Lebih dari Sekadar Angka di Timbangan: Obesitas Tingkatkan Risiko Depresi 55%, Depresi Tingkatkan Risiko Obesitas 58%
Pernah merasa kurang percaya diri karena angka di timbangan terus bertambah? Atau justru merasa stres ketika berat badan tak kunjung turun? Ternyata, persoalan berat badan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga kesehatan mental.
Obesitas dan depresi bahkan memiliki hubungan dua arah yang perlu mendapat perhatian. Karena itu, mengelola obesitas seharusnya bukan semata-mata mengejar tubuh ideal, melainkan juga menjaga kesehatan dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Untuk itulah, Novo Indonesia meluncurkan kampanye Hidup Lebih Ringan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai obesitas sebagai penyakit kronis yang kompleks serta pentingnya pengelolaan yang memperhatikan kesehatan fisik, mental, dan kualitas hidup.
Peluncuran ini dirangkai dengan diskusi media Lebih dari Sekadar Angka di Timbangan: Hubungan Obesitas dan Kesehatan Mental, yang menghadirkan para pakar untuk membahas hubungan keduanya dan pentingnya dukungan profesional yang empatik serta bebas stigma.
Kampanye Hidup Lebih Ringan hadir untuk memperluas pemahaman masyarakat bahwa keberhasilan pengelolaan obesitas tidak hanya diukur dari angka di timbangan, tetapi juga dari peningkatan kesehatan dan kualitas hidup secara menyeluruh.
Melalui kampanye ini, masyarakat diajak untuk melihat obesitas dari kacamata medis yang lebih utuh—mengurangi stigma, mendorong percakapan terbuka dengan tenaga kesehatan, dan mendukung penanganan yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu.
"Melalui Hidup Lebih Ringan, kami ingin mengajak masyarakat memahami bahwa perjalanan mengelola obesitas bukan semata tentang menurunkan berat badan, melainkan tentang meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup secara berkelanjutan. Yang ingin kami ringankan bukan hanya berat badan, tetapi juga beban untuk menjalaninya sendirian. Kami berharap orang dengan obesitas merasa lebih didukung, tidak dihakimi, dan terdorong mencari informasi serta bantuan medis yang tepat," ujar Inggita Sistha Widyawan, Associate Director, Customer Engagement, Novo Indonesia.
Obesitas dan Kesehatan Mental: Hubungan yang Kerap Terabaikan
Obesitas memang bukan sekadar persoalan angka di timbangan. Sebagai penyakit kronis yang kompleks, obesitas memiliki hubungan dua arah dengan kesehatan mental. Sebuah meta-analisis terhadap 15 studi jangka panjang yang melibatkan sekitar 58.000 peserta menemukan bahwa orang dengan obesitas memiliki kemungkinan 55% lebih tinggi untuk mengalami depresi seiring waktu. Sebaliknya, orang dengan depresi memiliki kemungkinan 58% lebih tinggi untuk mengalami obesitas.
Namun, meski hubungan ini nyata, banyak orang dengan obesitas yang belum mendapatkan dukungan yang dibutuhkan. Studi ACTION APAC Indonesia menunjukkan bahwa hanya 30% responden dengan obesitas pernah mendiskusikan berat badan mereka dengan tenaga kesehatan dalam lima tahun terakhir. Anggapan bahwa penurunan berat badan adalah tanggung jawab pribadi—yang disebutkan oleh 43% responden—menjadi salah satu hambatan utama untuk memulai percakapan tersebut.
Stigma terhadap berat badan turut menambah beban psikologis. Diskriminasi dan komentar negatif mengenai bentuk tubuh dapat memengaruhi kesejahteraan emosional, bahkan membuat seseorang enggan mencari pertolongan medis. “Hubungan obesitas dan kesehatan mental berjalan dua arah dan berbeda pada setiap individu. Orang dengan obesitas dapat menghadapi stigma, tekanan psikologis, dan pengalaman sosial yang memengaruhi kesejahteraannya. Sebaliknya, kondisi kesehatan mental tertentu juga dapat memengaruhi pola tidur, aktivitas, nafsu makan, dan perilaku sehari-hari.Setiap orang dengan obesitas memiliki pengalaman yang berbeda. Kondisi tubuh seseorang tidak dapat digunakan untuk menilai kesehatan mental, karakter, maupun kualitas dirinya. Hindari asumsi, pahami setiap individu secara utuh,” ujar dr. Putri Nugraheni, Sp.KJ, dokter spesialis kedokteran jiwa.
Memahami Peran Otak dan Respons Biologis Tubuh
Selain aspek psikologis dan sosial, mekanisme biologis turut memengaruhi pengelolaan berat badan. dr. Christopher Andrian, M.Gizi, Sp.GK, dokter spesialis gizi klinik, menjelaskan bahwa otak mengatur perilaku makan melalui berbagai sistem yang saling berhubungan, termasuk pengaturan rasa lapar dan kenyang, respons terhadap kenikmatan makanan, serta pengambilan keputusan.
“Obesitas tidak dapat disederhanakan sebagai persoalan kurang disiplin. Tubuh memiliki sistem biologis yang mengatur rasa lapar, kenyang, dan penggunaan energi. Bahkan setelah berat badan turun, tubuh dapat merespons dengan meningkatkan rasa lapar sehingga mempertahankan hasil menjadi lebih menantang. Itu sebabnya pengelolaan obesitas membutuhkan strategi jangka panjang yang disesuaikan dengan kondisi setiap individu,” jelas dr. Christopher.
Dokter Christopher menambahkan, pola makan sehat dan aktivitas fisik tetap menjadi fondasi penanganan. Untuk sebagian orang, dokter dapat mempertimbangkan dukungan tambahan, seperti dukungan psikologis dan perilaku, terapi obat, atau bedah bariatrik, sesuai kondisi klinis.
Salah satu terapi obat yang tersedia adalah terapi glucagon-like peptide-1 agonist (GLP-1 RA). Terapi ini bekerja menyerupai hormon alami pemberi sinyal kenyang, sehingga membantu mengurangi rasa lapar. Terapi ini termasuk obat keras: penggunaannya harus dengan resep dan pemantauan dokter, dengan mempertimbangkan manfaat, risiko, dan kemungkinan efek samping, terutama keluhan pencernaan.
Langkah Awal Mendukung Pengelolaan Obesitas
Sebagai perusahaan kesehatan global dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di Indonesia, perusahaan berkomitmen untuk menghadirkan inovasi dan edukasi yang mendukung penanganan penyakit kronis, termasuk obesitas. Untuk mendukung masyarakat dalam memulai langkah yang tepat, mereka menyediakan platform edukasi sebagai sumber informasi tervalidasi tentang obesitas, termasuk kalkulator BMI dan akses untuk menemukan dokter spesialis, baik secara daring maupun tatap muka.
"Kami ingin mendorong masyarakat untuk memahami obesitas secara lebih menyeluruh dan tidak ragu mencari bantuan tenaga kesehatan profesional. Langkah awal dapat dimulai dengan berdiskusi bersama dokter mengenai kondisi kesehatan dan pilihan penanganan yang sesuai. Melalui platform ini, masyarakat juga dapat mengakses informasi seputar obesitas dan menemukan dukungan untuk mengambil langkah yang tepat dalam menjaga kesehatan," jelas dr. Riyanny M. Tarliman, Associate Director, Medical & Regulatory, Novo Indonesia.