Pertanian Regeneratif: Menyuburkan Tanah, Menenangkan Pikiran
Perjalanan air dimulai dari hulu hingga hilir. Jika di hulu kualitasnya dibentuk dari ekosistem resapan yang terjaga, maka di bagian tengah tantangannya berbeda: bagaimana air yang sudah baik kualitasnya dapat tetap terjaga saat digunakan, sekaligus memberi manfaat bagi banyak orang.
Salah satu upaya menjaga kualitas dan kuantitas air saat dimanfaatkan terlihat dari praktik pertanian di kawasan ini. AQUA mendorong penerapan pertanian ramah lingkungan melalui regenerative farming atau metode pertanian berkelanjutan.
Lilik, petani regeneratif di kawasan ini, menceritakan bahwa perubahan yang ia lakukan bukan sekadar mengganti teknik menanam, tetapi juga cara melihat tanah dan air. “Dulu tanah terasa keras dan panas karena terlalu banyak bahan kimia. Sekarang, dengan pupuk organik dan mulsa, tanah jadi lebih gembur dan adem. Air juga lebih lama tertahan di dalam tanah,” ujarnya.
Apa yang dirasakan Lilik tersebut berkaitan erat dengan kondisi tanah yang kembali sehat. Tanah yang sehat bekerja seperti spons alami, menyerap air, menyimpannya, lalu melepaskannya perlahan. Ini membantu menjaga keseimbangan siklus air, sekaligus memastikan tanaman tetap mendapatkan cukup kelembapan tanpa bergantung berlebihan pada irigasi.
Air yang Mengalir, Dijaga Bersama
Air yang tersimpan dan mengalir tetap perlu dikelola dengan baik. Di sini, mereka bekerja sama dengan Forum Relawan Irigasi (FRI) untuk meningkatkan pengelolaan irigasi di wilayah tengah untuk menjaga air tetap terdistribusi dengan baik.
Melalui kolaborasi ini, dilakukan pembersihan sedimen dan sampah di saluran air, perbaikan jaringan irigasi, serta rehabilitasi pintu air agar distribusi air menjadi lebih lancar. Dampaknya langsung dirasakan oleh petani, kini sudah lebih dari 900 petani mendapatkan aliran air yang lebih stabil dan terkelola. Di saat yang sama, juga turut diperluas akses air bersih di 13 desa di dua kecamatan di Kabupaten Klaten. Inisiatif ini berhasil menjangkau lebih dari 8.000 warga.
Bagi Lilik, menjaga tanah dan air bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal keberlanjutan hasil panen. “Bertani itu harus cerdas dan bertanggung jawab. Kalau tanah dan air kita jaga, hasilnya juga bisa terus ada tanpa merusak alam. Ada rasa tenang juga, karena yang kita lakukan hari ini tidak menghabiskan sumber daya untuk ke depan,” katanya.
Pendekatan ini perlahan mengubah cara petani melihat pekerjaan mereka. Bukan sekadar mengejar hasil, tetapi menjaga keseimbangan agar hasil panen bisa terus tersedia.
Dampaknya juga terasa dari sisi ekonomi. Tanah yang mampu menahan air lebih lama membantu mengurangi kebutuhan irigasi yang berlebihan. Penggunaan bahan kimia yang mahal juga bisa ikut dikurangi. Biaya produksi menjadi lebih efisien, sementara kualitas hasil panen tetap terjaga.
“Kalau tanahnya sehat, kita tidak perlu terlalu banyak biaya tambahan. Air sudah cukup, pupuk juga lebih alami. Hasilnya lebih stabil, dan kondisi ekonomi keluarga jadi lebih baik, hati jadi lebih adem,” lanjut Lilik.
Sungai yang Terjaga dan Dampaknya Pada Pertumbuhan Ekonomi
Di sepanjang aliran Sungai Pusur, ada cerita lain yang juga ikut berkembang. Berawal dari inisiatif warga menjaga kebersihan sungai, kawasan yang awalnya kurang terkelola perlahan berkembang menjadi destinasi wisata berbasis alam seperti river tubing. Warga sekitar aliran Sungai Pusur, terutama para anak muda, turun tangan mengelolanya secara bersama-sama. Destinasi river tubing ini membuktikan bahwa sungai yang bersih tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru yang bisa dinikmati bersama.
Di kawasan tengah DAS Pusur, terlihat bahwa menjaga lingkungan tidak berarti membatasi aktivitas. Justru sebaliknya, ketika lingkungan terjaga, lebih banyak hal bisa dilakukan.
Air tetap mengalir, tanah tetap sehat, dan masyarakat tetap bisa berkembang. Semua menjadi bagian dari perjalanan air yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Dari perjalanan itu, rasa ‘adem’ tetap bisa dirasakan.
“Pertanian regeneratif bertujuan memperbaiki ekosistem agar tanah kembali seperti spons yang mampu menyimpan air,” jelas Lilik. Dengan bahan organik, keanekaragaman hayati tanah terjaga, dan musuh alami hama pun kembali.
Menariknya, metode ini juga menyelesaikan konflik sosial. Melalui sistem pengairan selang-seling (irigasi berselang), petani tidak lagi berebut air. "Kalau tanaman subur dan manajemen air rapi, pikiran petani pun jadi 'adem'. Inilah esensi dari program ini," tambahnya sembari menunjukkan varietas padi unggulan hasil inovasinya yang diberi nama Sri Rama dan Joko Tarub yang lebih tahan kekeringan.