ads

Pilah Sampah dari Rumah, Langkah Kecil Selamatkan Lingkungan dan Dukung Ekonomi Sirkular

Efa Trapulina - Rabu, 01 Juli 2026
Memanfaatkan momentum Hari Lingkungan Hidup Dunia 2026, ABC Indonesia dorong ekonomi sirkular melalui kolaborasi lintas sektor dan edukasi masyarakat tentang pentingnya memilah sampah sejak dari rumah (Foto: Efa)
Memanfaatkan momentum Hari Lingkungan Hidup Dunia 2026, ABC Indonesia dorong ekonomi sirkular melalui kolaborasi lintas sektor dan edukasi masyarakat tentang pentingnya memilah sampah sejak dari rumah (Foto: Efa)
A A A

Moms, sudahkah membiasakan anggota keluarga untuk memilah sampah yang ada di rumah? Bisa dimulai dari menyediakan beberapa tempat sampah sesuai jenis dan sifatnya. Ya, setiap hari tanpa disadari dapur dan rumah kita menghasilkan banyak sampah. Mulai dari botol plastik, kemasan saus, kardus, hingga kaleng bekas. Bagi banyak ibu, sampah mungkin hanya urusan yang harus segera dibuang. Tapi faktanya tidak sesederhana itu. Menumpuknya sampah di TPA (tempat pembuangan akhir) salah satunya adalah karena bercampurnya beragam sampah baik itu sampah basah, sampah kering, sampah bahan berbahaya ataupun residu. Padahal, jika dipilah sejak dari rumah, sampah justru menjadi bagian dari solusi menjaga lingkungan untuk masa depan anak-anak kita kelak.

Inilah yang menjadi pesan utama dalam acara diskusi Green Responsibility for Our World (GROW) Day 2026 bertema “Circular Economy in Action: Sinergi Kemitraan Multisektoral dalam Akselerasi Pengelolaan Sampah yang Berkelanjutan” yang digelar PT Heinz ABC Indonesia dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Dunia 2026, Selasa (30/6) di Jakarta.

Konsep yang diangkat adalah ekonomi sirkular, yaitu sistem yang menjaga agar suatu barang atau material tetap digunakan selama mungkin melalui pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang. Dengan cara ini, kemasan bekas tidak langsung berakhir di tempat pembuangan sampah, melainkan bisa diolah kembali menjadi bahan baku atau produk baru.

Bagi keluarga, praktik ekonomi sirkular sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Memilah sampah organik dan anorganik, mengumpulkan botol atau kemasan bekas ke bank sampah, hingga mengurangi penggunaan barang sekali pakai merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan dari rumah.

Menurut Agus Rusly, Direktur Ekonomi Sirkular dan Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup, perubahan besar memang harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari. “Indonesia terus memperkuat transformasi pengelolaan sampah dari pendekatan linear menuju ekonomi sirkular yang menempatkan sampah sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai. Keberhasilan agenda ini membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, industri, pelaku pengelolaan sampah, dan masyarakat agar target pengurangan sampah nasional dapat tercapai secara efektif dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Pemerintah sendiri telah mendorong keterlibatan produsen melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. Aturan ini menerapkan prinsip Extended Producer Responsibility (EPR), yakni produsen ikut bertanggung jawab terhadap pengelolaan kemasan setelah digunakan konsumen.

ABC Indonesia Dorong Ekonomi Sirkular melalui Kolaborasi Lintas Sektor
Para narasumber dalam acara Green Responsibility for Our World (GROW) Day 2026

Komitmen tersebut juga dijalankan ABC Indonesia melalui kemitraan dengan Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO), organisasi nirlaba yang membantu pengumpulan dan pemulihan kemasan pascakonsumsi agar dapat kembali masuk ke rantai daur ulang.

General Counsel and Head of Corporate Affairs PT Heinz ABC Indonesia, Mira Buanawati, mengajak masyarakat memulai perubahan dari kebiasaan sederhana seperti memilah sampah. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ekonomi sirkular tidak bisa dicapai sendirian. “Kami percaya bahwa pengelolaan sampah yang berkelanjutan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi lintas sektor untuk membangun sistem yang mampu mendorong lebih banyak material kembali ke rantai daur ulang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi lingkungan,” katanya.

Sementara itu, Reza Andreanto, General Manager IPRO, mengingatkan bahwa perjalanan sebuah kemasan belum selesai setelah isinya habis digunakan. “Semakin banyak kemasan yang berhasil dipulihkan, semakin berkurang pula beban kebocoran pengelolaan sampah yang terjadi pada lingkungan dan tempat pembuangan akhir,” tegasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, sampah yang akan didaur ulang sebaiknya dipilah dalam kondisi bersih, kering, dan tidak tercampur selama proses pengangkutan. Setelah itu, material dipilih kembali berdasarkan jenisnya, seperti plastik, kertas, kaca dan kaleng. “Material daur ulang dapat dikumpulkan melalui bank sampah, TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah dengan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle), lapak, maupun pengepul sebelum dikirim ke pabrik daur ulang. Di sana, kemasan dapat diolah menjadi bahan baku baru, bahkan kembali menjadi berbagai produk yang bermanfaat,” jelas Reza.

Contoh hasil daur ulang sampah
Contoh hasil daur ulang sampah

Tak hanya berdampak pada lingkungan, pengelolaan sampah yang baik juga membuka peluang ekonomi. Andriansyah, Founder Kita Olah Indonesia mengatakan, “Collection for recycling bukan hanya tentang mengumpulkan material yang dapat didaur ulang. Program ini juga menciptakan peluang ekonomi bagi komunitas pengelola sampah, pengepul, dan mitra daur ulang,” ujarnya.

Pesan serupa disampaikan Lestri Fajrinia, Head of Research and Development PT Heinz ABC Indonesia. Menurutnya, perubahan tidak cukup hanya melalui kampanye. “Yang ingin kita bangun bukan hanya komunikasi melalui kata-kata, tetapi juga komunikasi melalui fakta dan bukti nyata,” ujarnya. Menurut Lestri, setiap orang bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkannya. “Agar material tersebut dapat kembali dimanfaatkan dan tidak menjadi beban lingkungan, diperlukan gerakan dari kita sendiri. Jika kesadaran individu tidak terbangun, makan upaya pengelolaan sampah juga tidak berjalan dengan baik,” katanya.

Karena itu, kesadaran untuk memilah sampah sejak dari rumah menjadi langkah sederhana yang dapat membawa perubahan besar jika dilakukan secara konsisten.

Bagi para orang tua, pesan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan lingkungan tidak selalu dimulai dari sekolah. Anak-anak justru belajar dari kebiasaan yang mereka lihat di rumah. Mengajak mereka memilah sampah, membawa wadah pakai ulang, atau mengumpulkan kemasan ke bank sampah adalah cara sederhana untuk menanamkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Dari Timbangan Bicara hingga Pemberdayaan Komunitas: Kisah Nyata Perempuan Tangguh Menyulap Keterbatasan Menjadi Cuan lewat Teknologi
img
Pilah Sampah dari Rumah, Langkah Kecil Selamatkan Lingkungan dan Dukung Ekonomi Sirkular
img
Dilengkapi Fitur Pemantauan, Komunikasi, dan Keamanan, Kini Remaja dapat Bepergian Lebih Aman dan Orang Tua Lebih Tenang
img
Cara Sederhana Ciptakan Momen Kumpul Keluarga yang Berkesan dan Penuh Tawa