Busui Ingin Puasa? Simak Panduan Lengkap dari Pakar Laktasi Agar ASI Tetap Lancar
Bulan Ramadan selalu membawa diskusi hangat di ruang konsultasi medis: “Dok, bolehkah saya berpuasa meski masih menyusui?” Kekhawatiran utama para ibu biasanya berpusat pada dua hal: apakah produksi ASI akan menurun, dan apakah nutrisi bayi akan terganggu?
dr. Revina Tranggana, Sp.A, CIMI, Dokter Spesialis Anak dan Laktasi di Eka Hospital Pluit, memberikan kabar baik. Menurutnya, pada dasarnya ibu menyusui tetap dapat menjalankan ibadah puasa asalkan kondisi tubuh fit dan kebutuhan nutrisi harian terpenuhi dengan strategi yang tepat.
Mitos atau Fakta: Apakah Puasa Menghentikan Produksi ASI?
Banyak ibu khawatir ASI akan langsung "serat" saat tidak makan belasan jam. Namun, dr. Revina menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki mekanisme adaptasi yang luar biasa.
"Produksi ASI mengikuti prinsip supply and demand. Selama bayi tetap menyusu secara rutin atau ibu tetap memompa ASI, tubuh akan menyesuaikan produksinya. Puasa sendiri tidak secara otomatis menghentikan produksi ASI," jelas dr. Revina.
Hal ini sejalan dengan komitmen pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi yang dianjurkan oleh WHO. Jadi, kunci utamanya bukan pada berhenti makan sementara, melainkan pada keberlangsungan proses menyusui itu sendiri.
Mengatasi Keluhan Lelah dan Dehidrasi
Memang tidak dipungkiri, sebagian ibu merasa lebih cepat haus atau lemas saat berpuasa. Namun, dr. Revina menggarisbawahi bahwa pemicunya sering kali bukan karena puasanya itu sendiri, melainkan pola makan dan istirahat yang kurang optimal di luar jam puasa.
"Sering kali keluhan muncul karena ibu kurang minum, kurang makan saat sahur dan buka, atau waktu istirahatnya yang tidak cukup," tambahnya. Ingat, memproduksi ASI membutuhkan energi tambahan, sehingga tubuh butuh 'bahan bakar' yang berkualitas.
Jangan Remehkan Sahur
Agar stamina tetap terjaga hingga waktu berbuka, dr. Revina menekankan pentingnya Sahur. Ia menyarankan beberapa poin penting:
- Pilih Karbohidrat Kompleks & Protein: Agar energi bertahan lebih lama dan tidak cepat merasa lapar.
- Hidrasi adalah Kunci: Atur pola minum air putih yang cukup sejak waktu berbuka hingga sahur untuk mencegah dehidrasi.
- Manajemen Pompa/Menyusui: Tetap susui bayi atau pompa ASI secara rutin agar sinyal produksi di tubuh ibu tetap aktif.
Kapan Busui Harus Berhenti Puasa?
Meski puasa diperbolehkan, kesehatan ibu dan bayi tetap menjadi prioritas tertinggi. dr. Revina mengingatkan para ibu untuk peka terhadap sinyal tubuh.
"Jika ibu merasa sangat lemas, pusing hebat, atau muncul tanda-tanda dehidrasi, sebaiknya puasa tidak dipaksakan," tegasnya. Hal yang sama berlaku jika bayi menunjukkan tanda-tanda tidak mendapatkan cukup ASI, seperti jumlah popok basah yang berkurang drastis atau bayi tampak sangat rewel.
Pada akhirnya, kemampuan berpuasa saat menyusui bersifat sangat individual. Usia bayi (apakah masih ASI eksklusif atau sudah MPASI) serta kondisi kesehatan fisik ibu memegang peranan penting.
Dengan persiapan nutrisi yang matang, hidrasi yang terjaga, serta pemantauan kondisi tubuh yang disiplin, menjalankan ibadah puasa sekaligus memberikan nutrisi terbaik bagi buah hati bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan.