Bangga Terus Melangkah: Perayaan 51 Tahun dan Cerita Mereka yang Memilih untuk Tak Menyerah
Moms, pernah alami situasi di mana rasanya pengin menyerah? Pernah merasa bahwa Moms sudah melakukan banyak hal tetapi hasilnya seperti belum ke mana-mana alias jalan di tempat?
Sebut saja, usaha yang terpuruk atau belum berkembang. Pekerjaan dan karir terasa begitu-begitu saja. Atau, pendidikan anak belum menunjukkan kemajuan seperti yang diharapkan. Akhirnya sebagai orang tua, Moms diam-diam bertanya dalam hati, “Sudah cukupkah yang saya lakukan?”
Di titik seperti itu, apa sikap yang kita ambil? Diam menyerah atau meneruskan langkah? Ya, kadang, kita hanya perlu diingatkan bahwa berhenti sebentar bukan berarti menyerah, melainkan beristirahat untuk mengumpulkan energi lalu bangkit dan melanjutkan langkah.
Pesan itulah yang terasa dalam Polytron Fest 51st Anniversary yang digelar perusahaan elektronik asal Kudus ini untuk merayakan 51 tahun perjalanannya hadir dan tumbuh bersama keluarga Indonesia. Perayaan istimewa ini berlangsung di Parkir Selatan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, selama tanggal 19–20 September 2026.
Festival ini memadukan berbagai kegiatan menarik seperti olahraga (Fun Run & Fun Walk, Compact Hybrid Race, 3 on 3 Basketball Competition, Zumba, Dance Competition), hiburan musik, pameran produk, hingga inovasi teknologi.
Mengusung tema besar apresiasi dan resiliensi, festival ini menjadi momen peluncuran kampanye "Bangga Terus Melangkah", kolaborasi eksklusif dengan grup musik MALIQ & D'Essentials untuk merilis music video, serta perkenalan inovasi produk pendingin udara (AC) terbaru.
Di hari pertama, Sabtu, bertepatan dengan seremoni pembukaan festival, suasana sudah cukup ramai. Ketika saya menjejakkan kaki pada pukul 14.30 WIB, banyak terlihat orang-orang yang datang dengan tujuan beragam. Ada yang mengambil race pack untuk kegiatan olahraga Fun Run dan Fun Walk keesokan harinya, ada yang datang bersama keluarga dan teman, ada pula yang menikmati suasana sambil membawa anjing kesayangannya.
Di beberapa sudut, pengunjung terlihat berkeliling dari satu booth ke booth lainnya, mencoba permainan dan hiburan seperti karaoke box, melihat-lihat produk, atau sekadar mencari makanan dan menikmati suasana akhir pekan. Kehadiran para pet parents juga membuat area festival terasa lebih santai dan akrab. Semakin malam, acara semakin meriah. Penampilan musik dari Pamungkas dan Feel Koplo sukses menghibur para pengunjung yang semakin memadati akhir pekan.
Pada hari kedua, Minggu, 20 September 2026, antusiasme pengunjung semakin tinggi. Matahari belum terbit, tapi ribuan orang sudah memadati area festival sejak pukul 04.30 WIB. Maklum saja, pagi sejak pukul 05.30 WIB tepat, ajang lari Fun Run 5K resmi dimulai, dilanjutkan dengan Fun Walk 2,5K pukul 05.45 WIB lalu dilanjutkan dengan Fun Walk with Pet 1,5K. Sosok-sosok berbaju jersey merah menghiasi area GBK, Sudirman dan sekitarnya. Ada yang berlari, jalan santai bersama keluarga, maupun jalan bersama anabul kesayangan.
Lalu sekitar pukul 08.00 pagi, para pengunjung dan peserta race dihibur dengan sangat meriah oleh grup musik MALIQ & D'Essentials yang membawakan lebih dari 5 lagu. Semua peserta tampak sangat menikmati dan terhibur. Acara masih terus berlanjut, berbagai aktivitas olahraga dan hiburan lainnya akan terus menemani peserta hingga malam hari.
Dari semua suasana tersebut, perayaan 51 tahun ini terasa bukan hanya milik sebuah perusahaan. Ada keluarga yang datang bersama anak, ada peserta yang bersiap olahraga, ada pemilik anjing yang mengajak hewan kesayangannya berjalan-jalan, sampai pengunjung yang sekadar ingin bermain dan menikmati akhir pekan.
Mengusung semangat “Bangga Terus Melangkah”, rangkaian acara ini kemudian membawa pesan yang lebih luas: tentang perjalanan, perubahan, dan orang-orang yang pernah berada di titik sulit tetapi memilih untuk melanjutkan langkah.
Pesan tersebut kembali digaungkan di sela-sela acara pembukaan Polytron Fest 2026, Sabtu (19/9). Saat itu, panggung utama festival menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif dari dunia yang berbeda. Ada kreator kuliner, pendidik, aktivis lingkungan, pegiat sosial, hingga penggerak komunitas parenting. Cerita mereka berbeda-beda, namun memiliki benang merah yang sama: perjalanan punya masa ketika langkah terasa berat, namun pilihan untuk terus melangkah membawa mereka ke titik hari ini.
Ketika Langkah Kecil Mengubah Arah
Di balik sosoknya yang kini dikenal sebagai Food Vlogger dan Influencer Kuliner, Nex Carlos pernah berada di titik terendah. Ayahnya telah tiada. Tabungan habis. Usaha yang dijalankan tidak berjalan seperti yang diharapkan. “Saya ngerasa uring-uringan, sempat down,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, Nex mengambil sebuah keputusan. “Sebenarnya saat itu ada satu langkah kecil yang saya ambil, yaitu keluar dan keliling Indonesia. Saya mau ketemu orang banyak, mau mengambil energi-energi positif dari apa yang saya udah lihat, saya jalanin. Dan saya nggak nyangka dari satu langkah itu, keputusan itu bisa membawa saya sampai sekarang,” cerita Nex.
Perjalanan dari kota asalnya Pontianak dan akhirnya singgah ke kota-kota lain membawa Nex Carlos mengenal lebih banyak orang dan kuliner dari berbagai daerah. Dari sana, ia kemudian dikenal sebagai kreator kuliner sekaligus ikut membantu memperkenalkan pelaku UMKM kuliner kepada khalayak yang lebih luas.
Tentu, membantu orang lain juga bukan perkara mudah. Tidak semua pemilik usaha siap tempatnya menjadi ramai setelah ia kunjungi dan upload di media sosial. “Setiap orang cara menerimanya berbeda-beda. Jadi tuh nggak mudah juga,” katanya tersenyum.
Lalu, apa yang membuatnya tetap berjalan ketika keinginan untuk menyerah datang? Jawaban Nex sederhana. “Ketika semua orang pasti pernah ada di titik kita pengen nyerah... kita tuh harus kembali lagi mikir alasan kita mulai dulu tuh apa,” imbuhnya. Sebab, menurutnya, bagian paling berat sering kali bukan hasil akhirnya, melainkan proses untuk sampai ke sana.
Ketika Anak Berani Mencoba
Cerita untuk terus melangkah kemudian datang dari Galih Sulistyaningra, CEO dan Co-Founder Smartick Indonesia. Galih lahir dan besar di keluarga pendidik. Ayah dan ibunya adalah guru. Meski begitu, ketika memilih jalan hidup, ia sempat berpikir, “Masa ayah ibu udah guru, aku guru lagi?”
Tapi ujung-ujungnya, ia justru mengambil S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Ketika akhirnya ia berkecimpung langsung sebagai pengajar, Galih menemukan bahwa ia memiliki passion yang kuat di dunia pendidikan. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister melalui beasiswa LPDP dan sempat berpikir untuk bekerja di lingkungan pemerintahan agar dapat ikut mendorong perubahan melalui kebijakan.
Namun, Galih kemudian menyadari bahwa perubahan pendidikan juga membutuhkan pemahaman dari ruang kelas. Ia pun kembali mengajar di sekolah dasar negeri. Dari sana, ia melihat persoalan pendidikan secara lebih dekat. “Saya ngajar di sekolah Jakarta Pusat yang sedekat itu dari sini, tapi ternyata ketimpangan kualitas pendidikan itu bahkan di kota pun sangat nyata,” katanya.
Pengalaman tersebut kemudian ia bagikan melalui media sosial. Dari perjalanan itu pula, Galih sampai pada satu kesimpulan penting. “Kalau mau benerin pendidikan itu harus sama-sama dan mulainya mesti dari rumah justru, bukan dari sekolah.”
Pemikiran itulah yang kemudian ikut mendorong lahirnya Smartick Indonesia, platform pembelajaran untuk membantu anak usia 4–14 tahun dalam literasi, numerasi, dan matematika.
Galih menceritakan pengalaman seorang anak kelas 4 yang kemampuan matematikanya saat itu masih berada di level kelas 2. Setelah menggunakan program secara rutin selama sekitar satu tahun, anak tersebut sudah mampu mengerjakan soal di level kelas 7.
Namun, bagi Galih, perubahan yang paling berarti bukan semata-mata soal kemampuan akademik. “Yang tadinya takut matematika, jadi suka matematika. Yang tadinya mungkin nggak mau nyoba, jadi berani nyoba,” katanya.
Ya, terkadang, kemajuan seorang anak bukan tentang seberapa cepat ia sampai di depan. Bisa jadi, kemajuan itu dimulai ketika ia akhirnya berani melangkah maju dan terus mencoba lagi.
Beristirahat Sebentar, Besok Jalan Lagi
Pesan tentang terus melangkah juga datang dari Mohamad Bijaksana Junerosano, Pendiri dan CEO Waste4Change. Ketertarikan pria yang akrab disapa Sano pada persoalan sampah bermula ketika ia melihat pemberitaan tentang masalah sampah melalui televisi saat sekolah. Lalu, jurusan yang ia ambil juga memiliki mata kuliah mengenai persampahan. Informasi tentang pengelolaan sampah ini seakan menjadi jawaban atas keraguan masa depan yang ia cari-cari sejak SMA. “Saya melihat bahwa persoalan sampah adalah sebuah life calling bagi saya, panggilan jiwa. Dan ternyata bisa melakukan perubahan karena saya terus konsisten untuk melangkah. Hari ini kita mengelola sampah dari 17 kota dan ada 700 karyawan,” katanya.
Meski telah melakukan perjalanan panjang mengelola sampah bertahun-tahun, ternyata tidak selalu berarti keyakinan akan tetap panjang. Sano jujur mengakui bahwa ia pernah berada dalam masa ingin menyerah. “Di bulan Desember tahun 2023, setelah berjuang selama 17 tahun, aku sempat menghitung bahwa Waste4Change hanya mengelola 0,1% sampah se-Indonesia,” ceritanya.
Ia bahkan sempat kehilangan motivasi selama satu bulan. “Orang masih seenaknya membuang sampah sembarangan, merusak lingkungan, itu semua membuat saya down. Sempat bertanya-tanya, ‘Is it meaningful or not?'. Ini benar nggak sih yang aku kerjain? Ada manfaatnya nggak sih?” ujar Sano.
Sampai kemudian ia teringat sebuah pesan tentang menanam pohon yang berbunyi “Walaupun kamu tahu misalnya besok kiamat, dan ada benih pohon di tanganmu, tanamlah.” Bagi Sano, pesan itu menjadi pengingat untuk tetap melakukan sesuatu dengan apa pun yang dimiliki. “Apa yang aku punya, apa yang aku mau, apa yang aku cita-citakan, jalanin aja,” simpulnya.
Sejak itu, energinya berubah. Ia menganggap gagal adalah hal yang harus dijalani kalau mau sukses. “Kesal hari ini, ya tinggal istirahat. Besok jalan lagi!”
Untuk banyak orang, kalimat ini terasa seperti pengingat sederhana: istirahat bukan berarti menyerah. Ada hari ketika kita tidak sanggup berlari, tidak masalah. Jalan pelan pun, itu tetap sebuah langkah!
Ingatlah Misimu Apa
Hal serupa disampaikan Ahmad Mujahid, Director Kitabisa. Ketika ditanya apakah pernah merasa ingin menyerah, ia menjawab, "Kalau ditanya pertanyaan mau nyerah atau enggak, pasti saya rasa semua orang pernah.”
Kitabisa sendiri telah berjalan sekitar 12–13 tahun. Dalam perjalanan tersebut, rasa lelah tentu menjadi bagian dari proses. Ketika itu datang, Ahmad memilih kembali mengingat misi yang ingin dicapai. “Kita harus percaya pada misi kita. Misi tersebut adalah menghadirkan solusi berbasis teknologi agar orang lebih mudah berbagi, berdonasi, dan terhubung dengan sesama,” katanya.
Ketika masa lelah atau perasaan down itu datang, ia memilih untuk terus mengingat. “Mimpi kita apa, langkah kecil kita apa, tujuannya apa, kembali lah ke misi itu,” pesannya.
Ya, terkadang, ketika kehilangan semangat, kita tidak membutuhkan tujuan baru. Kita hanya perlu mengingat alasan mengapa dulu memilih memulai.
Menjadi Orang Tua, Terus Melangkah dan Belajar
Dari sisi orang tua, kisah Nucha Bachri, CEO dan Co-Founder Parentalk, mungkin terasa paling dekat. Perjalanannya berawal dari pengalaman Nucha sendiri ketika mulai menjalani dunia orang tua, dalam hal ini ibu. Saat itu, sumber-sumber untuk belajar tentang parenting atau pengasuhan yang tersedia sering kali berasal dari pengalaman orang tua sendiri atau referensi dari luar negeri.
Ia kemudian mulai berbagi pengalaman sederhana sebagai orang tua di media sosial. Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah bagaimana setelah seorang bayi lahir, perhatian orang-orang sering kali sepenuhnya tertuju kepada bayi. Bayi mendapatkan baju, mainan, dan berbagai kebutuhan. Sementara sang ibu, yang juga baru melewati perubahan besar dalam hidupnya, terkadang justru terlupakan.
Padahal, perhatian kecil pun bisa berarti. "Body lotion, baju baru, atau sekadar ditanya bagaimana kabarnya, mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi seorang ibu yang sedang beradaptasi dengan kehidupan baru, hal-hal kecil tersebut bisa terasa sangat berarti," katanya.
Dari kejadian-kejadian yang sangat relate dan percakapan-percakapan yang ia lontarkan di media sosial seperti itulah membuat platform digital dan komunitas soal pengasuhan yang ia dirikan, berkembang! Dan bagi Nucha, menjadi orang tua memang tidak pernah berhenti pada satu titik belajar. “Menjadi orang tua tuh kayak setiap hari belajar, setiap saat belajar. Tidak ada satu formula yang cocok untuk semua keluarga. Jadi nggak ada one fits for all,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa setiap anak berbeda. Setiap orang tua berbeda. Setiap keluarga juga memiliki latar dan tantangannya sendiri. “Jadi, apa yang kami bagikan, harapannya itu bisa memberikan manfaat bagi orang tua lain. Nggak ada judgement, Parentalk ingin menjadi wadah yang safe untuk berbagi, menjadi tempat bertanya, menjadi solusi,” katanya.
Mungkin ini pula yang perlu sering diingat oleh orang tua: kita tidak harus selalu punya semua jawaban. Menjadi orang tua adalah perjalanan untuk terus belajar. Jadi, melangkahlah terus demi memberikan yang terbaik untuk diri sendiri maupun keluarga.
51 Tahun Terus Melangkah
Bagi perusahaan yang telah melewati perjalanan lebih dari lima dekade, kemampuan untuk terus berinovasi juga menjadi bagian penting. Diantika, General Manager Corporate Communications, Polytron, mengatakan bahwa kompetitor justru dibutuhkan dalam sebuah perjalanan bisnis. “Kita butuh kompetitor untuk menjadi benchmark,” katanya.
Menurutnya, keberadaan kompetitor membantu perusahaan melihat kebutuhan konsumen dan memahami produk seperti apa yang dibutuhkan. Melihat dan membandingkan bisnis pesaing perlu sebagai titik ukur dalam menilai kinerja, produk, atau strategi.
Perjalanan perusahaan dan merek elektronik asli buatan Indonesia ini pun tidak lepas dari perubahan kebutuhan masyarakat. Dari perangkat elektronik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, pengembangan produknya kini juga mengikuti gaya hidup generasi yang semakin akrab dengan teknologi.
Diantika menyebut semangat tersebut dirangkum dalam strategi 3i yakni Invention, Innovation, dan Improvement. Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam momentum perayaan 51 tahun ini adalah AC Polytron Neuva Pro dengan fitur Voice Sense. Perangkat pendingin udara ini menawarkan pengoperasian melalui perintah suara, termasuk untuk menyalakan perangkat dan mengatur suhu. Fitur Voice Sense dapat digunakan tanpa koneksi internet.
Kehadiran inovasi tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi terus bergerak mengikuti kebutuhan sehari-hari. Perangkat rumah tangga tidak lagi hanya dituntut berfungsi, tetapi juga semakin diarahkan agar mudah digunakan dan relevan dengan aktivitas penggunanya.
Baca Juga: Lupa Taruh Remote AC? Kini Bisa Nyalakan AC dengan Perintah Suara Tanpa Internet
Di tengah perayaan 51 tahun, inovasi menjadi salah satu cara perusahaan teknologi nasional ini menunjukkan bahwa perjalanan panjang bukan alasan untuk berhenti berubah. Polytron kini memiliki lini produk lengkap untuk mendukung siklus keseharian masyarakat Indonesia. Mulai dari mematikan AC saat bangun tidur, membuat sarapan dengan oven listrik, berangkat ke kantor menggunakan motor atau mobil listrik, hingga bekerja dengan ekosistem laptop dan monitor. Saat kembali ke rumah, perangkat juga tetap hadir melalui dispenser air, televisi, hingga perangkat speaker. Hal ini menjadi bukti nyata komitmen perusahaan untuk terus menemani setiap momen kehidupan konsumen.
Langkah Baik Bisa Dimulai dari Hal Sederhana
Semangat Bangga Terus Melangkah juga diterjemahkan melalui kampanye “5.100 Langkah Baik” yang digelar bersama Kitabisa. Konsepnya sederhana. Masyarakat diajak membagikan alasan mengenai “langkah baik” yang mereka lakukan melalui media sosial. Setiap partisipasi yang memenuhi mekanisme kampanye kemudian dikonversikan menjadi donasi senilai Rp51.000.
Donasi tersebut ditujukan untuk mendukung pendidikan melalui beasiswa serta membantu pelaku UMKM dalam bentuk dukungan peralatan usaha. Pesannya terasa sejalan dengan cerita para narasumber hari itu: sesuatu yang besar tidak selalu dimulai dengan sesuatu yang besar pula.
Dari kolaborasi dengan MALIQ & D'Essentials maupun seluruh rangkaian kegiatan olahraga dan hiburan, festival perayaan 51 tahun ini membawa pesan optimisme bahwa langkah kecil yang diambil hari ini adalah alasan untuk dibanggakan.
“Perayaan ini adalah milik kita semua. Melalui festival, kampanye, dan program sosial, kami ingin memastikan bahwa kisah kebersamaan ini benar-benar hidup dalam bentuk nyata. Semoga semangat ini terus tumbuh, membawa optimisme, dan membuka jalan bagi masa depan yang lebih cerah," tutup Diantika.