ads

CARES 2026 Bahas Tantangan Penanganan Penyakit Kardiovaskular di Tengah Pesatnya Perkembangan Ilmu dan Teknologi

Efa Trapulina - Sabtu, 31 Oktober 2026
Heartology gelar CARES 2026, bahas tantangan pengambilan keputusan di tengah pesatnya perkembangan ilmu kardiovaskular (Foto: Efa)
Heartology gelar CARES 2026, bahas tantangan pengambilan keputusan di tengah pesatnya perkembangan ilmu kardiovaskular (Foto: Efa)
A A A

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kardiovaskular menghadirkan semakin banyak pilihan untuk mendiagnosis dan menangani penyakit jantung. Namun, banyaknya pilihan tersebut juga membawa tantangan tersendiri bagi tenaga medis: menentukan pemeriksaan yang tepat, kapan tindakan perlu dilakukan, serta bagaimana menyesuaikan penanganan dengan kondisi setiap pasien.

Tantangan inilah yang menjadi salah satu fokus dalam CARES (Cardiac & Vascular Excellence Scientific Update) 2026 yang diselenggarakan Heartology Cardiovascular Hospital pada Sabtu, 31 Oktober 2026, di The Westin Jakarta. Mengusung tema “The Clinical Crossroads: Decoding Challenges in Modern Cardiovascular Care”, acara ini menghadirkan ruang diskusi bagi dokter umum, dokter spesialis jantung, dokter bedah, perawat, dan tenaga medis lainnya.

Kebutuhan untuk meningkatkan pemahaman mengenai penyakit kardiovaskular juga terlihat dari angka kasus di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi pada penduduk berusia 18 tahun ke atas mencapai 30,8 persen berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah. Sementara itu, hanya 8,6 persen yang pernah didiagnosis hipertensi oleh dokter. Kementerian Kesehatan juga memperkirakan hampir 700.000 serangan jantung terjadi setiap tahun di Indonesia.

Peresmian penyelenggaraan CARES 2026
Heartology Cardiovascular Hospital resmi menggelar CARES 2026 (Foto: Efa)

Ketua Panitia CARES 2026, dr. Emanoel Oepangat, Sp.JP(K) mengatakan perkembangan teknologi perlu berjalan seiring dengan kemampuan tenaga medis dalam menerjemahkannya menjadi keputusan klinis.

“Saat ini kita memiliki semakin banyak pilihan dalam mendiagnosis dan menangani penyakit kardiovaskular. Namun, tantangannya adalah menentukan kapan dan bagaimana pilihan tersebut digunakan secara tepat. Melalui CARES 2026, kami ingin menghadirkan ruang diskusi yang tidak hanya membahas perkembangan ilmu, tetapi juga bagaimana ilmu tersebut diterapkan dalam pengambilan keputusan klinis,” ujar Consultant Cardiologist dan Cardiovascular Interventionist Heartology Cardiovascular Hospital ini.

Tiga Isu Penting dalam Penanganan Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

Dalam CARES 2026, terdapat sejumlah topik yang dibahas melalui simposium, antara lain penyakit katup jantung, penyakit vena kronis, dan atrial fibrillation (AF). Ketiganya menjadi bagian dari pembahasan mengenai bagaimana dokter mengenali kondisi pasien dan menentukan penanganan yang sesuai.
Salah satu topik yang mendapat perhatian adalah AF atau fibrilasi atrium, yaitu gangguan irama jantung yang membuat denyut jantung menjadi tidak teratur. Kondisi ini perlu dikenali karena dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke.

Dr. dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K), Hospital Director sekaligus Interventional Cardiologist dan Electrophysiologist Heartology Cardiovascular Hospital, menjelaskan bahwa pada pasien dengan AF, risiko stroke dapat meningkat hingga sekitar lima kali lipat, bergantung pada faktor risiko masing-masing pasien. Gumpalan darah yang terbentuk di jantung dapat terbawa aliran darah menuju otak dan menyebabkan sumbatan.

“Stroke pada orang dengan atrial fibrillation biasanya lebih parah dibandingkan orang yang stroke bukan karena atrial fibrillation. Karena biasanya area yang terdampak lebih luas. Gumpalan darah yang lepas dari jantung ukurannya bisa lebih besar sehingga menyebabkan sumbatan yang lebih luas di otak,” jelas dr. Faris.

dr. Faris
Dr. dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K), Hospital Director Heartology Cardiovascular Hospital

Gejala AF yang dapat dirasakan antara lain jantung berdebar serta denyut jantung yang terasa cepat atau tidak beraturan. Meski begitu, sebagian orang dapat mengalami AF tanpa merasakan gejala yang jelas. Karena itu, pemeriksaan tetap diperlukan untuk memastikan apakah seseorang mengalami gangguan irama jantung.

Ia mengatakan teknologi seperti jam tangan pintar atau smartwatch saat ini juga dapat membantu mendeteksi pola denyut jantung yang mencurigakan. Namun, hasil pemantauan perangkat tersebut bukanlah diagnosis. Pemeriksaan medis, termasuk elektrokardiogram (EKG), tetap diperlukan untuk memastikan adanya AF.

dr. Faris juga mengingatkan bahwa sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko AF, seperti bertambahnya usia dan hipertensi, terutama jika tekanan darah tidak terkontrol. Selain itu, aktivitas olahraga dengan intensitas sangat tinggi dan volume latihan yang besar dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko AF pada sebagian atlet.

“Kalau kita bicara tentang olahraga, secara grafik hubungannya berbentuk U. Olahraga memang baik untuk kesehatan dan bisa menurunkan risiko penyakit kardiovaskular sampai titik tertentu. Namun, ketika intensitasnya ditingkatkan secara berlebihan, risikonya justru bisa meningkat lagi,” ujarnya.

Selain fibrilasi atrium, CARES 2026 juga membahas perkembangan penanganan penyakit katup jantung. Kemajuan teknologi membuat pilihan tindakan untuk pasien dengan gangguan katup semakin beragam. Selain operasi dengan sayatan yang lebih kecil, pada pasien tertentu pemasangan katup buatan juga dapat dilakukan melalui kateter, tanpa harus menjalani operasi jantung terbuka.

Menurut dr. Faris, pendekatan melalui kateter menjadi salah satu perkembangan penting karena dapat menjadi alternatif bagi pasien dengan kondisi tertentu, termasuk mereka yang menghadapi tantangan apabila harus menjalani operasi terbuka kembali. Meski demikian, pemilihan tindakan tetap harus mempertimbangkan jenis gangguan katup, kondisi jantung, serta riwayat kesehatan pasien.

Ia mencontohkan pasien yang pernah menjalani operasi jantung saat berusia lima tahun. Ketika kemudian mengalami masalah pada katup dan kebocoran, pasien tersebut menjalani penggantian katup melalui kateter. Riwayat operasi sebelumnya membuat area jantung memiliki jaringan perlekatan, sehingga operasi terbuka kembali menjadi lebih kompleks. Dengan prosedur melalui kateter, dokter dapat melakukan tindakan tanpa perlu mengulang operasi terbuka.

dr. Faris juga menjelaskan bahwa teknologi katup yang lebih baru dapat memiliki daya tahan lebih dari 10 tahun. Namun, masa pakai katup pada setiap pasien tidak selalu sama dan bergantung pada jenis katup serta kondisi masing-masing.

Selain penyakit katup dan fibrilasi atrium, CARES 2026 turut mengangkat penyakit vena kronis (Chronic Venous Disease). Pembahasan ini mencakup pengenalan gangguan pada pembuluh darah vena, termasuk masalah vena di kaki, serta bagaimana kondisi tersebut dikenali dan ditangani.

Edukasi Dokter Umum hingga Pengembangan Teknologi

Selain simposium, CARES 2026 juga menghadirkan berbagai lokakarya untuk memperkuat keterampilan tenaga medis. Topik yang dibahas meliputi Lipid Masterclass, Emergency ECG for GP, Basic WSD Workshop, PFO Associated Stroke, serta Modern PCI with FFR and IVUS untuk tenaga medis yang bekerja di laboratorium kateterisasi.

Presiden Direktur Heartology Cardiovascular Hospital, Dr. Ridwan Tjahjadi Lembong, MM, MMRS, MBA, mengatakan kegiatan CARES 2026 ini menjadi salah satu upaya untuk membagikan perkembangan ilmu dan teknologi kardiovaskular kepada tenaga medis dari berbagai bidang.

Dr Ridwan
Dr. Ridwan Tjahjadi Lembong, MM, MMRS, MBA, Presiden Direktur Heartology Cardiovascular Hospital

Menurut Dr. Ridwan, dokter umum memiliki peran penting dalam mengenali tanda bahaya atau red flags sejak awal, sehingga pasien dapat memperoleh penanganan dan rujukan yang sesuai.

“Kita pengen red flags, red flags atau early condition bisa dibaca sama teman-teman di primary,” ujar Dr. Ridwan.

Lebih lanjut ia menjelaskan, dengan kemampuan mengenali kondisi yang perlu diwaspadai, tenaga medis di layanan kesehatan primer diharapkan dapat melakukan penilaian awal, memberikan penanganan sesuai kompetensi dan protokol, serta merujuk pasien kepada dokter spesialis apabila diperlukan. Kolaborasi ini juga penting untuk menjaga kesinambungan perawatan setelah kondisi pasien lebih stabil.

Selain kolaborasi antartenaga medis, perkembangan teknologi juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan ketepatan penanganan. Salah satu yang disoroti Dr. Ridwan adalah penggunaan intravascular ultrasound (IVUS) dalam penanganan penyakit jantung koroner.

Teknologi pencitraan dari dalam pembuluh darah ini tidak hanya membantu dokter mengukur tingkat penyempitan, tetapi juga melihat karakteristik plak atau sumbatan di dalam pembuluh darah. Dengan informasi tersebut, dokter memiliki gambaran lebih lengkap untuk mempertimbangkan strategi penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien.

Dr. Ridwan menambahkan, pengembangan layanan dan teknologi kardiovaskular di Indonesia diharapkan dapat memberikan lebih banyak pilihan bagi pasien di dalam negeri. “Indonesia juga bisa. Kita nggak mesti tuh kirim pasien ke Singapura atau ke luar negeri, untuk dapetin hal serupa, karena kita juga sudah lakukan,” kata Dr. Ridwan.

Melalui CARES 2026, Heartology berharap pertukaran pengetahuan dan pengalaman klinis dapat membantu tenaga medis menghadapi tantangan dalam diagnosis dan penanganan penyakit kardiovaskular. Pada akhirnya, perkembangan ilmu dan teknologi diharapkan tidak hanya memperluas pilihan tindakan, tetapi juga mendukung keputusan klinis yang tepat sesuai kebutuhan setiap pasien.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Lebih dari Sekadar Angka di Timbangan: Obesitas Tingkatkan Risiko Depresi 55%, Depresi Tingkatkan Risiko Obesitas 58%
img
Memahami Perimenopause dan Pilihan Penanganannya
img
Trauma Mata karena Bola Padel? Kenali Risiko dan Cara Mengatasinya
img
Pentingnya Kesehatan Mata untuk Dukung Prestasi Sepak Bola Indonesia