IQ Anak Turun karena Kurang Zat Besi? Bukan Nakut-nakutin, Tapi Moms Wajib Tahu Ini!
Moms, pernah nggak sih merasa sudah kasih MPASI (Makanan Pendamping ASI) paling bergizi, tapi kok si Kecil rasanya kurang fokus, gampang lemes, atau bahkan susah makan? Kadang kita sebagai ibu baru sering overthinking, "Apa ada yang salah, ya?"
Nah, baru-baru ini Combiphar lewat brand Maltofer meluncurkan kampanye #ZatBesiPasBekerjaCerdas. Ternyata, urusan zat besi itu bukan cuma soal "biar nggak pucat" atau anemia saja, Moms. Ini berkaitan langsung dengan investasi masa depan: Kecerdasan Otak!
Ya, memasuki usia ke-55 tahun, mereka terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan solusi kesehatan yang relevan bagi masyarakat Indonesia melalui semangat #SehatkanKiniMenangkanEsok. Mereka secara konsisten berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, termasuk dalam menjawab tantangan kesehatan yang masih banyak dihadapi, seperti kekurangan zat besi di berbagai kelompok usia.
Prevalensi anemia di Indonesia masih tergolong cukup tinggi. Berdasarkan Survey Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi anemia tercatat pada anak usia 0-4 tahun 23,8%, 5-14 tahun 16,3%, dan pada perempuan secara keseluruhan 18,0% (SKI 2023) .
Pada Ibu Hamil, secara global WHO mencatat kasus anemia sekitar 37% . Sebagian besar kasus anemia disebabkan karena kekurangan zat besi. Kondisi ini menunjukkan bahwa kekurangan zat besi masih menjadi tantangan kesehatan yang berdampak pada fungsi kognitif, kemampuan belajar, serta potensi tumbuh kembang jika tidak ditangani dengan tepat.
“Kami ingin mendorong masyarakat untuk lebih memahami pentingnya pemenuhan zat besi secara tepat di setiap tahap kehidupan. Maltofer sendiri telah dikenal luas melalui rekomendasi tenaga kesehatan, dan sebagai obat bebas, dapat diakses dengan lebih mudah oleh masyarakat untuk membantu menangani kekurangan zat besi, baik dengan maupun tanpa anemia. Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk terus menghadirkan solusi kesehatan yang relevan dan berdampak bagi masyarakat Indonesia,” jelas Weitarsa Hendarto, Direktur PT Combiphar pada Selasa, 14 April 2026 di Jakarta.
Ditambahkan Debi Widianti, selaku Senior General Manager Marketing, “Produk ini hadir sebagai solusi suplementasi zat besi yang dipercaya selama lebih dari 60 tahun di dunia dan menjadi pemimpin pasar di kategori suplementasi oral dalam format cair di segmen anak, serta dipercaya oleh tenaga kesehatan, sehingga memberikan keyakinan lebih bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan zat besi di berbagai tahap kehidupan, termasuk dalam mendukung tumbuh kembang anak.”
Fakta yang Bikin "Jleb": IQ Bisa Turun!
Tahu nggak, Moms? Menurut dr. Lucky Yogasatria Sp.A, Dokter Spesialis Anak dan Konselor Laktasi, kekurangan zat besi bisa menurunkan IQ anak sampai 18 poin. Serem, kan? Apalagi 80% otak anak itu terbentuk di 2 tahun pertama kehidupannya (1000 Hari Pertama Kehidupan/HPK).
Zat besi itu ibarat "bahan bakar" buat membentuk mielin atau kabel-kabel saraf di otak. Kalau kabelnya nggak terbentuk sempurna karena kurang zat besi, dampaknya ke mana-mana: anak telat bicara, telat jalan, sampai daya ingat yang kurang oke saat sekolah nanti.
Jangan Tunggu Sampai Pucat!
Banyak dari kita berpikir, "Anakku nggak pucat kok, berarti aman." Padahal, dikatakan dr. Lucky, pucat itu adalah tahap terakhir. Kalau sudah pucat, itu tandanya cadangan zat besi sudah benar-benar habis alias sudah darurat.
Kapan harus mulai waspada?
- Sejak Hamil: Kalau Moms anemia saat hamil, si Kecil lahir dengan cadangan zat besi yang rendah.
- Usia 4 Bulan: Cadangan zat besi alami bayi mulai menipis, oleh karena itu IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) merekomendasikan suplementasi mulai usia 4 bulan sampai minimal 2 tahun.
- Remaja dan Dewasa: Apalagi buat kita yang aktif dan sering begadang, zat besi penting sekali untuk konsentrasi kerja.
Kenapa Harus Pilih-Pilih Suplemen Zat Besi?
Jujur ya Moms, kadang kita malas kasih suplemen zat besi ke anak karena efek sampingnya: bikin sembelit (konstipasi), mual, atau rasanya yang besi banget sampai anak trauma.
Nah, pilih suplemen yang punya teknologi IPC (Iron Polymaltose Complex). Apa sih bedanya dengan suplemen zat besi biasa?
- Pelemparan Terkendali: Zat besinya hanya diserap sesuai kebutuhan tubuh. Jadi nggak bakal "numpuk" yang bikin risiko buat liver.
- Ramah di Perut: Minim drama konstipasi, mual, atau muntah.
- Praktis dan Enak: Ini nih favorit kita! Bisa diminum bareng makanan, susu, atau teh tanpa ganggu penyerapan. Rasanya pun enak (seperti cokelat atau creamy), jadi nggak perlu pakai drama kejar-kejaran sama anak.
- Varian Lengkap: Ada tetes untuk bayi, sirup untuk balita dan anak-anak, tablet kunyah untuk remaja sampai dewasa, serta ada yang khusus untuk Ibu Hamil dan Ibu Menyusui karena ada tambahan Asam Folatnya.
Jadi, yuk Moms, kita lebih aware lagi. Sehat sekarang itu penting, tapi memastikan si Kecil punya bekal kognitif yang oke buat "Menangkan Esok" itu jauh lebih krusial. Karena anak yang cerdas berawal dari pemenuhan nutrisi (zat besi) yang pas.