuma kasih menu itu-itu saja. Usahakan ada 20 variasi makanan dalam seminggu.
  • Double Protein dan Zat Besi: Pastikan ada sumber hewani (telur, ikan, daging, susu) dan nabati (tahu, tempe, kacang-kacangan) setiap hari.
  • Duo Maut "Zat Besi + Vitamin C": Agar zat besi dari makanan (seperti bayam atau daging) terserap maksimal, dampingi dengan asupan Vitamin C, misalnya jeruk atau semangka.
  • Cek Gejala "Pucat dan Lesu": Kalau si Kecil terlihat mudah lelah, pucat, atau sering pusing (kurang darah), segera cek kadar HB-nya ya, Moms.

Mulai dari Sekarang!

Peran keluarga dan sekolah juga penting dalam membentuk kebiasaan makan sehat anak sejak dini. Namun dalam praktiknya, masih banyak orangtua yang belum menyadari bahwa tantangan seperti anak yang sulit fokus atau mudah lupa saat belajar, dapat berkaitan dengan asupan gizi sehari-hari.

Di acara ini, seorang Momfluencer, Ibu dari dua anak, Putri Titian turut berbagi pengalamannya sebagai orangtua dengan anak usia sekolah.

“Sebagai ibu, tentu ada kekhawatiran saat melihat anak sulit fokus atau mudah lupa saat belajar, bahkan dalam hal-hal sederhana sehari-hari. Dari riset ini, saya jadi lebih sadar bahwa hal-hal tersebut bisa berkaitan dengan asupan gizi anak sehari-hari, yang mungkin selama ini belum terlalu diperhatikan. Saya rasa masih banyak orangtua yang mungkin belum menyadari hal ini. Ini juga jadi pengingat buat saya dan orangtua lainnya untuk lebih memerhatikan kebutuhan gizi anak, supaya mereka bisa tumbuh optimal dan mencapai potensi terbaiknya,” ujar Tian.

Dari hasil studi IHDC ini semakin memperkuat pentingnya peran berbagai pihak dalam memastikan pemenuhan gizi anak sejak dini. Sebagai riset berbasis data lokal, temuan ini diharapkan dapat menjadi landasan dalam mendorong upaya penanganan masalah gizi anak yang lebih terarah dan berkelanjutan, mulai dari pendekatan preventif, edukasi gizi, hingga penguatan peran keluarga dan lingkungan sekolah dalam membentuk kebiasaan makan sehat.

Sejalan dengan komitmen dalam meningkatkan kualitas gizi anak, Danone Indonesia turut mendukung IHDC dalam menghadirkan riset berbasis sains yang relevan dan aplikatif. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat sinergi lintas sektor dalam meningkatkan kesadaran serta praktik pemenuhan gizi anak, sebagai langkah penting dalam mempersiapkan generasi masa depan Indonesia menuju Generasi Emas 2045.

Seperti yang diceritakan oleh Tian, kadang kita nggak sadar kalau masalah anak "sulit fokus" itu bersumber dari apa yang mereka makan. Yuk, mulai lebih teliti lagi menyusun menu bekal dan sarapan. Bukan cuma demi nilai rapor yang bagus, tapi demi masa depan mereka menuju Indonesia Emas 2045. Karena anak yang sehat, pasti lebih hebat!

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Musim Pancaroba Datang, ISPA Mengintai! Yuk, Jadi Garda Terdepan Kesehatan Keluarga
img
Anemia dan Stunting: Duet Maut yang Bikin Working Memory Anak Drop. Yuk, Re-check Menu Bekalnya!
img
IQ Anak Turun karena Kurang Zat Besi? Bukan Nakut-nakutin, Tapi Moms Wajib Tahu Ini!
img
Mengenal Floaters: Bayangan Melayang di Mata, Haruskah Kita Khawatir?