ads

Dorong Remisi Diabetes dengan Gaya Hidup Sehat Melalui Beat Diabetes 2026

Efa Trapulina - Selasa, 14 April 2026
Wellness Session: Senam Kebajikan Lien Tien Kung dalam acara puncak Beat Diabetes 2026 yang digelar oleh Tropicana Slim di Park Tower Jakarta (Foto: Ist)
Wellness Session: Senam Kebajikan Lien Tien Kung dalam acara puncak Beat Diabetes 2026 yang digelar oleh Tropicana Slim di Park Tower Jakarta (Foto: Ist)
A A A

Pernah merasa sudah makan tapi beberapa saat kemudian masih sering merasa lapar, lemas, atau malah ingin ngemil manis terus? Banyak Moms mungkin mengira ini hal biasa, padahal bisa jadi itu sinyal tubuh yang perlu diperhatikan, terutama terkait gula darah.

Di tengah gaya hidup serba cepat dan pilihan makanan yang semakin beragam, kesadaran tentang diabetes menjadi semakin penting. Bukan hanya untuk orang tua, tapi juga untuk keluarga secara keseluruhan, bahkan anak-anak yang kini semakin rentan terserang akibat pola makan tinggi gula dan kurang aktivitas.

Hal inilah yang mendorong Tropicana Slim kembali menghadirkan kampanye tahunan Beat Diabetes 2026 di 35 kota di Indonesia dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Dunia. Tujuannya tak lain untuk mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran terhadap diabetes, sekaligus memahami peluang remisi diabetes melalui perubahan gaya hidup yang lebih sehat dan konsisten.

Remisi Diabetes, Apa Artinya?

Masih banyak yang mengira diabetes adalah kondisi seumur hidup yang tidak bisa “dikendalikan” tanpa obat. Padahal, menurut dr. Rudy Kurniawan, Sp.PD, MM, MARS, Dip.SN, FINASIM, FRSPH, IDF-F, Founder Komunitas Sobat Diabet, remisi diabetes adalah kondisi ketika gula darah kembali terkontrol tanpa obat setidaknya selama tiga bulan.

Kuncinya bukan pada satu hal saja, melainkan kombinasi gaya hidup sehat seperti: pola makan seimbang dengan porsi terkontrol, olahraga rutin, istirahat cukup dan menghindari kebiasaan buruk seperti merokok dan terlalu banyak duduk (kurang bergerak).

“Keberhasilan program remisi diabetes dapat diprediksi dari sejumlah faktor, seperti usia, penurunan berat badan, lama diagnosis, perubahan pola makan, serta tingkat aktivitas fisik,” ujar dr. Rudy saat ditemui dalam puncak acara kampanye Beat Diabetes 2026 yang mengusung tema “Beat Diabetes, Kejar Remisi” yang digelar di Park Tower, Jakarta (12/4).

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan nutrisi yang menyeluruh bagi diabetesi. “Pola makan seimbang dengan porsi terkontrol sangat penting. Asupan serat membantu menurunkan lonjakan gula darah, sementara bahan alami seperti Habbatussauda terbukti membantu menurunkan gula darah puasa dan HbA1c pada penderita diabetes tipe 2. Mikronutrisi, seperti Chromium dan Biotin, dapat mendukung kontrol glikemik serta meningkatkan efektivitas obat diabetes. Selain itu, asupan protein perlu dicukupi untuk menjaga massa otot dan memberikan rasa kenyang lebih lama, sehingga kalori tetap terkendali dan penurunan berat badan dapat tercapai untuk mendukung remisi,” jelas dr. Rudy.

Lebih lanjut, dr. Rudy juga mengingatkan bahwa yang paling berbahaya justru bukan orang yang belum tahu dirinya diabetes, melainkan yang sudah tahu tetapi menyangkal. Dalam kondisi ini, seseorang cenderung mengabaikan pola hidup sehat, padahal diabetes di tahap awal sering tidak bergejala. Saat gejala muncul, sering kali sudah terlambat.

Makan Seimbang

Sebagai orang tua, kita sering berusaha memilih yang terbaik untuk keluarga. Tapi ternyata, tidak semua yang terlihat alami berarti aman. Contoh sederhana adalah air tebu. “Banyak yang menganggapnya sehat karena alami, padahal kandungan gulanya tinggi dan bisa memicu lonjakan gula darah,” imbuh dr. Rudy.

Di sinilah pentingnya memahami konsep makan seimbang. Bukan sekadar menghindari gula, tapi juga memastikan asupan serat, protein, dan nutrisi lain terpenuhi. Menurut dr. Rudy, serat berperan membantu menekan lonjakan gula darah setelah makan. Protein juga tak kalah penting karena membantu menjaga massa otot dan memberi rasa kenyang lebih lama—sehingga kita tidak mudah tergoda ngemil berlebihan.

Tak hanya itu, aktivitas fisik atau olahraga sangat besar perannya. “Otot memiliki peran besar dalam membantu tubuh menggunakan gula darah dengan lebih efektif. Semakin baik massa otot, semakin baik pula sensitivitas insulin. Karena itu, olahraga tidak cukup hanya jalan santai atau lari. Idealnya, dilakukan sekitar 150 menit per minggu, dibagi dalam beberapa sesi, termasuk latihan beban setidaknya dua kali seminggu. Dengan otot yang terjaga, tubuh lebih mampu mengendalikan kenaikan gula darah setelah makan,” katanya.

Diabetes Kini Menyerang Usia Lebih Muda

Yang perlu menjadi perhatian para Moms, tren diabetes kini semakin bergeser ke usia muda. Jika dulu identik dengan usia di atas 50 tahun, kini kasus pada usia 30 bahkan 20 tahun semakin banyak ditemukan. Generasi seperti Gen Z dan Gen Alpha juga menjadi kelompok yang berisiko, terutama karena: konsumsi gula yang tinggi, gaya hidup minim gerak, dan paparan informasi kesehatan yang belum tentu benar. Ditambah lagi, edukasi tentang nutrisi dan diabetes belum banyak diajarkan secara formal, sehingga anak-anak sering belajar dari lingkungan atau media sosial yang belum tentu akurat.

(ki-ka) Noviana
(ki-ka) Noviana Halim, dr. Rudy Kurniawan, Sp.PD, Lilla Syifa dan Host acara Beat Diabetes 2026

Rangkaian kegiatan Road to Beat Diabetes 2026 sendiri telah berlangsung sejak awal tahun melalui edukasi kesehatan di berbagai komunitas. Puncak kegiatan Beat Diabetes 2026 melibatkan masyarakat dan komunitas kesehatan melalui berbagai aktivitas yang mendorong gaya hidup sehat, mulai dari cek gula darah gratis, olahraga bersama, sesi edukasi kesehatan bersama dokter.

Noviana Halim, Brand Manager Tropicana Slim, mengatakan bahwa kampanye tahun ini menekankan pesan bahwa diabetes bukanlah akhir dari segalanya. “Kampanye Beat Diabetes 2026 merupakan bagian dari komitmen kami untuk mengedukasi masyarakat bahwa pengelolaan diabetes perlu menitikberatkan perubahan gaya hidup. Dengan pengelolaan yang tepat dan konsisten, diabetes, khususnya tipe 2, dapat mencapai kondisi remisi, yaitu saat kadar gula kembali ke batas normal dan dapat dipertahankan selama minimal 3 bulan tanpa mengonsumsi obat, selama pola hidup sehat dijaga secara konsisten,” ujar Noviana.

Melalui event Beat Diabetes 2026, mereka juga sekaligus sekaligus mengenalkan inovasi terbarunya yakni Tropicana Slim Diabtx Milk, susu yang mengandung protein tinggi (9g) dan serat multifiber untuk membantu rasa kenyang lebih lama dan menekan lonjakan gula darah. “Susu ini dilengkapi Habbatussauda, Chromium 100% AKG, Omega-3, serta tanpa tambahan gula pasir dan rendah lemak, sehingga nutrisinya lengkap dengan kalori yang tetap terkontrol,” jelas Noviana.

Pada kesempatan yang sama, Lilla Syifa, seorang pejuang remisi diabetes, turut berbagi pengalamannya, “Tantangan terberat bagi saya adalah menghadapi godaan ngemil dan lapar mata di siang hari, terutama saat melihat makanan manis. Namun, berdasarkan pengalaman pribadi, kunci utamanya terletak pada apa yang saya konsumsi di pagi hari. Jika kita memulai hari dengan sarapan bernutrisi tepat dan gula darah terkontrol, biasanya lebih mudah menahan godaan sepanjang hari. Badan tidak mudah lemas atau craving makanan manis,” ucap Lilla.

 “Melawan diabetes adalah perjalanan bersama. Kami ingin mengajak masyarakat untuk tidak menyerah, tetap bergerak, dan percaya bahwa perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membawa dampak besar,” tutup Noviana.

Yuk, Moms, mulai sekarang kita jalankan pola hidup sehat. Memilih sarapan yang tepat, rutin bergerak, dan lebih bijak dalam memilih makanan bisa menjadi awal penting —bukan hanya untuk Moms, tapi juga untuk seluruh keluarga.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Dorong Remisi Diabetes dengan Gaya Hidup Sehat Melalui Beat Diabetes 2026
img
Peluang Sembuh Total bagi Pasien Kanker Ginjal Kini Semakin Terbuka
img
Jangan Dilewatkan! Inilah Manfaat Melakukan Pemeriksaan Kesehatan
img
Fakta di Balik Tren, Mengapa Hidup Sehat Tak Bisa Sekadar Ikut-ikutan?