Jangan Asal Menebak, Ini Pentingnya SADAR Alergi dan Tangani Alergi Susu Sapi pada Anak dengan Tepat
Pernahkah Moms and Dads melihat si Kecil mendadak bruntusan, batuk, atau mengalami gangguan pencernaan setelah minum susu, lalu langsung menyimpulkan, "Oh, ini pasti karena alergi"? Stop menebak-nebak, Moms and Dads! Gejala yang mirip, belum tentu memiliki penanganan yang sama.
Dalam rangka memperingati World Allergy Week 2026, Sarihusada hadir membawa semangat SADAR Alergi. Ini adalah sebuah pengingat penting bahwa mengenali gejala saja tidak cukup. Kita perlu paham, sadar, dan tahu persis bagaimana menangani Alergi Susu Sapi (ASS) pada anak dengan tepat, demi masa depan dan tumbuh kembang mereka yang optimal.
Alergi protein susu sapi (APSS) merupakan salah satu kondisi alergi yang cukup sering dialami anak dan perlu dikenali sejak dini. Berdasarkan studi dalam Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition (2025), prevalensi global alergi susu sapi berkisar antara 2% hingga 7,5%.
Sementara di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat angka kejadiannya dapat mencapai hingga 7,5%. Kondisi ini menjadi perhatian penting, terutama pada anak usia dini yang berada dalam masa penting pertumbuhan dan perkembangan.
Sayangnya, gejala alergi susu sapi sering kali menyerupai kondisi umum lainnya, seperti ruam kulit, gangguan pencernaan, atau perubahan perilaku anak setelah mengonsumsi susu, sehingga kerap tidak disadari sejak dini. Padahal, anak dengan alergi susu sapi, tetap membutuhkan penanganan dan dukungan nutrisi yang tepat agar tumbuh kembangnya tetap optimal.
Untuk itu, dalam rangka menyambut World Allergy Week 2026 yang diinisiasi oleh World Allergy Organization dengan tema “Allergy Care is Essential Care”, inisiatif SADAR Alergi (Skrining Awal dan Asupan Rekomendasi Alergi) terus diperkuat guna mendorong pentingnya edukasi, konsultasi dengan dokter spesialis anak, serta dukungan nutrisi yang tepat bagi anak dengan alergi susu sapi. Ini menjadi pengingat akan pentingnya penanganan alergi yang tepat sebagi bagian dari upaya menjaga kualitas hidup dan tumbuh kembang anak secara optimal.
Healthcare Nutrition Director Sarihusada, Vera Saw mengatakan bahwa melalui inisiatif SADAR Alergi, ia ingin menghadirkan dukungan untuk membantu orangtua mendapatkan akses terhadap informasi yang kredibel dan relevan dengan kebutuhannya.
“Sebagai perusahaan yang berfokus pada pemenuhan nutrisi dan tumbuh kembang anak, kami melihat bahwa alergi susu sapi masih menjadi tantangan yang cukup banyak dihadapi orangtua, terutama karena gejalanya sering disalahartikan sebagai kondisi umum, sehingga dapat menyebabkan keterlambatan dalam penanganan yang berpengaruh pada kenyamanan dan tumbuh kembang anak. Dalam rangka World Allergy Week, kami terus memperkuat inisiatif SADAR Alergi untuk mendorong pentingnya edukasi, konsultasi dengan dokter spesialis anak serta dukungan nutrisi yang tepat bagi anak dengan alergi susu sapi. Di tengah banyaknya informasi yang beredar, masih terdapat tantangan self-diagnosis tanpa konsultasi medis yang tepat, sehingga kolaborasi antara orangtua, tenaga kesehatan, dan edukasi berbasis sains menjadi kunci untuk menjaga kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembang anak secara optimal,” ujar Vera.
Secara klinis, alergi protein susu sapi memiliki tingkat gejala yang berbeda pada setiap anak, mulai dari ringan, sedang hingga berat. Hal ini tergantung pada jenis dan intensitas gejala serta respons tubuh terhadap protein susu sapi. Kondisi ini tentunya dapat memengaruhi kenyamanan anak, termasuk terganggunya asupan nutrisi dan kualitas tidur akibat ketidaknyamanan yang ditimbulkan dan jika tidak terdiagnosis dan tidak ditangani dengan tepat, dalam jangka panjang hal ini berpotensi memengaruhi tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, konsultasi dengan dokter anak sejak dini menjadi penting agar penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi anak dan membantu memastikan kebutuhan nutrisi serta tumbuh kembang anak tetap optimal.
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Alergi Imunologi Konsultan, dr. Molly Dumakuri Oktarina Sp.A, Subsp.A.I (K), menjelaskan bahwa penanganan alergi susu sapi perlu dilakukan secara terarah dan berdasarkan evaluasi medis yang tepat.
“Setiap anak memiliki kondisi yang berbeda, sehingga pendekatan penanganannya pun tidak bisa disamaratakan. ASI merupakan nutrisi terbaik bagi anak, termasuk pada anak dengan alergi protein susu sapi, namun Ibu perlu menghindari konsumsi susu sapi dan produk turunannya sebagai bagian dari penanganan. Sedangkan pada anak yang membutuhkan asupan tambahan karena indikasi medis tertentu, pemilihan nutrisi perlu disesuaikan berdasarkan rekomendasi dan pemantauan dokter anak, seperti formula terhidrolisa ekstensif (EHF) untuk alergi ringan-sedang. Sedangkan, amino acid formula (AAF) diberikan untuk kondisi alergi yang lebih berat atau apabila alergi tidak bisa ditangani dengan EHF, dan formula Soya sebagai alternatif pada alergi ringan-sedang apabila terdapat kendala biaya atau ketersediaan EHF. Sedangkan susu terhidrolisat parsial (PHF) bukan pilihan untuk terapi alergi susu sapi. Karena tidak semua formula cocok untuk setiap anak, sehingga seluruh proses mulai dari diagnosis serta pemilihan nutrisi perlu dilakukan di bawah pengawasan dokter anak agar kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembang anak tetap terjaga,” papar dr. Molly.
Berdasarkan beberapa studi, formula terhidrolisa ekstensif (EHF), khususnya berbasis whey, diketahui memiliki tingkat toleransi yang tinggi serta rasa yang lebih dapat diterima, sehingga dapat mendukung kepatuhan konsumsi anak. Sementara itu, formula berbasis asam amino (AAF) ditemukan dapat membantu meredakan gejala alergi secara cepat dengan risiko reaksi alergi yang sangat minimal. Selain itu, formula berbasis soya juga dapat menjadi alternatif dengan tetap memastikan nutrisi penting seperti omega 3&6, AA:DHA, minyak ikan tuna, zat besi, dan vitamin C tetap terpenuhi untuk tumbuh kembang optimal.
Bagi banyak orangtua, menghadapi alergi susu sapi pada anak menjadi perjalanan yang penuh kekhawatiran. Mulai dari mengenali gejala alergi pada anak, mencari informasi yang tepat, hingga memastikan kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembang anak tetap optimal sering kali menjadi tantangan tersendiri. Tidak sedikit orangtua yang merasa bingung ketika anak menunjukkan reaksi tertentu setelah mengonsumsi susu, sehingga perlu melalui proses konsultasi dan pemantauan secara berkelanjutan untuk memahami kondisi serta langkah penanganan yang sesuai bagi anak.
Momfluencer dan Ibu dengan Anak ASS, Sandra Devita membagikan pengalamannya sebagai ibu dengan anak alergi susu sapi. “Sebagai ibu, awalnya saya sempat merasa khawatir dan cemas ketika melihat anak menunjukkan reaksi tertentu setelah mengonsumsi susu sapi. Awalnya saya sempat bingung harus mengambil langkah apa. Karena gejalanya tidak kunjung membaik, saya jadi bolak-balik ke dokter anak dan itu cukup menguras waktu, biaya, serta pikiran saya sebagai seorang ibu. Saya khawatir apakah kebutuhan nutrisi anak tetap dapat terpenuhi untuk mendukung tumbuh kembangnya secara optimal. Dari pengalaman ini saya belajar bahwa menjadi orangtua tidak cukup hanya SADAR alergi saja, tetapi juga perlu mengambil langkah nyata seperti berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat sesuai kondisi anak, bukan langsung mengambil kesimpulan sendiri. Karena setiap anak memiliki kondisi yang berbeda, proses penanganannya pun perlu dipantau secara berkala dan tidak cukup hanya dalam satu kali konsultasi,” tutur Sandra.
Dalam upaya mendukung orangtua memahami alergi susu sapi pada anak, melalui inisiatif SADAR Alergi dihadirkan berbagai edukasi berbasis sains yang bertujuan membantu orangtua mendapatkan informasi yang lebih tepat dan mudah dipahami. Inisiatif ini diharapkan dapat mendorong pemahaman orangtua mengenai pentingnya deteksi dini, konsultasi medis, serta dukungan nutrisi yang sesuai dalam penanganan alergi susu sapi pada anak. Dengan penanganan yang tepat, anak dengan kondisi alergi susu sapi tetap dapat menjalani proses tumbuh kembang secara optimal sesuai kebutuhannya.
Medical and Scientific Affairs Director Sarihusada, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengatakan bahwa alergi susu sapi bukan hanya berdampak pada fisik, tetapi dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan anak.
“Tata laksana alergi susu sapi yang tidak tepat, dapat memengaruhi kecukupan asupan yang dibutuhkan anak untuk tumbuh kembang secara optimal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berujung pada stunting. Studi menemukan risiko stunting mencapai hingga 24% pada kelompok anak alergi protein susu sapi. Selain itu, dampak alergi susu sapi juga dapat dirasakan pada kualitas hidup anak secara keseluruhan, termasuk aspek psikologis, sosial, finansial serta memberikan tantangan tersendiri bagi keluarga dalam proses pengelolaan sehari-hari,” ujar dr. Ray.
dr. Ray menambahkan, “Karena itu, penting bagi orangtua untuk mengenali gejala dan menghindari self-diagnosis. Konsultasi dengan dokter anak sejak dini menjadi kunci agar penanganan tepat dan kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi. Melalui inisiatif SADAR Alergi, kami menghadirkan edukasi berbasis sains melalui berbagai kanal digital dan komunitas untuk membantu orangtua mendapatkan informasi yang tepat. Kami juga berupaya mendukung kebutuhan nutrisi anak dengan alergi susu sapi melalui berbagai pilihan nutrisi, mulai dari formula ekstensif terhidrolisis, formula asam amino, hingga formula berbasis soya yang telah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak di Indonesia yang dapat ditemukan berdasarkan rekomendasi dokter. Selain itu, kami berinisiatif mengembangkan alat bantu digital bersama para ahli untuk membantu tenaga kesehatan mendeteksi lebih awal gejala alergi susu sapi dengan lebih tepat.”
Sebagai bagian dari upaya memperingati World Allergy Week pada Juni 2026, mereka juga berkolaborasi dengan Alodokter untuk menghadirkan layanan konsultasi gratis dengan dokter anak. Melalui inisiatif ini, orangtua dapat memperoleh informasi dan arahan terpercaya terkait alergi susu protein sapi sejak dini agar dapat mengambil langkah penanganan yang lebih tepat bagi anak. Orangtua juga dapat mencari tagar #SADARAlergi di Instagram dan TikTok untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dari dokter spesialis anak.