Taman Kehati: Laboratorium Hidup di Sepanjang Aliran Sungai Pusur, Klaten, Jawa Tengah
Taman Kehati, Klaten merupakan wujud komitmen dalam menjaga kemurnian air dan ekosistem di wilayah operasional AQUA, khususnya di area hilir. Kawasan ini adalah area perlindungan keanekaragaman hayati alami seluas 4,6 hektar, dengan lebih dari 150 spesies dan populasi mencapai lebih dari 1.000 tanaman.
Selain berperan sebagai ruang hijau, Taman Kehati menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem. Yang terlihat mungkin hanya pepohonan dan vegetasi. Tapi di balik itu, ada sistem yang bekerja menjaga tanah tetap stabil, kelembapan tetap terjaga, dan siklus air tetap berjalan.
Di titik ini, apa yang sudah dijaga di bagian hulu dan tengah, terus dipertahankan agar tidak berubah.
Di atas lahan seluas 4,6 hektare, sebuah komitmen besar terhadap pelestarian alam terbentang nyata. Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) Klaten ini bukan sekadar ruang terbuka hijau, melainkan sebuah ekosistem terintegrasi yang menjadi bagian penting dari bentang alam Sungai Pusur.
Sebagai bagian dari program Integrated Water Resource Management (IWRM), Taman Kehati berperan sebagai penghubung antara wilayah hulu dan hilir. Lokasinya yang strategis menjadikannya benteng perlindungan keanekaragaman hayati sekaligus pusat pembelajaran bagi masyarakat.
Nanda Satya Nugraha, Koordinator Pengelola Taman Kehati menjelaskan bahwa kawasan ini memang dirancang sebagai bagian dari sistem penyangga kehidupan di DAS (Daerah Aliran Sungai) Pusur. “Taman Kehati ini menjadi ruang untuk menjaga keseimbangan ekosistem, sekaligus tempat belajar bagi masyarakat. Keanekaragaman hayati di sini berperan langsung dalam menjaga kondisi lingkungan, termasuk kualitas air yang bergantung pada ekosistem di sekitarnya,” ujarnya.
Rumah Sumber, Titik Pemantauan, dan Menjaga Karakter Alami Air
Di dalam Taman Kehati, terdapat Rumah Sumber, titik di mana air alami keluar dari akuifer dalam. Di sinilah pendekatan berubah. Dari yang sebelumnya berbasis alam dan komunitas, menjadi lebih presisi dan terkontrol.
Air yang keluar dijaga dengan proteksi ketat dan pemantauan berkala. Setiap perubahan kecil diperhatikan, karena bisa berdampak pada kualitasnya.
Arif Fadillah, Water Science Team menjelaskan bahwa proses ini sebenarnya sudah dimulai jauh sebelumnya. “Air hujan yang jatuh di pegunungan akan meresap ke dalam tanah dan tersaring secara alami oleh lapisan tanah, pasir, dan batuan. Dari situ, air berinteraksi dengan batuan dan membentuk mineral alaminya. AQUA diambil dari akuifer dalam, sekitar 60 sampai 140 meter di bawah permukaan, yang terlindungi oleh lapisan batuan sehingga kualitasnya tetap terjaga,” jelasnya. “Yang dijaga bukan hanya air, tapi juga karakter alaminya,” jelasnya lagi.
Arif menambahkan, Rumah Sumber menjadi titik awal pengelolaan air tersebut. “Terdapat 2 Rumah Sumber. Rumah Sumber 1 digunakan untuk produksi dengan sistem monitoring ketat, dan Rumah Sumber 2 untuk mendukung akses air bersih bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.
Membaca Air dengan Cara yang Berbeda
Yang menarik, menjaga kualitas air tidak selalu dilakukan dengan alat. Di Taman Kehati, ada metode yang lebih sederhana, yaitu membaca air melalui kehidupan di dalamnya. Metode ini dikenal sebagai Biotilik, dengan mengamati makhluk yang hidup di air sebagai indikator kondisi lingkungan.
Nanda menjelaskan, pendekatan ini memberi gambaran yang lebih utuh. “Kami melihat kualitas air bukan hanya dari parameter teknis, tapi juga dari makhluk hidup di dalamnya. Ketika organisme seperti capung dan larva lalat air masih bisa hidup, itu artinya kondisi airnya masih baik dan ekosistemnya terjaga. Hal ini dikarenakan kelompok mikroorganisme tersebut hanya hidup di lingkungan dengan oksigen tinggi dan minim pencemaran,” jelasnya.
Kehadiran kelompok EPT (Ephemeroptera, Plecoptera, dan Trichoptera) seperti larva capung dan lalat air menjadi indikator mutlak bahwa air sungai tersebut kaya oksigen dan minim pencemaran. "Sungai yang sehat punya ceritanya sendiri. Jika kita masih menemukan serangga EPT ini, artinya sungai kita masih bernapas dengan baik. Mereka adalah detektor alami yang tidak bisa berbohong soal kualitas air di lingkungan kita," tambah Pujo, salah satu pengelola kawasan Gunung Merapi yang turut mendampingi.
Sains di Balik Rasa "Adem"
Mengapa air mineral tertentu terasa lebih segar atau "adem" bahkan tanpa didinginkan? Jawabannya ada pada profil mineral yang diserap saat air melewati berbagai lapisan batuan geologi yang kompleks.
Standar yang diterapkan pun melampaui aturan pemerintah. Jika Permenkes menetapkan 50 parameter kualitas, standar internal untuk air mineral berkualitas ini mencapai 400 parameter. “Kami memastikan air bebas kontaminasi, tidak berwarna, tidak berbau, dan memiliki sensory spec atau profil rasa yang konsisten,” jelas Arif. Ciri termudah bagi orang awam adalah kejernihan dan rasa yang segar di lidah karena kandungan mineral alaminya.
Inovasi Hijau di Hilir: Pabrik yang "Memberi Kembali"
Komitmen ini bermuara di Pabrik Klaten, sebuah model industri hijau. Pabrik ini tidak hanya memproduksi air minum, tapi juga memproduksi energinya sendiri melalui PLTS Atap yang mampu mengurangi emisi karbon hingga 3.340 ton CO2 per tahun.
Proses produksi di pabrik Klaten merupakan perpaduan antara teknologi otomasi tingkat tinggi dengan standar keamanan pangan yang sangat ketat. Sebagai salah satu pabrik terbesar, efisiensi dan kecepatan menjadi kunci utama, namun tetap menjaga kemurnian air tanpa intervensi fisik manusia.
Semua bermula dari sumber air bawah tanah yang terpilih. Air dialirkan melalui pipa-pipa stainless steel food grade menuju area filtrasi. Melewati serangkaian filter untuk memastikan kejernihan dan kemurnian tanpa mengubah susunan mineral alaminya.
Alih-alih mendatangkan botol jadi yang memakan tempat dan berisiko terkontaminasi saat perjalanan, pabrik Klaten membuat botolnya sendiri di lokasi.
- Preform: Bahan mentah berupa "preform" (plastik kecil berbentuk seperti tabung reaksi) dipanaskan hingga lentur.
- Tiupan Udara: Di dalam mesin Blow Molding, preform tersebut ditiup dengan udara bertekanan tinggi ke dalam cetakan hingga membentuk botol yang kita kenal. Proses ini berlangsung dalam hitungan detik untuk ratusan botol sekaligus.
Setelah botol terbentuk, mereka bergerak sangat cepat di atas ban berjalan (conveyor) menuju ruang pengisian yang steril. Mesin pengisi (filler) bekerja secara otomatis. Dengan sensor presisi, air diisikan ke dalam botol dengan volume yang sangat akurat dalam waktu yang sangat singkat. Karena kecepatannya, kita hanya akan melihat deretan botol yang bergerak seperti kilat. Mesin laser akan mencetak kode produksi dan tanggal kedaluwarsa pada setiap botol dan kardus sebagai bentuk transparansi dan pelacakan produk.
Melalui gerakan #BijakBerplastik, inovasi dilakukan pada kemasan yang mengandung material daur ulang dan desain tanpa segel plastik tambahan untuk mengurangi limbah. “Operasional kami harus memberi kembali lebih banyak air daripada yang kami ambil. Kalau dari pemerintah saja hanya minta 15%, kita memberinya 50%. Jadi kita selalu berkomitmen untuk memberikan lebih. Karena ini bukan sekadar bisnis, ini adalah untuk kelestarian alam juga,” tegas Adisti Nirmala, Marketing Director AQUA saat menutup rangkaian kegiatan di Hari Kedua di pabrik Klaten, Selasa (05/05).
“Sekarang kita punya kampanye Dingin Alaminya Ademin Kamu, supaya mengingatkan oke adem itu sebenarnya memang karena ini lho berasal dari sumber yang komposisi mineralnya itu sangat lengkap dan memang kita jaga supaya konsisten gitu dan sehingga bisa membuat tubuh kita sehat karena kandungan mineralnya dan kita jadi feel adem gitu. Adem adalah tenang dan kita bisa menjadi best version of ourself dan bisa memiliki dampak yang baik untuk sekitar,” tegasnya lagi.
Ada satu pesan kuat yang dibawa pulang dari perjalanan ini: Air yang berkualitas hanya bisa lahir dari Bumi yang terjaga dan masyarakat yang berdaya. Saat kita memilih air yang tepat, kita sebenarnya sedang ikut mendukung rantai kebaikan yang menjaga napas Bumi tetap panjang.