Dari Puncak Gunung Hingga Meja Makan: Menjaga Kelestarian Air dan Kesejahteraan Masyarakat dari Hulu ke Hilir
Berbicara soal air minum, seringkali yang terasa hanya segarnya saat diminum. Padahal, yang menentukan rasa itu, justru dimulai jauh sebelum air sampai ke tangan kita. Air yang berasal dari ekosistem yang terjaga, akan memiliki keseimbangan rasa yang ringan, segar, dan alami. Keseimbangan rasa inilah yang menghadirkan sensasi berbeda saat diminum, termasuk rasa ‘adem’ yang sering kita rasakan. Bukan dibuat tapi karena dijaga sejak awal.
“Ya, air yang baik tidak diciptakan, tapi dijaga sejak dari alamnya. Karena itu, menjaga ekosistem sumber air adalah fondasi utama untuk memastikan kualitasnya tetap konsisten, termasuk sensasi adem yang dimiliki air,” jelas Jeffri Ricardo, Senior Manager Public Affairs & Sustainability AQUA.
Menjaga kemurnian air pun ternyata bukan sekadar urusan teknologi di dalam pabrik, lebih dari itu, ia adalah sebuah kerja maraton yang melibatkan keseimbangan alam, pemberdayaan manusia, dan inovasi tanpa henti.
Dalam rangkaian Media Trip di Klaten, Jawa Tengah kali ini, terungkap bahwa setiap tetes air yang kita konsumsi, membawa cerita panjang tentang kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Dari Hulu, Perjalanan Air Dimulai
Selasa pagi, 05 Mei 2026, perjalanan dimulai dari hulu (puncak gunung), tepatnya di Bukit Emmon (Emperan Merapi Montong). Sebagai daerah resapan (recharge area) vital, kawasan ini dijaga oleh lebih dari 141.041 pohon keras seperti mahoni dan suren. Pohon-pohon ini adalah "benteng" alami yang memastikan air hujan meresap ke dalam akuifer tanah dan mencegah erosi. Akuifer adalah lapisan yang terdapat di bawah tanah, yang mengandung air dan dapat mengalirkan air tanah.
Arif Fadhillah, Water Science Team AQUA menjelaskan bahwa kawasan seperti Bukit Emmon punya peran yang lebih penting dari sekadar lanskap. “Bukit Emmon bukan sekadar hidden gem tempat menikmati pemandangan, tapi bagian dari daerah tangkapan air yang membantu memastikan air hujan masuk ke dalam tanah. Di kawasan seperti ini, air tidak langsung mengalir di permukaan, tapi meresap, tersaring secara alami, dan menjadi bagian dari cadangan air tanah,” terangnya.
Taman Nasional Gunung Merapi
Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) menjadi hidden gem lain dalam satu kawasan yang juga masuk ke dalam area konservasi. Berada di ketinggian 1.403 meter di atas permukaan laut, TNGM menjadi sebuah kawasan yang memegang peran krusial sebagai benteng pelestarian alam bagi masa depan.
“Salah satu nilai terpenting TNGM yang sering kali tidak terlihat oleh mata adalah fungsinya sebagai pelindung sistem tata air. Merapi bukan sekadar gunung berapi yang dinamis secara vulkanik, tetapi juga sebuah spons raksasa yang menyerap kehidupan. Yang dijaga di Merapi ini tidak hanya keberadaan fisik airnya, tapi juga fungsinya. Taman Nasional ini menjadi wilayah resapan. Air permukaan dan hujan diresapkan di lereng ini, dialirkan melalui sistem batuan di dalam tanah, hingga akhirnya sampai ke wilayah bawah seperti Klaten," ungkap Reka Permana, Penyuluh TNGM.
Kaitan ilmiah ini terbukti melalui penelitian isotop yang menunjukkan bahwa sumber-sumber air alami di dataran rendah, termasuk objek wisata air populer di Klaten, berasal dari resapan di lereng Gunung Merapi. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa menjaga kelestarian di hulu adalah harga mati untuk keberlangsungan hidup di hilir.
"Tujuan utamanya adalah supaya alam ini bertahan awet sampai masa yang akan datang. Kita biarkan tumbuhan dan satwa liar hidup secara alami tanpa gangguan manusia, sehingga nuansa 'adem' ini masih bisa terus kita rasakan," kata Reka.
Karena itu, menjaga hulu bukan sekadar menjaga pemandangan tetap indah. Ini soal menjaga titik awal kualitas air tetap terus terjaga.
Upaya yang dilakukan pun tidak sederhana. Mulai dari pengendalian alih fungsi lahan untuk menjaga kawasan resapan tetap utuh, hingga penerapan agroforestry. Pada praktiknya, tanaman ditanam mengikuti kontur tanah untuk meminimalkan risiko longsor sekaligus membantu air mengalir lebih merata dan terserap optimal.
Arif menambahkan, kondisi tanah dan vegetasi sangat menentukan bagaimana air terserap sejak awal. “Akar tanaman menjaga struktur tanah tetap berpori, sehingga air lebih mudah masuk dan tersimpan di tanah dalam. Semakin baik kondisi daerah tangkapan air, semakin besar kemampuan alam untuk menyerap, menyaring, dan melindungi air sejak awal prosesnya. Tanaman kopi menjadi salah satu penahan tanah alami yang cocok untuk dibudidayakan di wilayah ini,” jelasnya.
“Pohon-pohon ini adalah titipan untuk masa depan,” ujar Pujo salah satu pengelola kawasan yang turut mendampingi. “Kita menjaga kemiringan tanah agar anak cucu kita nanti masih bisa merasakan air yang sama segarnya dengan yang kita minum hari ini,” ucapnya seraya menunjukkan lahan yang telah menerapkan agroforestry.
Tak jauh dari Bukit Emmon, di Desa Mriyan, Boyolali, muncul sinergi unik melalui Kopi Gumuk. Sejak 2017, budidaya kopi di lereng Merapi ini menjadi solusi ganda. Akar kopi yang kuat mencengkeram tanah lereng yang curam, berfungsi sebagai mitigasi bencana longsor, sementara biji kopinya menjadi motor ekonomi warga.
Dukungan diberikan dari penyediaan bibit hingga pembangunan Kedai Kopi sebagai pusat komunitas. “Pendapatan para petani di sini jadi meningkat. Yang tadinya hanya menanam hortikultura, mawar, dan tembakau, sekarang mendapat tambahan penghasilan dari kopi,” tandas Paino, salah seorang petani lokal.
"Kopi ini adalah simbol keseimbangan. Kami tidak hanya memanen buahnya, tapi kami menanam akarnya untuk menjaga rumah kami dari longsor. Saat warga berkumpul di kedai, yang kami bicarakan bukan cuma soal harga kopi, tapi bagaimana menjaga air tetap mengalir di desa ini," cetus Paino sambil melayani para pembeli di Kedai Kopinya.
Padepokan Konservasi Ekologi Masyarakat
Desa Mriyan yang terletak di lereng Gunung Merapi, Boyolali, merupakan contoh nyata bagaimana masyarakat lokal bisa hidup berdampingan dengan konservasi tanpa kehilangan kemandirian ekonomi.
Di sini juga dibangun sebuah pusat kegiatan yang diberi nama PAKEM (Padepokan Konservasi Ekologi Masyarakat) yang mendedikasikan kegiatannya pada pelestarian ekosistem di lereng Gunung Merapi.
"Di wilayah hulu dengan geografi yang ekstrem yaitu diapit sungai dan jurang, tantangan konservasi memang nyata. Namun, kunci kami adalah menyadarkan masyarakat tanpa harus berbenturan dengan aktivitas mereka. Kami memulai dari hal kecil, memperbaiki cara bercocok tanam, hingga kini kami bisa mandiri melalui kopi dan menjaga kelestarian anggrek di lereng Merapi," terang Joko, Ketua Rumah PAKEM dari Pusur Institute saat ditemui di rumah PAKEM, Selasa (05/05).
Untuk diketahui, Vanda tricolor var. suavis adalah anggrek primadona di lereng Merapi. Keindahannya sering kali mengundang penjarahan, namun Desa Mriyan mengubah pola pikir tersebut melalui Program Adopsi.
Alih-alih menjual anggrek hasil cabutan dari hutan, masyarakat (atau donatur dari luar) dapat "mengadopsi" anggrek. Anggrek tetap berada di habitatnya atau di tempat penangkaran desa, namun pengadopsi memberikan dana untuk biaya perawatan dan pelestariannya.
Joko juga menjelaskan tentang skema Pembayaran Jasa Lingkungan yaitu sebuah mekanisme ekonomi hijau yang dirancang untuk memberikan penghargaan atau kompensasi kepada pihak-pihak yang telah menjaga kelestarian alam.
Sederhananya, ini adalah sebuah "kontrak" sukarela antara penyedia jasa lingkungan (biasanya masyarakat di hulu) dan pengguna jasa lingkungan (masyarakat atau industri di hilir).
“Masyarakat di wilayah hulu (seperti di Mriyan, Boyolali) menjaga hutan agar sumber air tetap mengalir dan udara tetap bersih. Karena tanpa penjagaan mereka, masyarakat di hilir akan menghadapi ancaman banjir, kekeringan, atau polusi,” kata Joko.
Dengan adanya Pembayaran Jasa Lingkungan, konservasi tidak lagi dianggap sebagai beban yang menghalangi ekonomi. Sebaliknya, alam yang lestari menjadi aset yang menghasilkan. Petani tidak perlu lagi merambah hutan untuk mencari nafkah, karena menjaga hutan itu sendiri sudah memberikan nilai ekonomi yang konkret.
Di wilayah Sub-DAS Pusur, skema ini telah menjadi perekat hubungan antara kelestarian Merapi di hulu dan produktivitas wilayah Klaten di hilir.