Bikin Malas Mikir, Tips Biar Nggak Kena Jebakan Shortcut AI: Kerja Lebih Cepat, Mikir Tetap Hebat
Topik tentang AI (Artificial Intelligence) ini emang lagi hot banget ya di kalangan kita yang harus juggling antara kerjaan kantor dan urusan rumah. Memang AI itu penolong banget, tapi jangan sampai kita jadi "malas mikir".
Memasuki awal tahun 2026 ini, pasti lagi semangat-semangatnya ya nyusun to-do list dan target baru.
Sekarang, siapa sih yang nggak kenal AI? Teknologi ini beneran jadi penyelamat kita buat bikin laporan atau analisis data dengan cepat. Bahkan menurut survei, kita bisa hemat lebih dari 9 jam kerja seminggu berkat AI. Lumayan banget kan waktunya bisa buat me-time atau nemenin si Kecil main?
Tapi nih Moms, ada satu hal yang perlu kita ingat. Karena AI gampang banget diakses, jangan sampai kita terjebak budaya "jalan pintas". Asal beres, asal cepat, tapi nggak dipikirin lagi kualitasnya. Akhirnya, kemampuan analisis kita malah jadi tumpul.
Untuk itu, Allianz Indonesia menghadirkan ruang diskusi ngobrol seru NgobrAZ bertajuk “AI Yes, Shortcut No: Cara Cerdas Pakai AI di Dunia Kerja” dengan menghadirkan Abi Mangku Nagari sebagai AI Implementation Consultant.
Diskusi ini mengajak karyawan memahami peran AI sebagai alat bantu yang memperkuat struktur berpikir, kualitas analisis, dan akuntabilitas kerja, bukan diposisikan sebagai pengganti cara berpikir manusia.
“Diskusi ini menjadi pengingat bahwa produktivitas tidak diukur dari seberapa cepat pekerjaan selesai, melainkan dari seberapa tepat keputusan diambil dan seberapa kuat fondasi berpikir di baliknya,” ujar Wahyuni Murtiani, Head of Corporate Communications Allianz Indonesia.
Senada dengan hal tersebut, Abi menilai bahwa tantangan utama dalam adopsi AI di dunia kerja saat ini bukan terletak pada teknologinya.
“Tantangan terbesar dari adopsi AI di dunia kerja bukan pada kecanggihan AI, tetapi pada mindset penggunanya. Ketika AI diposisikan sebagai jalan pintas, kualitas berpikir dan rasa tanggung jawab justru bisa menurun,” jelas Abi Mangku Nagari.
Dalam praktiknya, AI akan memberikan dampak paling optimal ketika diposisikan sebagai alat bantu berpikir, bukan sebagai auto-pilot yang mengambil alih kendali.
Untuk itu, terdapat lima prinsip sederhana namun krusial yang dapat menjadi pegangan agar pemanfaatan AI tetap produktif tanpa terjebak pada shortcut thinking.
1. Pahami Masalahnya Dulu (Problem Framing):
Jangan langsung ketik perintah (prompt). Pikirin dulu apa sih masalah utamanya? Biar hasil dari AI nggak dangkal dan lebih ngena.
2. AI Sebagai Struktur, Bukan Hasil Akhir:
Pakai AI buat bantu rapikan ide atau bikin kerangka tulisan. Tapi untuk kesimpulan? Tetap harus Moms yang tentukan sesuai kondisi lapangan.
3. Kasih Tugas "Rempong" ke AI:
Tugas yang ngebosenin seperti merangkum dokumen panjang atau membuat draf awal, berikan saja ke AI. Agar energi Moms bisa fokus ke hal yang lebih strategis seperti membuat strategi atau mitigasi risiko.
4. Ajak AI "Ngobrol" (Co-pilot):
Anggap AI itu asisten atau co-pilot kita. Kalau hasilnya kurang oke, tanya lagi, uji lagi. Moms tetap yang pegang kendali setirnya!
5. Sentuhan Manusia Sangat Penting:
Ini yang paling penting. Hasil dari AI harus selalu Moms cek lagi. Apakah sudah akurat? Etis tidak? Cocok tidak dengan kultur kantor? Human judgment tidak akan bisa diganti dengan mesin.
Intinya Moms, di zaman yang serba canggih ini, pemenangnya bukan yang paling cepat dapat jawaban dari AI, tapi siapa yang paling pintar pakai AI untuk memperkuat cara berpikirnya.
Yuk, kita jadi smart working moms yang nggak cuma kerja cepat, tapi juga punya kualitas berpikir yang hebat!