Memahami Perimenopause dan Pilihan Penanganannya
Berbagai perubahan fisik dan emosional umumnya mulai dirasakan oleh perempuan saat memasuki usia 40-an tahun, seperti siklus haid yang tidak teratur, suasana hati yang mudah berubah, hingga berbagai perubahan yang memengaruhi kualitas hidup. Fase ini disebut sebagai perimenopause, yaitu masa transisi menuju menopause.
Perimenopause merupakan masa peralihan menuju menopause yang ditandai dengan perubahan siklus menstruasi, penurunan fungsi ovarium, dan fluktuasi kadar hormon. Sejak berada dalam kandungan, perempuan memiliki jutaan sel telur di ovarium. Jumlah sel telur terus berkurang seiring pertambahan usia. Pada masa pubertas, jumlah sel telur tersebut tersisa ratusan ribu. Sementara saat menjelang usia 40 tahun, jumlah sel telur kian menipis hingga tersisa puluhan ribu.
Menurut Dr. dr. Kanadi Sumapradja, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., M.Sc, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi RS Pondok Indah – Pondok Indah, semakin menurunnya jumlah sel telur menyebabkan produksi hormon estrogen dan progesteron menjadi tidak stabil. Kadarnya menjadi sangat fluktuatif. Seiring berjalannya waktu, ovarium secara bertahap akan sepenuhnya berhenti memproduksi hormon. Akibatnya seorang perempuan tidak lagi mengalami haid. Haid terakhir yang dialami perempuan dikenal sebagai menopause.
Perimenopause umumnya mulai dirasakan perempuan pada rentang usia 40-an tahun. Cepat atau lambatnya fase ini dipengaruhi oleh proses penuaan alami (aging), faktor keturunan (genetik), hingga gaya hidup. Kebiasaan merokok terbukti dapat membuat cadangan ovarium lebih cepat habis. Selain itu, riwayat operasi pada indung telur atau terapi medis tertentu juga turut berpengaruh.
Mengingat hormon estrogen dan progesteron mengatur banyak fungsi organ di dalam tubuh, ketidakstabilan hormon ini dapat memicu berbagai perubahan pada tubuh, seperti:
- Gangguan menstruasi: Siklus menstruasi menjadi lebih pendek atau lebih panjang dari biasanya. Volume darah haid dapat bervariasi, bisa lebih banyak (bahkan disertai gumpalan) atau hanya berupa flek saja.
- Munculnya hot flash: Adanya sensasi panas yang mendadak menjalar di tubuh bagian atas (seperti dada dan wajah), disertai keringat pada malam hari dan mudah merasa gerah.
- Gangguan tidur: Kesulitan untuk tidur nyenyak atau sering terbangun di malam hari.
- Perubahan suasana hati: Mudah merasa cemas, mood swings, lebih sensitif, mudah marah, hingga mengalami depresi.
- Perubahan kondisi area alat kelamin dan saluran kemih: Area kewanitaan terasa lebih kering, nyeri saat berhubungan, serta adanya peningkatan risiko infeksi saluran kemih.
- Perubahan fisik dan metabolik: Badan terasa cepat lelah, berat badan lebih mudah naik, massa otot berkurang, serta rambut dan kulit menjadi lebih kering.
Menurut dokter Kanadi, langkah awal penanganan perimenopause dimulai dari proses penegakan diagnosis yang komprehensif. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas endokrinologi reproduksi akan melakukan wawancara medis (anamnesis) untuk mengetahui perubahan pola menstruasi serta riwayat kesehatan secara menyeluruh. Selanjutnya dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan darah untuk melihat kondisi hormon serta melakukan pemeriksaan USG panggul untuk memastikan kondisi organ reproduksi.
Dalam menentukan strategi penanganan perimenopause yang tepat bagi setiap pasien (individualized care), penatalaksanaan gejala perimenopause umumnya dilakukan melalui 5 tahapan utama, yaitu:
- Kenali dan Nilai Gejala. Langkah awal dimulai dari kesadaran pasien untuk mengenali berbagai keluhan fisik maupun emosional yang dirasakan.
- Identifikasi Risiko dan Kebutuhan. Dokter mengevaluasi profil kesehatan pasien secara menyeluruh, termasuk riwayat penyakit kardiovaskular, risiko osteoporosis, riwayat kanker (seperti kanker payudara atau endometrium), fungsi hati, tekanan darah, kadar gula darah atau kolesterol yang tinggi, hingga gaya hidup.
- Tentukan Strategi Penatalaksanaan. Berdasarkan hasil penilaian risiko, dokter akan menentukan jenis terapi yang paling aman dan sesuai.
- Intervensi Individual. Terapi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien. Pilihan tatalaksana yang tersedia meliputi: Tatalaksana non hormonal, berupa berupa perubahan gaya hidup, olahraga teratur dan perbaikan pola diet. Tatalaksana hormonal, bertujuan untuk mengatasi berbagai gejala yang muncul akibat perubahan hormonal. Terapi hormon dapat diberikan untuk mendapatkan efek sistemik, namun dapat juga diberikan untuk sekedar mendapat efek lokal. Tatalaksana spesifik, sekiranya pasien juga memiliki kondisi spesifik yang membutuhkan tatalaksana yang spesifik seperti hipertensi, diabetes, dan lain-lain.
- Evaluasi dan Tindak Lanjut. Proses pengobatan dilakukan secara berkala (umumnya 6-12 minggu) untuk memantau perbaikan gejala dan keamanan terapi, menyesuaikan dosis jika diperlukan, serta menjaga kesehatan tulang, jantung, dan kualitas hidup pasien dalam jangka panjang.
Perimenopause merupakan proses alami yang pasti dilalui oleh setiap perempuan. Oleh karena itu, penting untuk mempersiapkan tubuh sejak dini. Adapun persiapan yang sebaiknya dilakukan antara lain:
- Menjaga pola makan dengan gizi seimbang.
- Rutin berolahraga, terutama latihan beban ringan untuk menjaga kekuatan otot dan massa tulang.
- Memastikan waktu istirahat yang cukup dan mengelola stres dengan baik.
- Menghindari pajanan terhadap asap rokok dan alkohol.
“Jika perubahan siklus menstruasi atau gejala perimenopause mulai mengganggu aktivitas dan kenyamanan hidup, maka jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi. Penanganan yang tepat dapat membantu Anda tetap sehat, bugar, dan produktif di usia matang,” tutupnya.