Pentingnya Kesehatan Mata untuk Dukung Prestasi Sepak Bola Indonesia
Di balik sengitnya pertandingan sepak bola, mata berperan penting dalam membaca pergerakan lawan, mencari ruang, hingga menentukan peluang. Informasi visual diolah otak menjadi keputusan yang diterjemahkan melalui gerakan tubuh, membantu pemain merespons situasi dan menjalankan taktik tim. Karena itu, kesehatan mata perlu diperhatikan sejak masa pembinaan hingga jenjang profesional. Deteksi dini dan pemeriksaan mata membantu mengenali gangguan penglihatan agar pemain memperoleh penanganan yang sesuai untuk menunjang performanya di lapangan.
Peran tersebut menjadi perhatian JEC Eye Hospitals and Clinics melalui seminar “Vision of A Champion: Ketajaman Visual sebagai Kunci Performa sang Garuda”. Kegiatan ini mempertemukan pelatih, pesepakbola, pengurus sekolah sepak bola (SSB), dan pegiat sepak bola dengan praktisi kesehatan.
“Dua mata pemain itu harus berfungsi optimal dan sangat jelas, untuk bisa dengan maksimal mengamati, lalu memperhitungkan ketepatan respons kepada bola yang hendak ia eksekusi selanjutnya. Fakta menunjukkan bahwa kalau kondisi mata pemain ada kelainan, maka kemampuan menangkap kejernihan fokus dan kejelasan dari bola yang bergerak atau kondisi lapangan serta perubahan cuaca juga akan mudah menurun. Sebagai trusted eye care leader, kami ingin mendorong perhatian yang lebih menyeluruh terhadap fungsi penglihatan, sehingga gangguan penglihatan dapat dikenali sejak dini dan setiap pemain memperoleh pemeriksaan serta penanganan yang sesuai, mulai dari masa pembinaan hingga jenjang profesional,” ujar Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiarjo, SpM(K), PhD, dokter spesialis mata sekaligus Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan, JEC Eye Hospitals and Clinics.
Salah satu pembahasan utama dalam seminar ini adalah crossed laterality atau dominansi silang, yaitu ketika mata dominan berada pada sisi yang berlawanan dengan tangan dan/atau kaki dominan. Contohnya, seorang pemain memiliki mata kiri dominan dengan kaki kanan dominan. Karena itu, pemetaan profil pemain mencakup keterkaitan dominansi mata, tangan, dan kaki untuk memahami koordinasi penglihatan dan geraknya.
Penelitian dalam jurnal Frontiers in Physiology (2018) terhadap 72 pemain elite dari Stade Rennais di Prancis dan sembilan pemain amatir menemukan crossed laterality pada 53 persen kelompok elite, dibandingkan 33 persen kelompok amatir. Temuan pada kelompok yang diteliti tersebut menjadi salah satu dasar pembahasan mengenai pentingnya mengenali profil dominansi setiap pemain.
Dalam penelitian tersebut, respons pemain dipengaruhi arah datangnya rangsangan visual, sedangkan gerakan berputar berkaitan dengan dominansi kaki. Temuan ini memberi konteks bagi pembahasan Prof. Tjahjono mengenai pentingnya mengenali sisi yang lebih kuat dan sisi yang masih perlu dilatih pada setiap pemain.
“Memahami crossed laterality membantu kita mengenali hubungan antara dominansi mata dan koordinasi gerak setiap pemain. Informasi ini membantu melengkapi penilaian tentang cara pemain merespons rangsangan dari arah berbeda dan melakukan perubahan arah tubuh. Bagi pelatih, hasil pemetaan dapat menjadi masukan untuk menyusun latihan sesuai kebutuhan individu, misalnya mengikuti bola sambil berputar, melatih respons dari kedua sisi, serta memperkuat keseimbangan dan kaki penopang. Perhatian juga perlu diberikan pada sisi yang respons atau gerakannya masih lebih lemah, kemudian dievaluasi bagaimana perkembangannya dalam permainan. Dengan demikian, pembinaan dapat mengembangkan koordinasi penglihatan dan gerak secara lebih terarah sesuai karakteristik serta kebutuhan posisi pemain,” jelas Prof. Tjahjono.
Pemetaan dominansi tersebut tetap perlu dilengkapi penilaian ketajaman melihat objek diam atau static visual acuity, kemampuan mengenali detail objek bergerak atau dynamic visual acuity, serta kestabilan pandangan ketika kepala dan tubuh bergerak. Fungsi-fungsi ini mendukung pemain memanfaatkan informasi visual selama pertandingan.
“Ketika bertanding, pemain harus mengikuti bola sambil berlari, mengalihkan fokus dari dekat ke jauh, serta memperkirakan jarak dan arah datangnya bola. Di sini, kerja sama kedua mata untuk melihat kedalaman, kemampuan mengenali objek di sisi pandangan, dan kepekaan terhadap kontras ikut berperan. Pandangan juga perlu tetap stabil ketika kepala dan tubuh bergerak. Hal ini didukung vestibulo-ocular reflex, yaitu refleks yang membantu mata mengimbangi gerakan kepala saat berlari atau berputar. Karena itu, ketajaman melihat objek diam perlu dinilai bersama kemampuan melihat objek bergerak dan koordinasi mata dengan tubuh, agar tenaga medis serta pelatih memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang kebutuhan pemain,” lanjut Prof. Tjahjono.
Kemampuan tersebut digunakan saat pemain mengikuti gerak bola atau tracking, serta menoleh untuk mengamati situasi sekitar atau scanning. dr. Tommy Desky menjelaskan bagaimana pengamatan ini diterapkan dalam permainan dan dilatih sejak di SSB. “Pemain perlu mengumpulkan informasi sebelum bola datang: posisi rekan, pergerakan lawan, dan ruang yang dapat dimanfaatkan. Penglihatan yang baik membantu pemain menangkap informasi tersebut dengan jelas untuk kemudian diolah menjadi keputusan. Dalam tekanan tinggi, waktu untuk memutuskan sangat singkat. Karena itu, scanning perlu dilakukan pada saat yang tepat dan disertai pemahaman terhadap apa yang dilihat, sehingga pemain dapat menentukan pilihan untuk mengoper, menggiring, atau bergerak. Kebiasaan ini dapat dibangun melalui latihan sederhana di SSB menggunakan cone, angka, atau penanda, dengan tingkat kesulitan yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan pemain. Pengamatan langsung, rekaman, atau data dapat membantu mengenali keputusan yang sudah tepat dan aspek yang masih perlu dilatih,” jelas dr. Tommy Desky, dokter sekaligus analis sepak bola.
Coach Indra Sjafri, pelatih yang membawa tim nasional sepak bola Indonesia meraih medali emas SEA Games 2023, juga mengatakan bahwa, “Kemampuan merespons dengan tepat berawal dari penglihatan yang baik. Dengan scanning, pemain lebih mudah membaca permainan dan menerapkan taktik yang diberikan pelatih. Karena itu, pembinaan di SSB dan klub perlu membangun kebiasaan membaca permainan sejak dini. Perhatian ini perlu berjalan bersama pengembangan kemampuan teknik, fisik, dan mental pemain.”
“Saya berterima kasih kepada JEC Eye Hospitals and Clinics dan Prof. Tjahjono yang membuka ruang diskusi tentang kontribusi penglihatan bagi pengembangan pemain. Sepak bola membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu, dan pelatih perlu terbuka untuk belajar dari tenaga medis. Harapannya, pemeriksaan dan informasi kesehatan pemain semakin diperhatikan sejak di klub atau akademi, sehingga pembinaan memiliki dasar yang lebih lengkap. Pertemuan seperti ini membantu kami melihat bagaimana pengetahuan medis dapat diterjemahkan menjadi perhatian dan dukungan yang relevan di lapangan,” imbuhnya.
Kolaborasi pelatih dan tenaga medis juga diperlukan untuk menindaklanjuti gangguan penglihatan yang ditemukan pada pemain. “Pemeriksaan membantu kita memahami apakah ada kelainan refraksi, gangguan kerja sama kedua mata, atau kondisi lain yang perlu ditangani. Hasilnya menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan koreksi dan pemeriksaan lanjutan, sementara keterampilan membaca permainan terus dikembangkan melalui latihan. Pada anak, perhatian ini perlu dimulai sejak dini karena mereka belum tentu mampu menjelaskan keluhannya. Orang tua dan pelatih dapat membantu dengan memperhatikan kesulitan melihat dan memastikan tindak lanjut pemeriksaan. Sesuai usia, kondisi mata, dan kebutuhan masing-masing pemain, pilihan koreksi dapat mencakup kacamata olahraga, lensa kontak, atau bedah refraktif yang memerlukan penilaian kelayakan tersendiri secara lebih komprehensif,” tambah Prof. Tjahjono.