ads

Belajar dari Dave Hendrik dan Iwet Ramadhan: Mengapa Merasa Sehat Saja Tidak Cukup untuk Menghalau Risiko Stroke dan Jantung

Novita Sari - Kamis, 21 Mei 2026
Dave Hendrik (tengah) berbagi kisah saat dirinya terserang penyakit jantung dan Iwet Ramadhan (paling kanan) berbagi kisah saat terkena stroke. Foto: Novi
Dave Hendrik (tengah) berbagi kisah saat dirinya terserang penyakit jantung dan Iwet Ramadhan (paling kanan) berbagi kisah saat terkena stroke. Foto: Novi
A A A

Bagi sebagian besar masyarakat perkotaan dengan aktivitas padat, kesehatan sering kali diukur hanya dari apa yang dirasakan. Selama badan tidak terasa lemas dan masih bisa beraktivitas normal, kita merasa aman-aman saja. 

Namun, kisah nyata dari dua figur publik Indonesia, Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik, membuka mata kita akan satu realitas pahit: penyakit serius seperti stroke dan serangan jantung, bisa datang tanpa permisi, bahkan saat seseorang merasa berada dalam kondisi paling bugar sekalipun.

​Ketika Pelari Maraton dan Si Jaga Pola Hidup "Tumbang"

​Siapa yang menyangka bahwa Iwet Ramadhan, seorang penyiar radio, wirausahawan, dan finisher maraton dunia di Berlin dan New York, bisa terserang stroke? Sebagai pelari, Iwet selalu merasa tubuhnya tangguh dan disiplin dalam mengelola fisik.

​Namun, pada Februari 2023, dunia dikejutkan saat Iwet mengalami stroke akibat subarachnoid hemorrhage atau pecahnya pembuluh darah di lapisan otak yang membuat darah menggenangi otak.

Gejalanya muncul perlahan namun pasti, yaitu sakit kepala konstan sejak Januari yang diredam dengan parasetamol hingga lima kali sehari, pembuluh darah mata yang kerap pecah, hingga puncaknya saat wajahnya mulai miring dan kaki kirinya tiba-tiba lumpuh tak bisa digerakkan.

​"Kalau saya yang merasa sehat dan rajin maraton saja bisa terkena stroke, berarti siapa pun harus lebih waspada. Jangan tunggu gejala datang," ungkap Iwet saat peluncuran Tensimeter OMRON SF Series, solusi pemantauan tekanan darah praktis, Rabu, 20 Mei 2026 di Jakarta Selatan.

Akar masalahnya? Stres perkotaan yang tinggi, kebiasaan begadang, konsumsi kopi berlebih, serta kondisi hipertensi (tekanan darah tinggi) yang tidak pernah ia sadari karena tidak pernah melakukan pengecekan rutin.

​Ironisnya, cerita tidak berhenti di situ. Dave Hendrik, aktor dan pembawa acara ternama yang merupakan sahabat Iwet, sempat menjenguk Iwet di ICU. 

Selepas keluar dari rumah sakit dan mengingatkan teman-temannya untuk tidak stres, justru Dave yang mendadak mengalami serangan jantung hanya tiga hari kemudian.

​Berbeda dengan Iwet, Dave (48 tahun) sebenarnya sudah berkomitmen menjalani gaya hidup sehat sejak usia 24 tahun karena menyadari adanya faktor genetik dari orangtuanya. 

Sore itu, sepulang syuting, dada Dave tiba-tiba terasa sesak luar biasa, seolah ditimpa lempengan besi yang panas dan pekat. Setelah dilarikan ke rumah sakit, dokter menemukan 7 titik penyumbatan pada pembuluh darah jantungnya. 

Tubuh Dave ternyata memiliki toleransi yang sangat rendah terhadap kolesterol, sebuah kondisi bawaan (default metric) yang diperparah oleh tekanan darah yang tidak terkontrol.

Peluncuran rangkaian teknologi terbaru lewat Tensimeter Seri EZ dan Seri IQ. Foto: Ist
Peluncuran rangkaian teknologi terbaru lewat Tensimeter Seri EZ dan Seri IQ. Foto: Ist

Bahaya Silent Killer di Usia Produktif

​Kisah Iwet dan Dave adalah bukti nyata mengapa hipertensi dijuluki sebagai silent killer (pembunuh senyap). Penyakit ini sering kali hadir tanpa gejala klinis yang khas, namun secara diam-diam merusak pembuluh darah hingga memicu komplikasi fatal seperti stroke, serangan jantung, gagal ginjal, hingga kepikunan (dementia).

​Berdasarkan data WHO tahun 2021, angka kematian akibat stroke di Indonesia mencapai 140,8 per 100.000 orang, disusul penyakit jantung iskemik sebesar 90,4 per 100.000 orang. 

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: proporsi pasien usia 25–34 tahun yang harus menjalani cuci darah akibat Penyakit Ginjal Kronis (PGK)—yang dipicu oleh hipertensi—mencapai 31,4%. Artinya, ancaman ini bukan lagi milik lansia, melainkan sudah mengintai usia produktif.

Solusi Praktis: Satu Sentuhan untuk Pantau Tekanan Darah di Rumah

​Menjawab tantangan kesehatan masyarakat ini, bertepatan dengan momentum Hari Hipertensi Sedunia (17 Mei), OMRON Healthcare Indonesia meluncurkan rangkaian teknologi terbaru lewat Tensimeter Seri EZ & Seri IQ. Langkah ini sejalan dengan visi global Going for Zero untuk meminimalkan penyakit kardiovaskular di Indonesia melalui deteksi dini yang akurat secara mandiri dari rumah.

Dr. Eka Harmeiwaty, Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH). Foto: Novi
Dr. Eka Harmeiwaty, Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH). Foto: Novi

Mengapa Deteksi AFib Penting?

Menurut Dr. Eka Harmeiwaty, Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH), salah satu komplikasi hipertensi yang sering ditemukan adalah Fibrilasi Atrium (AFib), yaitu gangguan irama jantung yang berisiko meningkatkan ancaman stroke hingga 5 kali lipat. Karena sifat AFib yang hilang-timbul, keberadaan fitur pendeteksi dini pada Seri IQ menjadi sangat krusial bagi pasien hipertensi di rumah.

​​Pasca-pemulihan, baik Iwet maupun Dave sepakat bahwa mendengarkan sinyal tubuh dan melakukan tindakan preventif adalah bentuk investasi terbaik yang tidak akan pernah sia-sia. Iwet kini menerapkan manajemen stres yang lebih baik, belajar lebih ikhlas, dan tidak lagi memendam emosi. 

Sementara Dave, memastikan tiga hal wajib terpenuhi: makanan bergizi, olahraga, dan tidur cukup maksimal jam 10 malam serta rutin memantau tekanan darahnya setiap pagi demi menjaga agar tensinya tidak mendadak melonjak kembali.

​Cara Mengukur Tekanan Darah yang Benar di Rumah (Tips Dr. Eka Harmeiwaty):

  • ​Duduk dengan posisi bersandar tegak (jika tidak bersandar, tensi bisa bias naik 10–15 mmHg).
  • ​Lakukan pengukuran sebelum makan, sebelum minum obat, atau minimal satu jam setelah mandi dan beraktivitas dalam kondisi tenang.
  • ​Lakukan pengulangan 2 hingga 3 kali, lalu ambil rata-rata dari dua hasil pengukuran terakhir untuk akurasi terbaik.
  • ​Jangan tunggu tubuh memberikan sinyal berupa rasa sakit yang terlambat untuk ditangani. Memulai kebiasaan kecil dengan memeriksa tekanan darah secara rutin di rumah adalah langkah nyata untuk melindungi hidup kamu dan keluarga tercinta.
Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Belajar dari Dave Hendrik dan Iwet Ramadhan: Mengapa Merasa Sehat Saja Tidak Cukup untuk Menghalau Risiko Stroke dan Jantung
img
6 dari 10 Anak Muda Urban Indonesia Lebih Memilih Swadiagnostik Saat Sakit
img
Kunyit dan Temulawak, Dari Dapur Tradisional Menuju Solusi Kesehatan Dunia
img
Kembangkan Sistem Transport Neonatal Kritis untuk Keselamatan Bayi Baru Lahir