Dari Timbangan Bicara hingga Pemberdayaan Komunitas: Kisah Nyata Perempuan Tangguh Menyulap Keterbatasan Menjadi Cuan lewat Teknologi
Sebuah timbangan digital khusus yang bisa mengeluarkan suara ("timbangan bicara") menjadi awal mula bangkitnya sebuah kemandirian. Di sudut dapur rumahnya, seorang perempuan penyandang disabilitas netra telah membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan bukan penghalang untuk menjadi produktif.
Bermula dari masa pandemi COVID-19 yang sempat mematikan mata pencahariannya sebagai trainer, ia menolak menyerah. Bermodalkan hadiah timbangan bicara dari seorang koki, ia mulai memproduksi chicken nugget rumahan secara mandiri.
Kini, usahanya tidak hanya menghidupi diri sendiri, tetapi juga berhasil memberdayakan sesama rekan disabilitas sebagai reseller dan mempekerjakan dua orang perempuan untuk membantu produksi. Mimpinya pun tak main-main: mendirikan gerai nugget fisik yang sepenuhnya inklusif membuka lapangan kerja bagi teman-teman disabilitas.
Kisah inspiratif lain datang dari lini mode pakaian. Berawal dari satu pengrajin perempuan di sebuah daerah yang memiliki keahlian anyaman tangan (handmade), sebuah kolaborasi bisnis lahir demi menciptakan pakaian multi-fungsi (one fit multiple). Kolaborasi ini berkembang pesat hingga berhasil merangkul tujuh orang pengrajin perempuan setempat, dengan target memberdayakan lebih dari sepuluh ibu rumah tangga dalam waktu dekat.
Kisah-kisah di atas hanyalah sebagian kecil dari potret ketangguhan masyarakat kita dalam memutar otak di tengah situasi ekonomi yang menantang. Fenomena ini sangat lekat dengan kehidupan anak muda zaman sekarang. Kita sering kali takjub melihat konten-konten kreatif yang wara-wiri di For You Page (FYP) media sosial. Kreativitas mereka begitu cair, menghibur, dan sering kali dicap netizen sebagai kemampuan "S3 hingga S10 Marketing" karena saking cerdiknya.
Uniknya, di balik layar, anak-anak muda ini adalah para pejuang tangguh. Banyak dari mereka yang terhimpit dalam sistem Sandwich Generation—harus menghidupi diri sendiri sekaligus menopang ekonomi keluarga. Mereka mungkin sering mengeluh, mengomel di media sosial, atau cemas menunggu tanggal gajian tiba setiap bulannya. Namun entah bagaimana, mereka selalu berhasil menemukan jalan keluar (figuring out).
Bahkan di tengah kantong yang menipis, mereka tetap punya formula ajaib untuk menjaga kesehatan mental: tetap bisa healing tipis-tipis dan membagikan momen estetik di Insta Story bersama sahabat tanpa harus membuat dompet jebol. Kemampuan adaptasi dan pengelolaan keuangan yang tak biasa inilah yang membuat mereka selalu bisa bertahan hidup (survive).
Dampak Nyata Penguatan Literasi dan Teknologi
Semangat juang dari para pelaku usaha akar rumput ini terbukti membuahkan hasil luar biasa ketika dipertemukan dengan pendampingan teknologi yang tepat.
Ya, program SisBerdaya dan DisBerdaya yang diinisiasi oleh DANA Indonesia dan Ant International terus menunjukkan dampak nyata bagi UMKM perempuan di Indonesia.
Berdasarkan evaluasi terhadap finalis periode 2023–2025, peserta mencatat rata-rata peningkatan pendapatan sebesar 113 persen dan pertumbuhan produksi sebesar 126 persen dalam enam bulan setelah mengikuti program.
Melanjutkan dampak tersebut, pada Selasa, 30 Juni 2026 di Jakarta, diumumkan 35 pemenang SisBerdaya dan DisBerdaya 2026 yang terpilih dari lebih dari 6.800 pendaftar dari seluruh Indonesia. Pemenang mendapatkan uang tunai dengan total ratusan juta rupiah untuk pengembangan usaha dan pemanfaatan teknologi.
Program pemberdayaan pelaku UMKM perempuan dan perempuan penyandang disabilitas tersebut berfokus pada pemanfaatan teknologi untuk memperkuat kapasitas usaha dan mendorong kesetaraan ekonomi. Seluruh pemenang dinilai berdasarkan potensi pengembangan usaha, pemanfaatan teknologi, serta dampak sosial-ekonomi yang dihasilkan bagi komunitas dan lingkungan sekitarnya.
CEO & Co-Founder DANA Indonesia, Vince Iswara, mengatakan, "Kami percaya teknologi dapat membuka lebih banyak peluang bagi perempuan untuk berkembang dan berdaya secara ekonomi. Melalui SisBerdaya dan DisBerdaya, kami ingin memastikan para pelaku UMKM tidak hanya sekadar memiliki akses terhadap teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara cakap dan produktif untuk mengembangkan bisnis mereka.”
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Irene Umar, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ekosistem UMKM nasional. “Kami mengapresiasi sekali DANA Indonesia yang telah menginisiasi dan konsisten dengan SisBerdaya & DisBerdaya. Semoga memberikan dampak, khususnya bagi perempuan & penyandang disabilitas. Saya mau mengucapkan selamat dan mengapresiasi kepada seluruh peserta dan pemenang. Pencapaian ibu-ibu hari ini adalah bukti bahwa semangat belajar, keberanian beradaptasi terhadap teknologi, kerja keras yang konsisten, usaha mikro bisa menjadi lebih besar, dan keterbatasan bisa jadi peluang,” ucapnya.
Tahun ini, program tersebut menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia, termasuk wilayah baru seperti Nusa Tenggara Barat, Maluku, hingga Sulawesi Tengah. Setelah melalui proses seleksi ketat dan berlapis, sebanyak 35 finalis mengikuti pelatihan dan pendampingan intensif yang mencakup pengembangan bisnis, pemanfaatan AI (Artificial Intelligence) untuk UMKM, hingga penguatan literasi keuangan untuk meningkatkan kesejahteraan finansial.
Di tahun 2026 ini, komitmen untuk memperluas dampak ekonomi inklusif terus berjalan. Dari total lebih dari 6.800 pendaftar di seluruh penjuru negeri, telah terpilih 35 pemenang apresiasi wirausaha perempuan. Jangkauan program pun semakin meluas hingga ke wilayah-wilayah baru seperti Nusa Tenggara Barat, Maluku, hingga Sulawesi Tengah.
Para pemenang ini tidak hanya mendapatkan modal tunai bernilai ratusan juta rupiah, tetapi juga dibekali pelatihan intensif mengenai literasi keuangan digital serta pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mendorong efisiensi bisnis skala mikro agar siap bersaing di pasar yang lebih luas.