Dari Ide Jadi Aksi: Dorong Remaja Indonesia Berani Berwirausaha Sejak Sekolah Lewat SCYEP
Bagi para Moms, menyiapkan masa depan anak bukan cuma soal akademis. Keterampilan hidup seperti kreativitas, problem solving, sampai keberanian mencoba hal baru juga jadi bekal penting. Hal inilah yang coba didorong oleh Starbucks Indonesia melalui Starbucks Creative Youth Entrepreneurship Program (SCYEP).
Program ini kembali digelar dalam rangka Global Month of Good setiap April, bekerja sama dengan Prestasi Junior Indonesia dan didukung The Starbucks Foundation. Fokusnya jelas yakni untuk menginspirasi siswa sekolah menengah atas (SMA/SMK) agar dapat mengeksplorasi kewirausahaan sebagai pilihan karier masa depan yang layak dan berdampak.
Sejak diluncurkan pada 2019, program tersebut sudah menjangkau lebih dari 6.000 siswa di Indonesia. Tahun ajaran 2025/2026 saja, program ini telah memberikan manfaat dari 1.000 siswa dari 15 SMA/SMK di berbagai kota, mulai dari Medan, Jakarta, Tangerang Selatan, Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan Jayapura dalam rangkaian program JA Company Program dan JA Be Entrepreneurial.
Yang menarik, para siswa tidak hanya belajar teori. Mereka benar-benar menjalankan bisnis kecil di sekolah melalui konsep student company. Mulai dari mengembangkan produk, mengatur keuangan, hingga memasarkan hasil karya mereka.
“Di kegiatan ini, lebih dari 200 partner (karyawan perusahaan) terlibat sebagai sukarelawan untuk memberikan pendampingan terhadap siswa-siswi dalam merintis dan mengembangkan perusahaan siswa,” jelas Avolina Raharjanti, Senior General Manager Corporate Public Relations PT Sari Coffee Indonesia.
Ia menambahkan, “Ini dilakukan sebagai upaya untuk mendorong kewirausahaan agar menjadi pilihan karier yang menjanjikan bagi generasi muda.”
Belajar Bisnis Sejak Sekolah, Kenapa Tidak?
Mungkin ini jadi pertanyaan bagi Moms, memang sepenting itu mengenalkan bisnis sejak remaja?
Menurut Utami Anita Herawati, Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, pendekatan SCYEP justru dirancang bertahap agar anak siap secara mindset dan praktik. “Program ini menghadirkan pendekatan pembelajaran kewirausahaan yang semakin komprehensif, dimulai dari JA Be Entrepreneurial untuk membangun pola pikir, hingga JA Company Program yang memberikan pengalaman langsung dalam menjalankan bisnis,” jelasnya.
Artinya, anak tidak langsung “dilempar” ke dunia usaha, tapi diajak memahami prosesnya dulu, mulai dari ide sampai eksekusi.
Hasilnya? Banyak ide kreatif lahir dari tangan para siswa. Mulai dari Gantungan kunci daur ulang yang terbuat dari tutup botol plastik, kotak penyimpanan inovatif dan ramah lingkungan, pensil ramah lingkungan, vest yang terbuat dari daun dan bunga, cangkir unik dari limbah kopi, produk pendingin tubuh, dan sebagainya.
“Seiring dengan perluasan implementasi program ke berbagai kota di Indonesia, pendekatan ini memungkinkan semakin banyak siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mengimplementasikan ide menjadi usaha nyata yang inovatif dan berkelanjutan. Hal ini mencerminkan besarnya potensi generasi muda Indonesia untuk menjadi wirausaha yang adaptif, kreatif, dan berdampak bagi masyarakat,” imbuh Utami.
Anak Belajar Empati, Bukan Sekadar Untung
Menariknya, program ini tidak hanya fokus pada profit atau laba. Anak-anak juga diajak peka terhadap isu sosial dan lingkungan. Hal ini sejalan dengan pandangan Leontinus Alpha Edison dari Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Perlindungan Pekerja Migran Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat.
“Kami mengapresiasi inisiatif ini sebagai wujud nyata kolaborasi dalam mendorong pemberdayaan generasi muda melalui kewirausahaan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa di tengah dinamika global, penting bagi anak untuk punya kemampuan adaptif sekaligus kepedulian sosial. “Kami berharap melalui program ini, para peserta dapat menghadirkan solusi yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga berkelanjutan dan berdampak bagi masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari generasi muda yang berdaya saing dan berkontribusi bagi masa depan Indonesia,” pungkasnya.
Investasi Masa Depan Anak
SCYEP menjadi bagian dari komitmen perusahaan kopi global tersebut dalam Global Month of Good, yang selama ini juga diwujudkan lewat berbagai inisiatif sosial mulai dari pembangunan akses air bersih, program sanitasi, hingga donasi puluhan ribu buku untuk anak-anak di berbagai daerah.
Creative Youth Entrepreneurship Program sendiri telah berlangsung sejak bulan Agustus tahun 2025 hingga Maret 2026, melibatkan 268 siswa dari 10 SMA/SMK penerima manfaat dari JA Company Program (Student Company).
Setelah melalui program seleksi dan penjurian di babak final, terpilih dua sekolah peraih the Best Student Company SCYEP tahun 2025/2026 yaitu SMA Kolese Loyola Semarang dan SMA Mentari International School Grand Surya, Jakarta yang akan melaju ke kompetisi Company of the Year di pertengahan tahun 2026.